Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Siap, Mas!


__ADS_3

Fajar menatap wajah Laila dengan menyipitkan matanya, terlihat senyum seringai dari bibir Fajar. Ia tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Laila.


"Benarkah? Kau tidak berbohong padaku, kan? Berbohong itu dosa loh, lidahmu bisa dipotong oleh malaikat jika kamu berkata dusta," seru Fajar yang tentunya membuat Laila panik. Gadis itu sangat takut jika ia mendengar balasan dari perbuatan yang tidak sesuai dengan akidah Islam.


"Astaghfirullah, em ... kamu benar, Mas. A-aku minta maaf, sebenarnya aku ... aku sengaja tidak mengangkatnya karena aku tidak tahu harus ngomong apa, hmm seperti itu!" ucap Laila sembari merremas ujung kemejanya.


"Okay! Aku bisa mengerti. Lalu, kenapa kemarin-kemarin nomor kamu tidak bisa dihubungi? Apa kamu memblokir nomorku?" tanya Fajar menyelidik. Laila tidak bisa berbohong lagi. Kali ini Fajar benar-benar membuatnya salah tingkah.


"Ma-maaf, Mas! Aku ke sini untuk melamar pekerjaan, bukan diinterogasi macam buronan seperti ini, lagipula diantara kita sudah tidak punya hubungan apa-apa, jadi untuk apa Mas Fajar terlalu mempersoalkan masalah itu?" sahut Laila yang membuat Fajar menghela nafas panjang.


"Iya, kamu benar. Lagipula untuk apa aku bertanya seperti itu, itu hak kamu kan untuk menerima atau menolaknya, kenapa aku harus pusing-pusing. Sekarang aku mau lihat surat lamaran kerjamu!" balas Fajar yang seolah-olah dirinya tidak perduli dengan apa yang Laila katakan.


"Nah, itu dia. Suka-suka aku dong, mau aku blokir kek, mau enggak kek. Toh itu hp-hp aku sendiri, gitu aja ditanyakan, bikin spaneng aja!" ucap Laila sambil memberikan CV lamaran kerja yang ia bawa.


Fajar menatap wajah Laila yang sedang komat-kamit sendiri, untuk sejenak Fajar tersenyum miring, ternyata Laila bisa juga marah.


"Makin gemes aja lihat dia marah, tambah manis, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, Laila." bisik Fajar dalam hatinya.

__ADS_1


Kemudian Fajar memeriksa CV lamaran kerja milik Laila. Fajar hanya melihat luarnya saja dan itupun cuma sekilas tanpa membukanya, setelah itu pria itu mengulurkan tangannya kepada Laila sambil berkata, "Selamat! Kamu diterima kerja mulai hari ini sebagai sekretaris pribadiku, selamat datang di perusahaan kami, semoga kamu betah bekerja di sini," ucap Fajar yang tentu saja membuat Laila bingung dan juga terkejut.


Laila tersenyum dan tidak bisa membalas uluran tangan Fajar, ia hanya menundukkan kepalanya sambil merapatkan kedua tangannya, setelah itu ia pun bertanya kepada Fajar, "Saya diterima kerja, Mas? CV ku saja belum kamu baca, bagaimana bisa kamu memutuskan secepat itu, kamu belum membaca isi lamaran pekerjaanku dan bagaimana kualitas serta pengalamanku bekerja di perusahaan lain. Kamu langsung menyimpulkan untuk menerimaku saja," seru Laila.


"Itu hakku, dari tadi aku sudah interview beberapa kandidat calon sekretaris, tapi belum ada yang cocok dengan kriteria yang aku inginkan. Tapi, setelah kamu datang aku sangat yakin sekali jika kamu pasti sangat kompeten di bidang ini, aku sangat percaya kepadamu Laila. Kamu pasti bisa diajak kerjasama dengan baik dan tentunya ...!"


Fajar tidak melanjutkan kata-katanya.


"Apa?" Laila menatap serius wajah mantan kakak iparnya itu.


"Bukan apa-apa, lupakan! Sekarang kamu bisa langsung bekerja dan tempatmu ada di sana, silakan!" seru Fajar sambil menunjukkan meja yang akan ditempati oleh Laila. Meja itu terletak pada sisi depan sebelah kiri dari tempat duduk Fajar.


"Iya, di mana lagi?" ucap Fajar sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya.


"Kamu kan sekretaris pribadiku, jadi kemanapun aku pergi kamu harus ikut," sambung Fajar.


"Kita berdua saja? Aduh bukan apa-apa sih, Mas. Hanya saja kalau cuma pergi berdua, takutnya ...!"

__ADS_1


"Jangan khawatir, lagipula aku tidak hanya mengajakmu saja, ada Pak Joko yang akan selalu bersamaku, jadi nggak usah GR kalau aku bakalan macam-macam," ucap Fajar dengan santainya.


Laila pun segera berdiri dan menuju ke tempat duduknya. Fajar tampak tertawa kecil melihat tingkah Laila yang semakin membuatnya ingin sekali menggodanya.


Hingga akhirnya, tiba-tiba asisten Joko datang dengan mengetuk pintu.


"Masuk!" sahut Fajar. Asisten Joko pun segera masuk dan seketika pria itu terkejut melihat Laila yang sudah duduk di kursi sekretaris.


"Pak Fajar! Dia sudah diterima kerja?" tanya asisten Joko yang ikut senang.


"Iya, dia sudah memenuhi syarat dan sesuai dengan kriteria yang aku inginkan. Mulai sekarang kalian berdua harus selalu kompak dan bekerja dengan profesional," ucap Fajar kepada keduanya.


"Siap, Pak!" sahut asisten Joko.


"Siap, Mas! Em maksudnya siap, Pak!" sahut Laila yang seketika membuat asisten Joko membulatkan matanya.


"Mas??"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2