Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Dua puluh tahun kemudian


__ADS_3

Lela menundukkan wajahnya. Kali ini Ia tidak bisa menutupi rahasia tentang siapa dirinya yang sebenarnya.


"Saya memang memiliki suami. Tapi, rupanya saya tidak seberuntung istri-istri di luar sana. Suami mereka sangat mencintai istrinya, memberikan mereka perlindungan, kasih sayang dan cinta. Namun apa yang saya dapatkan setelah menikah ternyata itu semua hanya fatamorgana. Ternyata suami saya tega menjual saya kepada mucikari demi membayar hutang-hutangnya kepada rentenir. Setelah satu bulan menikah. Saya diceraikannya dan dijualnya ke rumah pelacuran. Saya tidak bisa lari dari tempat itu. Mereka menjaganya dengan ketat. Kalaupun saya lari, maka saya akan disiksa dan disiksa. Saya dijadikan budak nafsu laki-laki hidung belang. Setiap hari saya hanya bisa menangis, ingin rasanya mati saja agar saya bisa terbebas dari dunia yang kejam ini. Kenapa Allah tidak mencabut nyawa ini saja ... saya sudah bosan menjadi wanita pelacur. Hingga akhirnya, saya memiliki kesempatan untuk pergi dari rumah bordil itu saat ada seorang pria yang mengajak saya untuk menginap di sebuah hotel. Saya ambil kesempatan untuk lari dari mereka, dan ternyata mereka tahu jika saya ingin melarikan diri dan akhirnya saya bertemu dengan Mas Agung ...!"


Sesekali Lela mengusap air mata yang membasahi pipinya. Paras manis itu terlihat begitu jujur, sangat terlihat jika Lela sangat tertekan. Agung pun terdiam dan sedang memikirkan sesuatu. Ia pun mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan.


Agung masih melihat imam Mesjid yang belum pulang. Agung beranjak pergi untuk menemui sang imam Mesjid. Lela terkejut kenapa tiba-tiba Agung pergi menemui pria yang biasa disebut pak kyai itu.


Agung terlihat serius saat berbicara dengan imam Mesjid. Hingga akhirnya, selang beberapa menit, Agung keluar dan memanggil Lela untuk ikut masuk ke dalam Mesjid.


Lela pun menganggukkan kepalanya dan beranjak untuk pergi mengikuti perintah Agung. Lela sangat terkejut, kenapa ada beberapa orang yang berada di dalam sambil duduk menunggunya. Sedangkan sang imam Mesjid juga ikut duduk untuk bersiap melakukan permintaan Agung untuk menikahkan dirinya dan Lela.


"Mas Agung, ada apa ini, Mas?" tanya Lela yang terkejut kenapa tiba-tiba ada beberapa orang di dalam sedang menunggu dirinya.


Agung berkata kepada Lela bahwa dirinya akan menikahi Lela untuk melindungi wanita itu. Agung percaya jika Lela melakukan itu karena terpaksa. Ia ingin membantu Laila untuk ikut bersamanya ke jalan yang benar. Karena Agung juga tahu diri siapa dia sebenarnya. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Dirinya juga pernah melakukan dosa besar. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Agung berharap bisa membawa Lela menjadi wanita yang shalihah. Dia tidak ingin menghakimi jika Lela adalah pendosa, karena sejatinya yang berhak untuk mengetahui urusan dosa hanyalah Allah ta'ala. Manusia hanya berusaha bagaimana caranya agar bisa mendapatkan kembali ampunanNya.


"Tapi saya seorang pelacur, Mas. Apa Mas Agung mau menikahi wanita kotor seperti saya? Saya tidak pantas untuk menjadi istrinya Mas." Ucap Lela yang terlihat begitu takut. Iya, ia takut karena ia tahu betul siapa dirinya. Ia bukan wanita yang pantas untuk menjadi istri Agung yang shaleh. Karena dirinya berasal dari dunia hitam yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


"Saya percaya, jika Allah memang sengaja mempertemukan kita malam ini. Karena saya sangat yakin rencana Allah lebih indah dari makhluk Nya. Izinkan aku menjadi suamimu. Inshallah kita bersama saling beriringan untuk mendapatkan ridho Nya. Aku ingin menjadikan mu wanita muslimah. Aku ingin menuntunmu kembali ke jalan Allah. Seperti halnya diriku yang masih berjuang untuk mendapatkan keridhaan Nya. Karena aku sendiri juga adalah seorang pendosa."


Lela menangis, entah mimpi apa wanita itu semalam. Ia bertemu malaikat berwujud Agung yang menyelamatkan dirinya dari lembah hitam. Malam itu juga, Agung menikahi Lela disaksikan dua jamaah yang masih berada di dalam Mesjid tersebut.


Setelah menikahi Lela. Agung pulang ke kampung halamannya. Ia disambut hangat oleh keluarga besarnya. Agung memperkenalkan Lela sebagai istrinya. Ia menyembunyikan identitas sang istri sebenarnya dan menutup aib sang istri dari keluarga besarnya.


Agung hidup di kampung halamannya dikenal sebagai seorang Ustadz. Uang dari penjualan rumahnya yang di kota, ia gunakan untuk membangun sebuah musholla. Di sana ia mengajarkan ngaji kepada anak-anak sekitar rumahnya. Agung juga sering dipanggil untuk ceramah di luar desa.


Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Allah maha membolak-balik kan hati manusia. Kini, sosok Agung yang dulu adalah seorang pria yang mesum dan jahat, berubah seratus delapan puluh derajat. Ia dikenal sebagai Ustadz yang berwibawa dan bijaksana. Bahkan, kini pesona Ustadz Agung seperti nama yang disematkan oleh kedua orang tuanya, agung dan mulia di setiap orang yang mencintainya.


Begitu juga dengan istri Agung. Lela memang berasal dari dunia hitam. Berkat didikan dari Agung. Lela telah kembali menemukan jalannya. Wanita itu kini bercadar. Penampilan istri Agung sangatlah tertutup. Ia sangat tawadhu kepada suaminya. Lela lebih tenang hidupnya saat menjadi istrinya Agung.


Kehidupan mereka di kampung halaman Agung sangat bahagia hingga akhirnya Allah memberikan mereka seorang anak. Di tahun pertama pernikahan mereka. Lela melahirkan seorang bayi tampan yang diberi nama Muhammad Adam Nabhan.


Dua puluh tahun kemudian.


Di sebuah rumah mewah. Terdengar suara merdu seorang gadis yang sedang bershalawat. Suara nan indah itu sangat menentramkan hati. Gadis itu tampak sedang membersihkan kamar nya sebelum dirinya beranjak untuk tidur sambil bersenandung ria. Datang seorang wanita yang masuk ke kamar sang gadis sambil tersenyum.

__ADS_1


"MasyaAllah anak Ummi. Kenapa belum tidur?" seru Laila kepada putrinya Qia. Iya, gadis yang sedang bersenandung itu adalah putri pasangan Laila dan Fajar. Gadis manis itu adalah seorang dosen di sebuah universitas di kotanya.


Qia, panggilan akrab Khumaira As Sidqia. Tersenyum kepada sang ibu. "Belum Ummi. Qia baru saja memeriksa dan menyiapkan beberapa dokumen, besok Qia baru pertama masuk mengajar. Doakan Qia ya Ummi, semoga Qia bisa mengajar dengan baik." ucap gadis itu.


"Tentu saja, Nak. Ummi pasti selalu mendoakan anak Ummi. Tapi ingat usiamu juga, kamu sudah 24 tahun loh. Kamu juga jangan terlalu sibuk dengan kerjamu. Ummi dan Abi berencana untuk menjodohkanmu dengan anaknya pak Joko. Mantan asisten Abi dulu. Anaknya pak Joko baru pulang dari Mesir." Ucap Laila yang nyatanya tidak terlalu diperdulikan oleh Qia.


"Aduh Ummi. Qia tuh nggak ingin menikah dulu. Jangan main jodoh-jodohan ah ... Qia nggak suka. Nanti kalau waktunya jodoh itu datang pasti datang kok Ummi. Sekarang Qia masih ingin fokus dulu menjadi Bu Dosen. Itu cita-cita Qia dari kecil. Karena nanti jika Qia udah nikah pastinya Qia akan fokus ke keluarga. Iya kalau suami nanti masih mengizinkan Qia mengajar, kalau tidak?" Gadis itu memasang wajah datar.


...BERSAMBUNG ...


VISUAL



Khumaira As Sidqia. Putri pasangan Fajar dan Laila.


__ADS_1


Muhammad Adam Nabhan. Putra Agung dan Lela.


__ADS_2