Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Menyatukan raga


__ADS_3

Cukup lama Adam memeluk Qia. Pada akhirnya gadis itu mulai tak nyaman. Ia pun melepaskan pelukannya pada Adam.


"Emm ... bukannya tadi kita mau sholat. Kita ambil wudhu dulu, yuk!" ajak Qia sambil tersenyum. Adam pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Oke, kita ambil wudhu dulu. Tapi ingat! Jangan jauh-jauh, siapa tahu ularnya masih ada di sekitar sini." sahut Adam yang masih membuat Qia ketakutan.


"Iya iya, ya Allah kenapa sih harus ada ular di kamar ini, hamba mohon lindungilah kami dari ular itu. Semoga ular itu segera pergi dari kamar ini. Aamiin!"


Mendengar Istrinya berdoa. Adam justru terlihat menahan rasa ingin tertawanya. "Ya Allah. Punya istri lugu banget. Bagaimana nanti jika aku benar-benar mengeluarkan ular itu? Kira-kira dia jerit-jerit nggak ya?" batin pemuda itu dengan rona wajah yang memerah.


Qia terus berpegangan pada ujung kemeja suaminya. Berharap dirinya bisa terhindar dari ular yang masih bersembunyi di dalam kamar mereka.


Setelah mereka berwudhu. Adam mengajak Qia untuk sholat isya berjamaah. Untuk kali pertamanya Adam menjadi imam sholat untuk Bu dosen kesayangannya. Bukan hanya imam sholat tapi juga imam dalam menjalankan perintah Allah berupa ibadah pernikahan.


Dengan khusyuk mereka melaksanakan perintah Allah. Pemandangan itu terlihat begitu indah dan menenangkan.


Selepas 4 rakaat. Qia mencium tangan sang suami. Kemudian ia melepaskan mukenanya dan menyimpannya di tempat semula. Adam tampak garuk-garuk kepala ketika Qia terus menempel padanya.


Adam menoleh ke arah sang istri, dan Qia pun tampak malu-malu. Pada akhirnya Qia pun berkata, "Apa ularnya masih tidur?"


Seketika Adam sumringah dan menjawab. "Oh ... mungkin, sebaiknya kita tidur saja. Jika kita berisik maka ular itu akan terbangun."


"Aduh kok ngeri gitu sih. Kita pindah kamar aja yuk aku takut!" Qia semakin mempererat tangannya pada lengan Adam.


Adam berpura-pura menenangkan istrinya dengan mengajaknya berbaring di atas tempat tidur.


"Sudah nggak apa-apa, selagi ada aku ular itu tidak akan berani menganggu Bu dosen. Sekarang ayo kita tidur!" Adam membawa Qia beranjak ke ranjang tidur.


"Tidur? Di sini, sama kamu?" Qia membulatkan matanya.


"Ya iya lah, memangnya kita tidur di teras?" sungut Adam yang membuat Qia tertawa kecil. Karena kini Adam sudah resmi menjadi suaminya. Qia pun tidak bisa menolak permintaan sang suami. Ia teringat akan ucapan sang Ummi jika dirinya tidak boleh membantah perintah suaminya.


Adam segera naik ke atas tempat tidur sambil merapikan bantal untuk istrinya.


"Sini! Ayo tidur!" titah Adam dengan senyum sumringah. Qia masih berdiri dan terdiam karena dirinya masih terlalu gugup.

__ADS_1


"Kenapa masih di situ? Awas nanti ularnya bangun loh!"


Sontak Qia langsung naik ke atas ranjang karena takut jika saja ucapan Adam itu benar. Adam segera menangkap Qia dan memberikan bahunya untuk bersandar. Namun, ternyata dugaan Adam salah. Qia justru memeluk guling dengan erat.


Adam tampak cengar-cengir saat istrinya lebih memilih guling untuk dipeluk bukan dirinya.


"Kira-kira ularnya bangun nggak sih! Aku khawatir banget kalau saja ularnya naik ke atas ranjang dan mengigit, aaahhh! Ummi ...!" Qia terdengar menyebut nama sang ibu karena ketakutan.


"Ssssttt, jangan takut, ada aku disini. Ular itu tidak akan berani mengganggumu. Kecuali jika kamu mengizinkan!" mendengar ucapan dari Adam, sontak Qia menatap wajah sang suami dengan serius.


"Hah! Ular yang mana maksudmu?" Qia membulatkan matanya. Seolah dirinya mulai mengerti maksud suaminya. Ia pun mulai sedikit menjauh dari posisi semula yang berdekatan dengan Adam.


Adam pun tampak tersenyum malu dan garuk-garuk tengkuknya. Ia pun mengerti jika Istrinya mungkin masih membutuhkan waktu untuk menerima kehadirannya.


"Em ... bukan, bukan ular apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Ya sudah, kita tidur. Selamat malam!"


Adam mulai menarik selimut dan mematikan lampu meja, setelah itu Adam beranjak tidur. Qia menghela nafasnya dan terlihat menatap punggung suaminya yang sedang tidur dengan posisi membelakanginya.


"Ya Allah. Apakah aku sudah berdosa sudah mengabaikan suamiku? Ummi pernah berkata, jika pahala terbesar seorang istri adalah menawarkan dirinya terlebih dahulu kepada suaminya. Jadi, apakah aku harus yang memulainya lebih dahulu?" gumam Qia.


Sementara itu, Adam tampak ikhlas jika malam ini dirinya belum mendapatkan haknya. Meskipun sebenarnya ia sangat mengharapkan sang istri mengerti kemauannya. Tapi rasanya itu masih sulit bagi Qia untuk menerima kehadiran Adam.


Adam pun mulai memejamkan matanya setelah berdoa. Meskipun doa sebelum tidur terkesan memaksa. Tapi tetap saja ia susah untuk memejamkan mata.


Sementara itu, setelah dipikir-pikir. Tidak ada salahnya jika Qia memulai terlebih dahulu. Meskipun dirinya sebenarnya sangat malu.


"Ya Allah! Mudahkanlah hamba untuk melakukan ibadah terindah ini. Hamba ingin menyenangkan hati suami untuk mendapatkan keridhaan-Mu. Bismillahirrahmanirrahim!"


Qia mulai melepaskan bajunya satu persatu. Dari gamis panjang itu, hingga underwear yang paling dalam sekalipun. Dengan jantung yang mulai berpacu dengan cepat. Qia bersiap untuk memberikan hak suaminya. Tugas pertamanya menjadi istri.


Setelah Qia melepaskan semua pakaiannya. Ia pun langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Merasa selimut itu ditarik oleh Qia. Adam langsung menoleh ke arah sang istri dan melihat apa yang sedang terjadi.


Adam melihat istrinya yang seperti kedinginan. Ia pun spontan bertanya dan terlihat khawatir.


"Kamu kenapa? Kamu sakit? Dingin?" tanya Adam serius sambil menyentuh dahi Qia.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, nggak panas!" Adam tampak mengerutkan keningnya sambil menatap wajah sang istri.


"Aku kedinginan. Bisakah kamu tidur bersamaku!" permintaan sang istri tentu saja membuat Adam seperti ingin salto. Oh bagaimana bisa Qia meminta itu darinya. Meskipun hanya sekedar memeluk, Adam pun cukup senang.


"Memangnya boleh?" sahut Adam.


"Memangnya kenapa nggak boleh? Masuklah!" Qia justru mempersilahkan sang suami untuk ikut masuk ke dalam selimut.


"Masuk ke dalam selimut bersama kamu?" sahut Adam yang mulai keluar keringat dingin. Qia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


Dengan wajah sumringah dan malu-malu meong. Adam mulai masuk ke dalam selimut bersama istrinya.


"Ahhh ...ha??"


Sontak kedua mata Adam membulat sempurna saat tangannya meraba sesuatu yang licin dan hangat. Adam menoleh langsung ke arah sang istri yang saat itu sedang memejamkan matanya.


"Apa ini? Kenapa kamu tidak pakai bajumu?" tanya Adam sembari terus memegang sesuatu yang terlanjur dipegangnya. Seolah-olah tangannya itu ada lem perekat yang membuat tangannya tidak bisa lepas begitu saja. Justru tangan Adam mulai merayap-rayap ke tempat yang lain.


"Aku sedang menawarkan sebuah cinta kepada suamiku. Apa kamu mau menerimanya atau tidak? Jika tidak, aku akan memakai pakaian ku kembali. Setidaknya malaikat tidak melaknat ku sampai esok hari."


Mendengar ucapan dari sang istri, sontak Adam naik ke atas tubuh istrinya dan berkata. "Bagaimana bisa aku menolaknya. Aku pasti dengan senang hati menerima tawaranmu. Apa kamu iklhas dan sudah siap?"


"Bismillah, aku sangat siap suamiku! Lakukan apapun yang kamu mau. Karena sekarang aku adalah milikmu. Kamu berhak atas semua yang ada dalam diriku ...!"


Qia menatap mesra sang suami dan pasrah dengan apapun yang akan Adam lakukan padanya. Adam tersenyum dan membelai lembut wajah sang istri.


"Baiklah, rupanya kamu sudah tidak takut lagi dengan ular itu?" ucap Adam sambil berbisik mesra dan Qia pun tersenyum geli. Adam pun memulai pemanasan terlebih dahulu sebelum ia benar-benar menyatukan raga mereka.


Cumbuan, rayuan dan sentuhan lembut. Adam lakukan dengan mesra sebelum eksekusi yang sebenarnya. Sesekali Qia menggeliat ketika sentuhan itu ia respon dengan penuh gairah. Di dalam selimut itu, Adam menikmati apa yang seharusnya ia miliki.


"Bismillah, Allahhumma jannibnas Syaithona wa jannibis Syaithona maarazaqtana."


"Ahhhhh ...!"


Hanya dengan dua kali hentakan. Adam dan Qia sudah berhasil menyatukan raga mereka. Kini, keduanya menikmati malam pengantin mereka dengan bahagia. Hubungan yang sangat halal bagi pasangan yang sudah sah menikah. Berharap Allah segera memberikan keturunan yang shalih dan shalihah setelah mereka melakukan hubungan suami istri secara ma'ruf dan sesuai perintah Allah.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...



__ADS_2