Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Bertemu Tuan Cheng


__ADS_3

Setelah mengatakan hal itu kepada Laila, Fajar segera melepaskan tangannya dari lengan Laila, ia menyuruh Laila jalan lagi terlebih dahulu ke dalam kantornya dengan wajah yang datar, seolah dirinya tidak perduli dengan ucapannya tadi. Sedangkan Laila kelihatan salah tingkah dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Sudah, masuk! Nggak usah bengong," titah Fajar kepada Laila yang terlihat canggung. Akhirnya, mereka masuk ke dalam ruangan rapat di mana Tuan Cheng sudah menunggu kedatangan Fajar di sana.


Sementara itu di sebuah ruangan, seorang pria yang masih berusia sekitar 35 tahun, sedang duduk menunggu kedatangan Fajar, dialah Tuan Cheng, salah satu klien Fajar dari luar kota. Tuan Cheng berdiri saat tahu Fajar sudah sampai.


"Selamat siang, Tuan Cheng! Senang bertemu dengan Anda!" seru Fajar sembari menjabat tangan dan merangkul kliennya itu.


"Siang juga pak Fajar! Bagaimana kabar Anda? Saya benar-benar sangat kagum dengan Anda, kemapuan Anda benar-benar tidak diragukan lagi, itulah kenapa saya ingin sekali bekerja sama dengan perusahaan ini, karena pastinya bekerja sama dengan Anda pasti akan membawa keuntungan yang besar," balas Tuan Cheng sembari tersenyum bangga.


"Anda bisa saja, Tuan! Mari silakan duduk!" seru Fajar.


Untuk sejenak, Tuan Cheng memperhatikan Laila yang duduk di samping Fajar, rupanya Tuan Cheng memiliki ketertarikan kepada Laila, terbukti Tuan Cheng tampak curi-curi pandang kepada Laila.


Hal itu rupanya langsung diketahui oleh Fajar, sedangkan Laila tampak tidak mengerti jika Tuan Cheng sedang memperhatikan dirinya, karena ia sedang memeriksa beberapa dokumen yang akan dibahas oleh Bos dan kliennya itu, Fajar pun spontan mengalihkan perhatian Tuan Cheng dengan mengajaknya berbicara.

__ADS_1


"Sialan nih orang! Dia lihatin Laila terus. Minta dicolok aja nih matanya," Fajar membatin geram.


"Em Tuan Cheng! Mari kita mulai, bagaimana dengan rencana kita tempo hari?" sahut Fajar kepada Tuan Cheng. Tapi, rupanya Tuan Cheng tidak mendengarkan ucapan Fajar, pria itu masih terpaku dengan kecantikan Laila.


"Hello Tuan Cheng? Anda bisa dengar saya, tidak?" Fajar berkata dengan sedikit berteriak, sehingga membuat semuanya menjadi terhenyak.


Sontak Tuan Cheng melihat ke arah Fajar, tak terkecuali Laila dan juga asisten Joko.


"Waduh Pak Fajar! Hampir saja jantung saya copot, kita sedang rapat, Pak. Bukan sedang orasi!" bisik asisten Joko.


"Oh iya, ehem maaf tadi saya pemanasan dulu sebelum kita mulai rapat. Maaf Tuan Cheng!" ucap Fajar yang berusaha untuk menenangkan dirinya.


Tuan Cheng tersenyum dan memakluminya. "Tidak apa-apa, Pak Fajar. Maaf, tadi saya kurang fokus, ada pemandangan yang teramat cantik di depan saya, sehingga mau tidak mau saya harus melihatnya, sayang jika tidak dilirik, Pak!" ucap Tuan Cheng yang memiliki wajah keturunan Chinese itu. Pria itu berkata sembari melihat ke arah Laila yang juga sedang melihatnya sinis.


"Nih orang ngapain sih lihatin aku terus? Bikin nggak nyaman aja!" batin Laila sembari memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Pemandangan? Perasaan di sini tidak ada pemandangan yang cantik, bukannya di ruangan ini cuma ada pemandangan tembok dengan dan beberapa gambar, oh mungkin Tuan Cheng terkesima dengan dekorasi ruangan ini, ya!" sahut Fajar yang sebenarnya ia sudah tahu jika Tuan Cheng sedang memperhatikan Laila sedari tadi.


Tuan Cheng tersenyum kecil, hingga akhirnya ia berkata yang membuat Fajar semakin panas.


"Pak Fajar ada-ada saja, bukan itu Pak! Baru kali ini saya melihat sosok sekretaris yang cerdas, bukan hanya cerdas, saya lihat sekretaris Anda ini sangat kompeten dan tentunya sangat cantik, andai saja jika sekretaris Bapak masih single," pujian Tuan Cheng rupanya benar-benar membuat Fajar bertambah kesal, hal itu rupanya diperhatikan oleh Asisten Joko yang saat itu tampak sedang tertawa kecil.


"Pak Fajar rupanya sedang cemburu euy! Bakalan ada yang seru nih. Lawan Pak Fajar bukan kaleng-kaleng, semoga saja Mbak Laila tidak tergoda dengan Tuan Cheng, dia juga pebisnis yang masih muda dan berbakat," asisten Joko membatin sembari memperhatikan gesture tubuh Fajar yang mulai tidak tenang.


Mendengar pengakuan dari Tuan Cheng, Fajar pun spontan berkata kepada kliennya itu. "Oh ... sekretaris saya ini? Dia masih baru bekerja dengan saya. Iya, dia memang sangat bagus kinerjanya, cuma sayang sekali, Pak. Dia ini sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Jadi, dia ini sedang bekerja keras untuk biaya pernikahannya. Seperti itu!" ucapan Fajar spontan membuat Laila membulatkan matanya sambil melihat ke arah Fajar.


"Pak Fajar, maksud Anda?" sahut Laila yang tentu saja sangat terkejut dengan ucapan Fajar.


Fajar menoleh ke arah sang sekretaris dan memberikan kode mengedipkan mata sebelah jika saat ini ia sedang bersandiwara, diharapkan Laila mengerti maksud Fajar yang sedang berpura-pura di depan Tuan Cheng.


"Dihh Mas Fajar ngapain bilang kalau aku mau menikah, pakai kedip mata segala lagi, aduh ya Allah! Baru bekerja sehari saja udah dibuat seperti ini, lama-lama aku bisa gila bekerja dengan dia," batin Laila sembari menghela nafasnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2