Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Pesan terakhir


__ADS_3

Setelah petugas medis membawa jenazah Ratna pergi. Wanita yang selama ini sudah menjaga Ratna mendekati Laila dan Fajar. Bu Munah, wanita itu tampak ingin memberikan sesuatu kepada Laila. Sepucuk surat yang ditulis oleh Ratna sehari sebelum wanita itu pergi untuk selamanya.


"Permisi Mbak Laila, saya Bi Munah. Selama ini Bu Ratna tinggal bersama saya di kota ini. Setelah almarhum menjual rumahnya untuk pengobatan, saya mengajak Bu Laila untuk tinggal bersama saya karena saya khawatir dengan keadaannya yang bertambah parah. Dan ini adalah sepucuk surat dari Bu Ratna untuk Mbak Laila. Kemarin almarhum menulis ini untuk adiknya dan menyuruh saya untuk menyerahkan surat ini kepada Mbak Laila. Mohon diterima!" ucap Bi Munah sambil menyerahkan secarik kertas berwarna putih.


Laila menerima surat itu, meskipun ia masih teramat sedih setidaknya Laila akan membaca pesan terakhir dari sang kakak.


"Terima kasih, Bi!" jawabnya.


Laila dengan tangan yang masih gemetaran, ia pun membaca pesan terakhir dari sang kakak.


Assalamualaikum, Adikku. Mungkin ini adalah kesempatanku terakhirku untuk bisa menyampaikan sesuatu kepadamu. Maafkan segala kesalahan Mbak selama ini. Mbak akui jika Mbak sudah sangat bersalah padamu. Allah sudah menghukum Mbak sekarang. Rasa sakit ini mungkin tidak sebanding dengan rasa sakit hatimu saat Mbak memfitnah kamu. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang benar-benar menyayangimu. Mbak sudah mengikhlaskan hidup mati Mbak hanya kepada Nya. Jangan bersedih jika setelah kamu membaca surat ini Mbak sudah tidak ada lagi di dunia ini. Tapi percayalah Mbak sudah bahagia bisa terbebas dari rasa sakit yang benar-benar sudah Allah berikan kepada Mbak. Pasti ada hikmah di setiap kejadian. Selamat tinggal Laila. Allah pasti akan menjagamu di luar sana, pasti ada laki-laki yang sangat baik yang akan mencintaimu sepenuh hati. Mbak pamit ... Assalamualaikum warahmatullah. Mbak Ratna.


Laila merremas kertas itu. Kata-kata terakhir dari sang kakak sebelum dirinya menutup mata untuk selamanya.


Fajar lagi-lagi harus bisa menguatkan sang istri, kali ini Laila dihadapkan dengan musibah yang benar-benar membuat hatinya terluka. Belum sampai meminta maaf untuk yang terakhir kalinya kepada Ratna. Ia sudah ditinggal terlebih dahulu dan meminta maaf lewat secarik kertas yang diberikannya kepada Bi Munah.

__ADS_1


*


*


*


Proses pemakaman pun segera dilakukan agar Ratna bisa segera beristirahat dengan tenang. Kini, tak ada lagi air mata yang membasahi wajah Laila. Hatinya sudah benar-benar kuat menerima takdir Allah yang tiba-tiba datang begitu saja.


Kini, Ratna sudah bisa beristirahat dengan tenang. Tanah yang masih basah dan dihiasi bunga-bunga segar itu adalah tempat tinggal terakhir Ratna. Bukan cuma Ratna saja, semua makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Hanya saja waktunya tidak sama karena kematian adalah sudah menjadi rahasia Allah SWT.


500 juta Fajar menebusnya. Mungkin memang terkesan bukan seperti rumah mewah. Tapi di dalamnya ada kenangan Laila bersama kedua orang tuanya dan juga almarhum Ratna.


"Terima kasih banyak, Mas. Kamu sudah banyak melakukan hal untukku. Rumah ini adalah kenangan terakhir dari orang-orang yang aku sayangi. Aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa membalas semua kebaikanmu untukku. Rasanya aku tidak bisa." Laila menundukkan wajahnya dan terlihat begitu terharu.


"Hei, kamu pikir aku ini siapa? Aku bukan orang lain, Sayang. Aku suamimu. Apapun yang membuat bahagia istriku, pasti aku berikan. Jangan pernah berpikir balas budi. Kamu menjadi ibu dari anak-anakku saja itu sudah cukup. Aku tidak meminta lebih, jadilah ibu yang baik untuk anak-anak kita, karena aku yakin kalau kamu adalah calon bidadariku nanti di surga. Inshallah!" Fajar memeluk istrinya begitu mesra sambil mengusap perut Laila yang semakin hari semakin besar.

__ADS_1


*


*


*


Sementara di tempat lain. Seorang pria yang saat itu sedang berada di dalam sel tahanan. Terlihat sangat berbeda sekali dari saat pertama ia masuk penjara. Iya, Agung. Pria itu rupanya sudah sangat berubah, dari segi penampilan hingga caranya bertutur kata.


Agung bukanlah Agung yang dulu. Kehidupan di dalam penjara membuat pria itu sadar. Taubatan nasuhah yang sedang Agung alami sekarang. Ia banyak sekali mengalami kejadian yang akhirnya bisa membuka pintu hidayah dalam hatinya. Berawal dari mimpinya yang pernah melihat api neraka, dan ia melihat bagaimana para pendosa disiksa sedemikian rupa oleh Allah SWT.


Dari situlah, Agung mulai terbuka matanya lebar-lebar. Agung beristighfar, ia ingin memperbaiki hidupnya. Ia ingin menjadi manusia yang berguna. Tidak ada manusia satupun yang sempurna di dunia ini. Setiap manusia pasti memiliki dosa. Lebih baik bertaubat dan memperbaiki diri daripada merasa diri paling benar dan seolah-olah dirinya paling banyak beribadah.


"Ya Allah, semoga aku selalu Istiqomah dengan jalanku ini, ridhoilah setiap langkahku di jalan kebenaran, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi."


Agung kini terlihat lebih alim dan sopan. Ia selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta, di setiap waktunya ia gunakan untuk berdzikir, memohon kepada Allah SWT untuk diberikan pengampunan.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2