Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Serangan tengah malam.


__ADS_3

Do saat sang kakak sudah menikmati indahnya malam pengantin. Lain halnya dengan Fira yang masih malu-malu karena kali pertamanya ia datang ke rumah mertua.


Kehadirannya tentu saja disambut dengan hangat oleh pak Joko dan istri. Sebagai menantu satu-satunya dalam keluarga itu. Fira sangat disayang oleh ibu mertuanya. Sang ibu mertua mengajak Fira untuk mengobrol sampai larut malam.


Apalagi mereka berdua punya kesamaan hobi yaitu memasak. Banyak hal yang ingin diceritakan oleh ibu mertuanya kepada Fira. Curhatan sang mertua tentu saja membuat Fira antusias ingin sekali praktek resep masakan yang disebut oleh mertuanya.


Tapi, di saat ibu mertua dan menantu itu sedang bercengkrama. Ada dua orang pria yang sedang menanti kedua wanita itu di balik dinding.


"Mereka itu ngomongin apa sih, Yah?" tanya Amir gelisah.


"Nggak tahu tuh, biasanya palingan mereka lagi ngerumpiin harga cabe yang naik." balas pak Joko menebak.


"Ohh ... ya biarin aja. Daripada ngomongin orang lain." ucap Amir dengan yang terlihat masih tenang. Pemuda itu pun tampak senang melihat keakraban ibu dan istrinya. Amir tersenyum dan setelah itu ia naik ke kamarnya.


"Kamu mau kemana?" seru pak Joko.


"Tidur, aku ngantuk!" balas Amir.


"Loh nggak ngajak istrimu. Ini malam pengantin kalian loh." sahut sang ayah.


"Iya sih, tapi sepertinya ibu masih ingin mengobrol dengan Fira. Ya sudah biarkan saja," Amir justru terlihat santai meskipun sang istri sedang menemani ibunya di malam pengantin mereka.


"Loh jangan gitu dong. Bentar, ayah panggilkan Fira biar dia juga beristirahat!"


"Tap, Yah. Nggak usah ... aduhhh!" Amir terlihat garuk-garuk kepalanya dan mulai panik jika saja Fira benar-benar datang kepadanya. Karena bagaimanapun juga, malam ini adalah malam di mana mereka berada dalam satu kamar dan tidur berdekatan.


Pak Joko menghampiri istri dan menantunya. Setelah itu pria paruh baya yang pernah menjadi asisten pribadi Fajar itu berkata kepada sang istri, "Bu, ayo kita istirahat! Biarkan Fira tidur, kasihan kan seharian ini ia harus bertemu dengan tamu-tamu undangan. Ibu sendiri apa tidak capek, ke kamar yuk!" ajak pak Joko kepada istrinya.


"Aduh pak sebentar. Ini lagi seru-serunya ngobrol. Fira ini bikin ibu senang banget. Akhirnya ibu punya partner masak nantinya." balas sang istri.


"Iya, ayah ngerti. Tapi sekarang udah jam 11 Bu. Apa ibu nggak kasihan tuh sama Amir. Dia nungguin isterinya. Lah kalau Fira ada di sini, kapan kita dibikinin cucu." ucapan pak Joko seketika membuat istrinya sumringah.


Spontan, Fira tersipu malu ketika pak Joko berkata seperti itu.


"Oh iya kok bisa-bisanya ibu lupa. Saking asyiknya ngobrol tentang terong balado, harga cabe pada naik soalnya." sahut sang istri. "Ya udah, Fira. Kamu istirahat dulu ya! Besok pagi kita bikin terong balado sama-sama."


Fira tersenyum dan menyetujui permintaan ibu mertuanya. "Tentu saja, Bu. Fira pasti seneng banget bisa masak bareng sama ibu." ucap gadis itu.


"Ya sudah, masuklah ke kamar! Kami juga akan beristirahat."


"Baik, Yah. Kalau begitu Fira ke kamar dulu."


Pak Joko dan istrinya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


*


*


*


Sesampainya di kamar. Fira melihat suasana kamar yang sudah sepi. Rupanya Amir sedang berpura-pura tidur. Fira berjalan mengendap-endap agar tidak membangunkan suaminya.


Namun, percuma saja Fira melakukan itu semua. Karena Amir sudah mengetahuinya sedari awal. Sesekali Amir membuka sedikit matanya untuk melihat aktivitas sang istri.


Sementara itu, Fira pun memastikan bahwa sang suami sudah tidur dengan melambaikan tangan di depan mata Amir. Tak ada pergerakan sehingga Fira menduga jika suaminya sudah tidur.


"Aman nih kayaknya. Mas Amir sepertinya udah tidur." pikir Fira.


Melihat suaminya yang tidur pulas. Ia pun dengan leluasa membuka kerudungnya tanpa khawatir jika Amir melihatnya. Karena ia sangat malu jika ada yang melihat dirinya tanpa hijab meskipun itu adalah sang suami sendiri. Karena bagaimanapun juga Fira tidak terbiasa menunjukkan rambutnya kepada siapapun kecuali kepada kedua orang tuanya dan sang kakak.


Sedangkan Amir yang sebenarnya sedang berpura-pura tidur. Ia pun mengintip dengan membuka sedikit matanya. Tampak bayangan seorang gadis yang sedang membelakanginya dengan rambut panjang yang tergerai sebatas punggung.


"Fira? Itu Fira? Istriku tanpa jilbab?" batin Amir sambil menelan ludahnya. Sedangkan Fira masih sibuk mencari baju ganti untuk tidur. Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Beruntung mereka sudah sholat isya berjamaah. Sehingga Fira bisa langsung tidur. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya tergoda. Fira melihat sebuah kado pernikahan dari salah satu temannya yang berada di atas sebuah meja.


"Emm ... kado dari siapa tuh!" Fira meraih kado berwarna merah cerah itu dan membukanya. Dengan sangat pelan, Fira membuka kado itu agar suaminya tidak terbangun.


Setelah kado itu terbuka, Fira mengerutkan keningnya saat melihat sebuah baju berwarna putih dengan hiasan renda cantik di sekitar dada.


"Astaghfirullah, baju apaan sih. Wait wait! Kayak baju yang dijual di mall-mall itu deh. Hihi beneran ini yang biasa dipajang di patung-patung. Lah biasanya aku suka bukain dalamnya, sekarang aku punya sendiri baju beginian. Gimana pakainya? Haruskah aku coba?" ucap Fira lirih.


"Hmm ... nggak ada salahnya dicoba. Mumpung mas Amir tidur." ucap Fira sambil melihat ke arah sang suami yang masih terpejam.


Fira yang menganggap jika suaminya sudah tidur. Ia pun dengan leluasa melepaskan gamis panjangnya dan menggantinya dengan baju yang baru saja ia dapatkan dari kado pernikahannya.


Tentu saja, pemandangan itu membuat Amir yang sedang berbaring di atas tempat tidur, membuka matanya lebar-lebar. Pasalnya ia melihat semua yang ada dalam diri Fira tanpa pembatas apapun.


"Allahu Akbar! Inikah yang dinamakan keindahan dari seorang wanita. Memang benar-benar indah." pikir Amir yang mulai gelisah. Berbaring terasa sesak, ia merubah dengan posisi miring juga tidak enak, tengkurap malah terasa sangat mengganjal.


"Aduhhh!" Amir terlihat meringis ketika tiang bendera miliknya sudah berdiri tegak.


Sementara itu, Fira yang tidak tahu jika suaminya sebenarnya tidak tidur. Gadis itu tampak memakai gaun yang biasa disebut sebagai lingerie itu sambil berputar-putar, berjalan mondar-mandir layaknya seorang model.


"Waaahhhh ternyata aku nggak kalah dengan model-model itu. Seksi juga aku pakai ini. Eh semoga saja Mas Amir nggak bangun. Bisa gawat kalau dia lihat. Malu banget!" pikir Fira sesekali melirik ke arah sang suami yang sebenarnya sedang menahan tower miliknya yang sudah memiliki sinyal sangat kuat.


Lingerie itu teramat seksi. Dengan belahan dada yang begitu rendah, belum lagi segitiga berenda itu terlihat begitu menerawang sampai ke dalam. Meskipun awalnya kikuk, lama-lama Fira merasa nyaman memakainya. Tanpa ia tahu jika Amir tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Apalagi Fira yang berjalan kesana kemari memamerkan paha mulusnya belum lagi onderdil dalam yang terlihat mengintip seksi. Sungguh sangat menggoda iman seorang Amir.

__ADS_1


"Aaarrrgggghhhh. Nggak bisa, ini nggak bisa dibiarkan. Sudah cukup aku menahannya."


Setelah puas Fira memakai baju tipis itu. Ia pun hendak melepaskannya dari tubuhnya. "Udah ah lepas saja. Lama-lama risih juga makainya. Mana nggak bisa rapat. Di buka dikit udah nyampe dan ihh sumpah ya ini ya Allah. Kalau Mas Amir lihat pasti nggak bakalan berkedip dia ... haahh!"


Di saat Fira sedang membalikkan badan, seketika wajah sang suami sudah berada di depannya menatap dirinya dengan tajam. Spontan Fira menutupi dadanya yang dengan kedua tangannya.


"Eh ... Mas Amir sudah bangun? Bukannya tadi tidur?" ucap Fira panik.


"Iya, aku sudah bangun dari tadi gara-gara kamu!" jawab pria itu sambil terus berjalan mendekati Fira.


"Hehehe. Sudah bangun, ya! Ma-maaf kalau Mas terbangun. Ya sudah, tidur lagi sana!" titah Fira dengan wajah gugup dan ia mulai gemetaran. Karena bagaimanapun juga Amir menangkap basah dirinya saat memakai lingerie itu.


"Aku tidak bisa tidur sebelum ...!" Amir tidak melanjutkan kata-katanya dan terus berusaha untuk mendekati istrinya.


"Sebelum apa?" Fira melototkan matanya dan akhirnya kakinya sudah menyentuh tepi tempat tidur.


"Sebelum kamu yang menidurkannya!"


"Aku?? Ahhhhh ...."


Karena kedua kakinya sudah mentok pada sisi tempat tidur. Spontan ia terjatuh di atas ranjang dengan posisi telentang. Pucuk dicinta ulam pun tiba.


Fira tidak bisa lagi menyembunyikan kemolekan tubuhnya dari mata sang suami. Sementara Amir tampak melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki Fira yang tidak ada kekurangan sama sekali.


Untuk beberapa detik. Mereka terdiam dan saling menatap. Dan pada akhirnya tersirat senyum dari bibir mereka berdua. Seolah keduanya tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Keduanya saling lempar senyum hingga akhirnya, Fira dengan kemauannya sendiri. Mengulurkan kedua tangannya agar Amir datang kepadanya.


"Kemarilah, Mas! Aku akan membuatmu tidur dengan nyenyak!" ucap Fira dengan posisi yang sangat menggoda Amir untuk segera datang ke sang istri.


Kini, kedua tangan Fira sudah berada di atas punggung suaminya sambil mengusap dan merremasnya pelan.


"Boleh?" bisik Amir pada telinga Fira.


"Kenapa tidak, aku tidak berhak melarangmu, Mas. Karena sekarang, raga ini hanya milikmu seorang. Aku sudah ikhlas lahir dan batin menyerahkan diriku hanya untukmu, lakukanlah!" jawab Fira dengan lembut sembari ancang-ancang menerima sebuah serangan tengah malam dari sang suami.


Amir tersenyum kemudian mengecup kening sang istri dan berakhir pada bibir mungil itu.


Bismillahirrahmanirrahim


"Massss ...!"


Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan syaitan, dan jauhkanlah setan dari rezeki yang akan Engkau anugerahkan kepada kami.

__ADS_1


Fira memejamkan matanya. Antara sakit, sesak dan nikmat menjadi satu. Kini, ia bukanlah gadis lagi tapi seorang istri yang menunaikan kewajibannya yang pertama kali memenuhi hak suaminya. Mereka berharap akan dihadirkan seorang bayi dalam rahim Fira secepatnya. Agar kebahagiaan pernikahan mereka semakin lengkap.


__ADS_2