
Laila pun akhirnya bisa tersenyum dengan lega, ternyata Mama Ida sangat baik kepadanya. Ia pun spontan mencium tangan Mama Ida. Laila masih tampak kikuk, karena bagaimanapun juga ia baru pertama kali bertemu dengan Mama Ida.
"Fajar, sering sekali bercerita tentang dirimu, tidak ada hari tanpa cerita tentang kamu, Laila! Ya Allah, Mama nggak nyangka bisa bertemu denganmu di sini! Kamu menantu Mama sekarang!" Mama Ida tampak kegirangan dan membuat Laila membulatkan matanya.
"Ma-maksud Anda?" Laila pun bingung dengan ucapan Mama Ida yang langsung mengklaim dirinya sebagai menantunya.
Melihat Laila yang tampak bingung, Fajar pun berkata, "Kamu tidak perlu kaget seperti itu, aku dulu pernah berjanji kepada Mama untuk membawamu pulang ke rumah ini sebagai ... menantu Mama. Mama sudah lama ingin menjadikanmu sebagai menantunya."
"Fajar benar, dan sekarang Mama sudah bisa tersenyum bahagia, akhirnya Allah mengabulkan doa Mama, Mama ingin sekali memiliki menantu seperti kamu, Laila. Dari dulu Mama sudah bilang sama Fajar, lebih baik pilih adiknya daripada kakaknya. Dia masih bandel tetap pilih Kakaknya, dan nyatanya sekarang apa? Hubungan mereka kandas, bukan! Itu kalau nggak nurut sama orang tua," sahut Mama Ida sambil menjewer telinga sang anak.
"Aduh aduh, sakit Ma! Itukan dulu, Ma! Anggap aja dulu Fajar khilaf, Fajar terpesona penampilan luar seseorang, padahal ada sesuatu yang lebih mempesona daripada segalanya, dan Fajar sudah menyadari hal itu." Fajar berkata sembari menatap wajah Laila yang tampak tersipu malu.
"Saya meminta maaf kepada Nyonya ...!" belum selesai Laila melanjutkan kata-katanya, Mama Ida langsung menyela, "Jangan panggil aku dengan Nyonya. Panggil aku Mama, karena mulai hari ini kamu adalah menantu Mama."
"Ta-tapi saya belum menikah dengan Mas Fajar!" sahut Laila yang merasa tidak enak langsung memanggil Mama Ida dengan sebutan Mama.
"Ya harus segera dilakukan. Fajar! Kamu persiapkan pernikahan kalian secepatnya, Mama tidak mau tahu, pokoknya bulan depan Mama harus mendengar kabar jika Laila sudah mengandung, Mama tidak suka terlalu lama menunggu, mengerti kamu!" sahut Mama Ida yang tentu saja membuat Laila maupun Fajar tercengang.
__ADS_1
"Ya nggak harus secepat itu dong, Ma! Semuanya kan butuh proses, bulan depan Laila harus hamil? Aduh kenapa Mama ngasih tugas berat banget sih kali ini, nikah aja belum, masa secepatnya bulan depan Laila hamil? Mama ini ada-ada saja!" protes Fajar.
"Makanya itu kamu harus segera mempersiapkan semuanya, biar Mama nggak ditanya terus sama teman-teman Mama. Kapan punya cucu, kapan Fajar nikah? Mama pusing harus jawab apa,"
"Iya sih, tapi kan nggak harus secepat itu, belum tentu Laila mau hamil secepatnya," ucap Fajar sambil garuk-garuk tengkuknya.
Laila pun tersenyum paksa mendengar alasan Fajar. Kemudian Mama Ida pun mendekati Laila dan merayu gadis itu.
"Kamu mau ya, Nak! mau ya? Demi Mama, lebih cepat lebih baik, nggak usah ditunda." Mendengar rayuan dari Mama Ida, Laila pun hanya bisa tersenyum malu-malu.
"Aduhhh! Gimana ya, Ma. Itu juga tergantung sama Mas Fajar, Laila sih Inshallah tidak akan pernah menundanya, lagian Laila dan Mas Fajar belum nikah, Ma." Balas Laila yang terlihat semakin gugup dan salah tingkah.
Di saat yang bersamaan, Mama Ida baru menyadari jika telapak tangan Fajar terluka, wanita paruh baya itu pun meraih tangan sang anak dan ia terlihat begitu khawatir.
"Ya Allah Fajar, tanganmu kenapa, Nak? Kamu terluka?" tanya Mama Ida yang tampak panik melihat luka pada tangan sang anak.
"Em ... ini ceritanya panjang, Ma!"
__ADS_1
Kemudian Fajar menceritakan semuanya kepada Mama Ida tentang kejadian yang baru saja menimpa Laila. Wanita itu terlihat menggelengkan kepalanya saat mendengar Fajar menceritakan semuanya. Hingga akhirnya, sebuah kalimat terucap dari bibir Mama Ida.
"Kalau begitu, secepatnya kamu halalkan Laila, Mama tidak mau tahu. Mama tidak ingin laki-laki bajingan itu melukai menantu Mama, kamu harus melindungi Laila, Fajar! Jika saja hari ini bisa, aku ingin kalian bisa menikah secepatnya hari ini juga!" ucapan Mama Ida seketika membuat Asisten Joko dan Bibi menjawab ucapan Mama Ida secara bersamaan.
"Setuju!"
Laila dan Fajar hanya bisa membulatkan matanya ketika semuanya menyetujui kata Mama Ida.
"Saya sangat setuju, Nyonya! Hari ini saat ini juga kita bisa menikahkan Pak Fajar dan Mbak Laila, tinggal saya telepon seseorang kenalan saya yang berprofesi sebagai penghulu untuk menikahkan Pak Fajar dan Mbak Laila secara agama, nanti jika dokumen untuk surat nikah lengkap dan sudah selesai, mereka bisa melakukan ijab Kabul ulang. Sementara saat ini biar mereka berstatus sebagai suami istri dulu, meskipun secara agama, toh pada akhirnya mereka sudah sah!" ungkap Asisten Joko yang pastinya Fajar tampak melototkan matanya ke arah sang asisten. Sementara Mama Ida sangat menyetujuinya.
"Itu sangat benar, Pak Joko tidak salah sama sekali." Mama Ida pun sangat senang dengan usul dari asisten pribadi putranya.
"Pak Joko apa-apaan sih, kok malah setuju dengan ucapan Mama, nggak ada nggak ada, hari ini nggak ada penghulu. Pak Joko tahu sendiri, tangan kanan saya sedang terluka, nggak bisa buat salaman!" protes Fajar sambil menunjukkan luka di tangannya.
"Oh itu Pak Fajar tidak perlu cemas, saya sudah panggilkan dokter ke rumah, sebentar lagi dokternya akan datang dan mengobati luka di tangan Bapak. Jadi, Pak Fajar tidak akan masalah menjabat tangan pak penghulu. Lagipula nih Pak, nggak baik bawa anak gadis orang pulang ke rumah, Pak Fajar nggak kasihan, Mbak Laila tidur sendirian di kamar tamu, ya mending sekalian pak Fajar jagain tuh Mbak Laila di kamar Bapak sendiri. Mantul, kan?" ucapan asisten Joko sangat disetujui oleh Mama Ida dan Bibi.
"Ya udah, Pak Joko. Cepetan telepon teman bapak itu, suruh datang secepatnya. Pak Joko urus semuanya, ya? Dan Bibi buatkan jamuan yang istimewa untuk malam ini. Saya yang akan mengurus Laila. Ayo, Nak! Ikut Mama ke atas!" sahut Mama Ida sembari menggandeng tangan Laila untuk ikut dengannya. Pak Joko dan Bibi langsung melaksanakan perintah Mama Ida. Sedangkan Fajar tampak bingung dengan permintaan konyol sang Ibu.
__ADS_1
"Loh, loh apa-apaan ini ya Allah! Aduh Mama, kenapa Mama seneng sekali sih lihat Fajar pusing tujuh keliling, menikah dengan Laila sekarang? Astaghfirullah, mimpi apa aku semalam, bukannya aku tidak siap menikah dengan Laila. Tapi, aku masih belum siap ditemani tidur oleh Laila. Pasti nggak bakalan bisa tidur semalaman," ucap Fajar yang tak sadar jika ia melengkungkan senyumnya.
...BERSAMBUNG ...