Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Bab 6: Nggak pernah berubah


__ADS_3

Beberapa hari sejak kejadian itu, Ratna pun tidak pernah menghubungi Agung lagi, karena dirinya sebentar lagi akan menikah, Ratna juga sudah mewanti-wanti Agung agar tidak sembarangan bertemu dengannya. Ratna pun berusaha untuk terlihat baik di depan adik dan tunangannya seolah-olah dirinya benar-benar fokus pada rencana pernikahannya dengan Fajar.


Sejak bermimpi tentang rumah Laila dan Ratna. Sejenak, Fajar berpikir, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, semoga saja itu hanya bunga tidur semata.


"Ya Tuhan! Semoga saja ini hanya mimpi belaka, tapi kenapa perasaanku jadi tidak enak?" pikir Fajar yang terlihat melamun, padahal dirinya sedang mempersiapkan pernikahannya yang sudah hampir 90 persen selesai.


Sang ibu mendekati putranya yang terlihat melamun itu. "Kamu kenapa, Fajar? Mama lihat akhir-akhir ini kamu tampaknya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Mama Ida kepada putranya.


"Nggak apa-apa kok, Ma! Fajar hanya memikirkan bagaimana nantinya jika mengucapkan ijab Kabul, pasti Fajar sangat gugup, tinggal beberapa hari saja hari itu akan tiba, Fajar sudah tidak sabar lagi," ungkap pria tampan itu.


"Sejujurnya, Mama kurang yakin dengan calon istrimu, bisakah kamu berpikir lagi, Nak! Mama juga nggak ngerti, kenapa Mama kurang cocok saja kamu nikah dengan Ratna. Kalau boleh jujur sih, Mama mending milih adiknya," ucap sang Mama.


"Maksud Mama si Laila? Ayolah Mama, Fajar sudah lama berpacaran dengan Ratna, sudah hampir 5 tahun, Ma! Fajar tidak mungkin salah pilih, Fajar sangat yakin sekali bahwa pilihan Fajar itu sudah tepat. Fajar hanya menganggap Laila sebagai adik saja, tidak lebih!" ucapan sang anak membuat Mama Ida iku berpendapat.


Sedari dulu, Mama Ida lebih suka dengan adiknya Ratna yang tak lain adalah Laila. Mereka berdua kakak beradik yang selalu terlihat rukun, meskipun kedua orang tua mereka sudah meninggal dunia. Kedua gadis itu hidup mandiri, Ratna bekerja keras untuk membiayai adiknya sekolah hingga saat ini Laila bekerja di sebuah perusahaan dan memiliki gaji yang cukup besar.


Hanya saja, Mama Ida kurang suka dengan penampilan Ratna. Mungkin karena Ratna bekerja sebagai teller bank sehingga harus membuat Ratna harus berpakaian sesuai tuntutan pekerjaannya. Sedangkan Laila, gadis itu sedari kecil sudah berhijab dan ia bertekad tidak akan melepaskan hijabnya.


"Mama cuma merasa kurang sreg saja kamu menikah dengan Ratna, Mama lebih suka kamu nikahi adiknya, si Laila itu, Mama lihat Laila itu gadis yang sopan, dia juga nggak kalah cantik dengan Ratna, apalagi Laila itu gadis yang berhijab, Mama suka dengan wanita yang menutupi auratnya," sahut Mam Ida yang sudah menyukai Laila sedari dulu.


"Apa hanya karena itu, lantas Mama membanding-bandingkan Ratna dengan Laila? Mama tidak usah khawatir, Fajar akan merubah Ratna setelah dia menjadi istri Fajar nanti. Dan Fajar akan berusaha untuk menjadikan Ratna sebagai menantu yang Mama inginkan. Percayalah, Ma! Fajar pasti bisa, karena cinta itu tidak bisa dipaksakan, Fajar sudah terlanjur mencintai Ratna," ucap Fajar yang berusaha untuk meyakinkan sang Mama.


Sang Mama pun tidak bisa berbuat apa-apa, demi melihat putranya bahagia, akhirnya Mama Ida pun terpaksa mengikuti kemauan sang anak, meskipun dalam hatinya masih tidak iklhas Fajar menikah dengan Ratna.


*


*


*


Akhirnya, hari pernikahan pun tiba.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Ratna Salsabila binti Almarhum Haji Badrun dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," dengan satu tarikan nafas, Fajar sudah mengesahkan hubungannya dengan Ratna. Ada senyum kemenangan pada wajah Ratna.

__ADS_1


Tentu saja Fajar begitu bahagia dengan pernikahannya dengan orang yang dicintainya dan berharap rumah tangganya bahagia untuk selamanya.


Sedangkan di sudut ruangan, Laila memperhatikan pasangan pengantin itu dengan sedih. Ia merasa bersalah kepada Fajar, karena ia telah menyembunyikan sebuah rahasia besar sang kakak.


"Ya Allah! Ampuni hamba mu ini, hamba terlalu lemah, hamba tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Mas Fajar. Kasihan Mas Fajar, dia mendapatkan bekas orang lain, semoga saja Mbak Ratna benar-benar berubah dan bertaubat," Laila berkata dalam hatinya. Sungguh pengkhianatan yang dilakukan oleh Agung membuat Laila terpaksa harus berbohong kepada Fajar.


Setelah akad nikah, Fajar dan Ratna merayakan resepsi pernikahan mereka malam harinya. Di sanalah Agung datang sebagai tamu undangan. Tentu saja kehadiran Agung membuat Ratna khawatir jika saja Agung membongkar rahasia perselingkuhan mereka berdua.


Agung menghampiri pasangan pengantin baru itu dan mengucapkan selamat kepada keduanya. "Selamat Mas Fajar! Semoga Mas Fajar dan Mbak Ratna berbahagia sampai Kakek nenek!" ucap Agung sembari melirik ke arah Ratna yang terlihat gugup.


"Terima kasih banyak, Agung! Aku juga berdoa semoga kamu dan Laila juga secepatnya menyusul kami," balas Fajar yang masih mengira jika Agung dan Laila masih pacaran. Agung pun tersenyum dan berkata, "Sepertinya asa itu tidak akan pernah terjadi, Mas. Kami sudah putus, aku dan Laila tidak punya hubungan apa-apa lagi," ungkap Agung yang membuat Fajar begitu terkejut.


"Kalian berdua sudah putus? Sayang sekali, ya! Padahal kalian berdua adalah pasangan yang cocok dan serasi," ucap Fajar memuji.


"Ya ... mungkin kami belum jodoh, Mas! Mas beruntung memiliki istri seperti Mbak Ratna, udah cantik, pinter, baik, pokonya idaman setiap laki-laki, coba seandainya Laila seperti kakaknya, pasti aku akan tetap mempertahankan Laila," untuk Agung beralasan.


"Ah sudahlah! Tidak perlu membanding-bandingkan, yang terlihat buruk di mata kita, belum tentu buruk di mata orang lain. Well! Semoga kamu dan Laila bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi," Fajar berkata kepada Agung sambil menepuk pundak pria itu.


Setelah itu, Agung pun bersalaman dengan Ratna. Kali ini Agung menggenggam tangan Ratna sedikit kuat sembari berkata kepada wanita yang sudah membuatnya hilang arah itu.


"Hmm ... terima kasih banyak, Agung!" balas Ratna sembari tersenyum paksa. Ratna pun seolah memberikan kode agar Agung segera pergi dari pesta pernikahannya. Agung pun mengerti, dan ia pun pergi meninggalkan pesta itu. Namun, sebelum Agung pergi, ia sempat bertemu dengan Laila.


Laila yang tahu itu, ia tampak biasa dan tidak perduli, seolah-olah dirinya tidak ingin melihat Agung lagi, baginya Agung sudah begitu juga dengan Agung, ia pun seperti tidak pernah mengenal Laila, padahal Laila adalah cinta pertamanya, sejak Agung berhubungan dengan Ratna, pria itu melupakan rasa cintanya kepada Laila.


"Ya Allah! Tolonglah hamba mu ini untuk bisa melupakan Mas Agung dari hidup hamba," batin Laila berharap dirinya bisa move on dari mantan kekasihnya itu.


*


*


*


Hari-hari pun berlalu, kini kehidupan rumah tangga Ratna dan Fajar sudah dimulai, namun sayang Fajar masih belum bisa menyentuh istrinya karena kata sang istri dirinya sedang datang bulan, dan Fajar pun bersabar untuk itu.

__ADS_1


Fajar tinggal di rumah sang istri karena permintaan dari Ratna sendiri. Ia masih kasihan kepada Laila jika adiknya itu tinggal sendirian, karena selama ini mereka berdua selalu bersama. Jika nanti Laila sudah menikah, maka Ratna pasti bersedia meninggalkan adiknya dan tinggal bersama Fajar.


Laila melihat sang kakak sepertinya sudah berubah, dilihat dari cara Ratna yang memperlakukan Fajar begitu lembut. Sehingga Laila yakin jika kakaknya itu sudah berubah.


"Alhamdulillah, aku senang akhirnya Mbak Ratna bisa berubah, semoga saja kemesraan ini tidak pernah hilang dari mereka," batin Laila, ia pun tersenyum bahagia melihatnya.


Fajar pun pamit kepada sang istri untuk pergi ke kantor, Ratna tampak mencium tangan sang suami dan Fajar pun membalasnya dengan mencium kening istrinya. Sementara itu Laila juga akan pergi ke kantor. Hari itu Fajar menawarkan bantuan untuk adik iparnya, "Laila! Kamu bareng sama Mas saja! Ayo nggak apa-apa!"


"Emm ... terima kasih, Mas! Tidak usah, biar Laila naik taksi saja," balas Laila sembari tersenyum.


"Beneran nih, ya sudah kalau nggak mau," balas Fajar sambil membuka pintu mobilnya.


"Iya nggak apa-apa!" jawab Laila.


Akhirnya, mereka berdua pergi bekerja, tinggal Ratna yang ada di rumah, semenjak menikah dengan Fajar, Ratna tidak diperbolehkan untuk bekerja lagi, Fajar melarangnya dan Ratna cukup di rumah dan melayani dirinya saja.


Kini, Ratna hanya sendirian di rumah, Karena sang adik dan suaminya pergi. Ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Agung.


"Halo, Agung. Kamu ada di mana?"


"Ratna! Aku udah ada di depan gang rumah kamu!"


"Oke! Aku akan datang segera!"


Ratna menutup ponselnya dan Ia pun segera mengambil tas, Ratna keluar rumah tanpa seizin dari sang suami. Dengan berpakaian rapi Ratna menghampiri mobil Agung yang sudah menunggunya di depan gang.


Di saat yang bersamaan, Laila lupa jika dirinya kelupaan membawa ponsel. "Astaghfirullah! Ponselku ketinggalan di kamar. Pak Pak! Tolong balik lagi, Pak! Saya mau ambil sesuatu yang ketinggalan!" pinta Laila kepada sang sopir taksi.


"Baik, Mbak!"


Sang sopir pun langsung putar balik ke arah rumah Laila. Dalam perjalanan menuju ke rumah, tiba-tiba saja Laila dikejutkan dengan pemandangan yang sungguh membuatnya tidak percaya.


"Loh itukan Mas Agung dan Mbak Ratna? Mereka ngapain ketemuan lagi? Astaghfirullah jangan-jangan mereka berdua!?" Laila melihat sang kakak yang sedang berduaan di dalam mobil Agung. Mobil Agung sedang meluncur ke arah jalan raya.

__ADS_1


"Astaghfirullah aladzim! Mbak Ratna ternyata mereka berdua nggak pernah berubah,"


BERSAMBUNG


__ADS_2