Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Pingsan


__ADS_3

Sejak terbongkarnya pernikahan antara Fajar dan Laila, kini suasana kantor menjadi aman dan tidak ada lagi kegaduhan dari para karyawannya, semua kegiatan kantor menjadi lancar dan kondusif, Laila masih setia membantu sang suami untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum Fajar menemukan sekretaris baru pengganti istrinya.


Waktu terus berjalan, malam berganti siang, dan siang pun berlalu bagai mimpi. Resepsi pernikahan Fajar dan Laila pun digelar secara besar-besaran. Tentu saja banyak kolega bisnis Fajar yang diundang, dari tamu lokal hingga luar negeri.


Pernikahan itu tentu saja sangat dinantikan oleh mereka berdua, setelah hampir satu bulan mereka menunggu dokumen mereka untuk surat nikah selesai dibuat, Fajar kembali mengulang ijab kabul untuk meresmikan pernikahan mereka secara legal.


Bahagia, tentu saja itu yang dirasakan oleh Laila, hanya saja kebahagiaannya tidak lengkap tanpa kehadiran sang kakak. Ratna entah pergi kemana, wanita itu menjual rumah yang pernah mereka tempati bersama. Fajar sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencari informasi tentang Ratna, dan mereka menemukan fakta jika Ratna sudah pergi dari rumah itu.


Ratna menjual rumah itu kepada seseorang dengan harga sangat murah 200 juta, karena menurut pemilik baru Ratna sangat membutuhkan uang itu untuk mengobati penyakitnya yang semakin hari semakin memburuk.


*


*

__ADS_1


*


"Kenapa kamu bersedih?" Fajar melihat wajah sang istri yang tampak gelisah. Laila duduk sambil menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami. Setelah seharian mereka menemui para tamu undangan.


"Aku memikirkan Mbak Ratna, Mas! Bagaimana keadaannya sekarang, dia tinggal bersama siapa, Mbak Ratna pasti sangat kesepian," Laila tidak bisa membendung air matanya, apalagi dia tahu sang kakak sedang sakit.


Fajar memeluk sang istri, melihat istrinya bersedih tentu saja membuat Fajar sangat terluka.


"Kamu jangan bersedih, Sayang! Aku tidak mau melihat wajahmu murung, aku sudah menyuruh orang-orang untuk mencari keberadaan Ratna, tapi sampai saat ini Ratna masih belum diketahui ada di mana, kamu yang sabar. Insyaallah jika Allah mengizinkan kita pasti akan dipertemukan lagi dengan Ratna," Fajar terus berusaha untuk menghibur sang istri agar selalu tenang.


Hingga tak sadar, Laila pun pingsan. Wanita itu tiba-tiba memejamkan matanya dan tubuhnya lemas.


"Laila, Sayang. Astaghfirullah, kamu kenapa?" Fajar menepuk pipi sang istri, tapi tidak ada reaksi dari Laila. Fajar membaringkan tubuh sang istri. Karena panik, Fajar memanggil Mama Ida untuk melihat kondisi sang istri.

__ADS_1


Mama Ida segera datang ke kamar Fajar untuk melihat kondisi menantunya.


"Laila kenapa, kamu apakah dia sampai pingsan seperti ini?" Mama Ida ikut panik karena wajah Laila terlihat sedikit pucat.


"Ah Mama, Fajar nggak ngapa-ngapain kok, tiba-tiba aja Laila pingsan dan Fajar juga nggak ngerti," jelas Fajar dengan gugup.


"Kamu nggak bohong, kan?" Mama Ida yang terlanjur panik, ia pun tidak bisa berfikir jernih.


"Untuk apa Fajar bohong, Ma. Lagipula tadi kita juga belum pemanasan, masih ngobrol bareng, eh tau-tau Laila pingsan," ungkap Fajar sembari menelepon dokter. Namun, di saat yang bersamaan, Laila pun tersadar dari pingsannya.


"Kepalaku!" suara Laila seketika membuat Fajar langsung duduk di samping istrinya. Mama Ida segera memberikan air minum untuk sang menantu.


"Minumlah, Nak! Tadi kamu pingsan, kamu pasti kecapekan seharian menemui para tamu undangan," seru Mama Ida sembari menyodorkan segelas minuman air putih itu kepada Laila.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2