
"Astaghfirullah, bukan terong nya, Mas! Terong nya nggak salah, yang salah itu nama penyanyinya, bukan Siti Badrun," sahut Laila sambil menahan kaku di perutnya karena kebanyakan tertawa.
"Kalau bukan Siti Badrun, terus siapa dong?"
Mama Ida, Bibi dan Laila tertawa kecil mendengar ucapan Fajar, hal itu membuat Fajar diam seketika.
Awal pagi yang terasa akrab, Laila begitu mudah membuat Mama Ida terhibur dengan candaan nya bersama sang anak.
Setelah mereka selesai sarapan pagi, Laila dan Fajar berpamitan kepada Mama Ida, pasangan pengantin baru itu pergi bersama di dalam satu mobil. Hari ini Fajar pergi ke kantor dengan status barunya yaitu sebagai seorang suami dari sekretaris pribadinya sendiri.
Fajar turun dari mobil bersama Laila, untuk sejenak banyak karyawan kantor yang heran bagaimana sekretaris pribadi Fajar ikut dalam satu mobil. Ah mungkin saja karena Laila adalah sekretaris pribadinya, banyak kemungkinan Laila datang bersama sang Bos, meskipun itu terasa sedikit ganjal.
Kedatangan Fajar disambut oleh sang asisten pribadi. Pak Joko terlihat senyum-senyum melihat kedatangan sang Bos, kali ini terlihat rona bahagia terpancar dari wajah Fajar, tentu saja bagaimana tidak bahagia dirinya baru saja mendapatkan sebuah berlian yang benar-benar bening dan indah.
"Selamat pagi, Pak Fajar!"
__ADS_1
"Selamat pagi," Fajar melepas kaca mata hitamnya.
"Waduh, saya rasa cerahnya pagi ini tidak bisa mengalahkan senyum Pak Fajar, pasti Pak Fajar sangat bahagia, aura keberhasilan sepertinya terlihat sangat jelas bukan begitu, Pak?" seru sang asisten yang membuat Fajar tertawa kecil. Sementara itu Laila mulai membuka pintu mobil dan perlahan kaki bersepatu merk terkenal itu pun mulai turun dari mobil. Sontak penampilan baru Laila mendapatkan sorotan dari para karyawan. Bagaimana tidak, kini outfit yang digunakan Laila bukan kaleng-kaleng.
Semenjak menjadi istri Fajar, Laila disuruh Fajar untuk memakai pakaian sesuai permintaannya, ia ingin istrinya terlihat berkelas meskipun hanya sebatas sekretaris pribadi. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, hanya barang branded yang dikenakan oleh Laila, bahkan jilbab pun juga memiliki merek mahal dan terkenal, itu semua memang permintaan dari Fajar demi ingin melihat istrinya tampil cantik di depannya, karena tentunya setiap hari mereka pasti selalu berada di dalam satu ruangan.
"Waah enak ya jadi sekretaris baru pak Fajar, baru dua hari kerja udah bareng satu mobil,"
"Hmm ... kayaknya dia mendapatkan layanan VIP dari pak Fajar, coba lihat bajunya, tasnya, sepatunya, bermerek semua cuyy, gila!"
"Hus! Jangan ngomong sembarangan, nanti jadi fitnah loh, mungkin saja itu barang KW,"
"Ya aneh aja, kan! Baru dua hari kerja udah mendapatkan perlakuan spesial seperti itu, gimana nggak heran!"
"Iya juga sih! Setahuku pak Fajar itu orangnya dingin dan super cuek, nggak mudah dekat dengan wanita, apalagi setelah cerai dari istrinya,"
__ADS_1
"Ahhh ... mungkin si Laila aja yang kegenitan, mau-maunya saja diajak bareng, bisa jadi kan? Dia manfaatin Pak Fajar dengan sok alim, karena setahuku nih ya, Pak Fajar itu suka dengan cewek-cewek yang berjilbab,"
"Dihhh! Aku juga berjilbab, tapi kok nggak dilirik sih sama pak Fajar? Tuh udah cetar banget, kan? Stylish banget ini!"
"Mungkin saja Pak Fajar nggak suka lihat gunung kembar kamu yang mentul-mentul, kepala tertutup tapi dada tetap menonjol, tapi si Laila kan enggak, coba lihat penampilannya, bajunya aja panjang menutupi pantat, dadanya juga nggak ketat, ditutup dengan jilbab lagi. Celana dia juga nggak ketat, tetap stylish sih. Pantesan aja pak Fajar memberikan perhatian lebih,"
Beberapa karyawan tampak berbisik-bisik membicarakan Laila yang baru turun dari mobil Fajar. Sejenak Laila mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia melihat tatapan para karyawan yang sedang memperhatikan dirinya dengan sinis.
Fajar segera menarik tangan sang istri dan segera membawanya masuk ke dalam kantor saat Laila masih terdiam di tempat.Tentu saja pemandangan itu membuat semua karyawan melihatnya aneh.
"Idih Laila kok mau-maunya sih digandeng, katanya wanita alim, digandeng oleh pria bukan muhrim kok mau sih, idih munafik!"
"Hmm ... betul tuh!"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1