Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
OTW halal


__ADS_3

Akhirnya, mobil Fajar melaju ke jalan raya. Adam terus memperhatikan kaca jendela belakang yang masih terbuka, dilihatnya dari kejauhan Qia yang terus memperhatikan dirinya sambil tersenyum, Adam pun membalasnya dengan tersenyum juga. Hingga tiba-tiba saja, Qia melambaikan tangannya kepada Adam seolah ia berkata kepada pemuda itu bahwa besok mereka akan bertemu lagi.


"Alhamdulillah, Bu Qia melambaikan tangannya. Hatiku meleleh ya Allah! Ini baru lambaiannya belum yang lainnya. Apalagi kalau dia pegang-pegang, pasti aku nggak gemetaran,"


Adam terlihat senyum-senyum sendiri dan itu membuat Agung mengernyitkan dahinya.


"Senyum sama siapa? Nggak ada orang?" tanya Agung sambil melihat ke mana arah mata Adam memandang. Di sebuah jalan depan di mana mobil Fajar baru saja pergi.


"Senyum sama bidadari, Yah! Tadi dia tersenyum sama Adam." jawaban konyol putranya membuat Agung dan Lela tertawa.


"Ya Allah ya Karim, ternyata anakku sedang jatuh cinta beneran. Memangnya kamu sudah siap nikah?" sahut Agung.


"Hmm ... memangnya harus nikah langsung, Yah? Nggak ta'arufan dulu!"


"Nggak, Ayah lebih suka langsung nikah, supaya kamu tidak tergoda dengan bujukan syaitan. Nggak usah pacar-pacaran, Ayah tidak setuju kamu berpacaran. Jika kamu memang menginginkan gadis itu, kejar! Dan langsung bawa ke penghulu. Pacarannya sesudah nikah saja, lebih enak. Nih kayak Ayah dan ibu. Kita pacaran habis nikah, lebih romantis karena sama-sama malu!"


Mendengar penuturan dari Agung, Adam pun membayangkan bagaimana nanti dirinya menikah dengan Qia, pasti ia sangat malu karena Qia adalah ibu dosennya.


Adam pun kembali senyum-senyum sambil mengaduk bakso yang ada didepannya. Aksi itu bukannya dimakan, tapi Adam justru memainkannya.


"Heh ayo cepat dimakan! Keburu magrib!" celetuk Agung yang hampir menghabiskan bakso miliknya.


"Baksonya nggak enak, ya? Kok nggak dimakan?" sahut sang ibu.


"Oh ... enak kok, Bu. Enak ini Adam makan!" pemuda itu pun langsung memakannya. Sedangkan Agung dan Lela cuma bisa menggelengkan kepala.


*


*


*


Waktu pun berlalu. Setelah Fajar tiba di rumahnya, ia pun segera mengajak kedua putrinya untuk memenuhi undangan makan malam dari Pak Joko.


"Qia, Fira! Ayo cepetan, lama banget sih! Sudah jam tujuh nih, ngapain aja sih mereka," ucap Fajar sambil memperhatikan jam tangannya.


"Sabar, Mas. Nanti mereka juga segera turun. Maklum, perempuan tuh kalo dandan pasti lama, apalagi Qia akan bertemu dengan calon suaminya, pasti Qia dandan lebih cantik dari biasanya.


Tak berselang lama, kedua putri Fajar turun dari kamarnya.


"Maaf jika Abi dan Ummi sudah menunggu lama,"


Seketika Fajar sangat terkejut saat melihat penampilan kedua putrinya yang sama-sama memakai niqob atau cadar.


"Loh, tumben pakai niqob?" Fajar mengernyitkan dahinya karena kedua putrinya kompak memakai cadar.

__ADS_1


"Iya Abi, kita memutuskan untuk memakai niqob, ini cuma inisiatif Fira aja sih, Bi. Biar nanti Mas Amir menebak siapa diantara kita berdua yang merupakan calon istrinya. Jika insting Mas Amir kuat maka dipastikan dia bakalan milih Kakak. Meskipun wajah kami sama-sama tertutup, dia pasti bisa mengenali wajah calon istrinya, apalagi kita bukan mahram kan Abi, takutnya nanti mata Mas Amir silau dan lebih memilih aku, hehehe ... canda Bi," ungkap Fira yang selalu saja memiliki ide aneh-aneh. Gadis itu selalu saja membuat kedua orang tuanya tersenyum kecil.


"MasyaAllah, kedua putri ibu cantik-cantik, pasti Amir sangat penasaran siapa sebenarnya calon istrinya." sahut Laila sambil merangkul kedua pundak putrinya.


"Ya sudah, ayo kita berangkat. Pak Joko pasti sudah menunggu kita."


*


*


*


Tak menunggu lama untuk mereka tiba di sebuah restoran yang sudah di sediakan khusus untuk calon besan pak Joko yang tak lain adalah Fajar. Di saat Fajar hendak memasuki restoran, tiba-tiba Fira pamit ke kamar mandi.


"Abi, Fira ke kamar mandi dulu sebentar. Nanti Fira susul!"


"Oke, jangan lama-lama, Abi tunggu di dalam,"


"Iya!"


Akhirnya, Fira segera pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Fira terlihat terburu-buru karena ia sudah tidak tahan ingin segera masuk ke kamar mandi.


Tanpa ia sadari, tiba-tiba dirinya menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Awwww ...!"


Pria itu menahan tubuh Fira yang hampir saja terjatuh di atas lantai. Kedua tangan Fira bergelayut pada leher pria yang sedang menahan tubuhnya.


"MasyaAllah, cakep bener nih cowok. Bentar-bentar kayaknya aku pernah lihat nih orang, tapi di mana? Wajahnya nggak asing lagi! Ihh aku tahu sekarang, ini pasti Mas Amir, nggak salah lagi, aku kenal karena ada tahi lalat di jidatnya,"


Wajah Fira yang tertutup cadar, membuat Amir menundukkan pandangannya dan ia pun segera membenarkan posisi mereka.


"Saya minta maaf jika lancang memegang tubuh, Mbak. Tadi Mbak jalan nggak lihat depan. Jadinya, Mbak hampir terjatuh!" ucap sang pria.


"Mas Amir? Ini Mas Amir, kan?"


Spontan jawaban gadis itu membuat pria tersebut terkejut setengah mati bagaimana gadis itu tahu siapa namanya.


"Dari mana Mbak tahu nama saya?" sahut Amir heran.


"Jadi benar kan ini Mas Amir? Ya Allah ternyata Mas Amir lebih cakep aslinya. Ganteng!" puji Fira.


"Hehehe terima kasih. Maaf sekali lagi, Nona. Siapa Anda, saya merasa tidak mengenal Anda?" seru Amir yang masih penasaran dengan sosok gadis di depannya.


Fira pun membuka cadarnya dan memperlihatkan wajah aslinya kepada pria itu.

__ADS_1


"Mas bisa mengenali aku? Masih ingat, nggak?" seru Fira sembari tersenyum kepada Amir.


"Subhanallah, siapa ya?"


Pertanyaan Amir membuat Fira memutar bola matanya.


"Aku Fira, Mas! Fira ... yang sering ngumpetin sandal Mas Amir dulu saat diajak Ayah Mas ke rumahku. Masa ingat, kan?"


Amir pun mulai teringat dan akhir ia tersenyum sumringah.


"Oh ... Fira anaknya Om Fajar? Yang omongannya banyak itu? Yang pernah aku bikin nangis gara-gara ngumpetin sandalku!"


"Hehe iya bener!" Fira terlihat malu-malu kucing ketika Amir mengingatkan tentang kejadian masa kecil mereka. Di mana Amir pernah membuat Fira menangis saat Amir menarik rambut Fira karena Fira kecil suka sekali menjaili Amir.


"Subhanallah, aku benar-benar tidak mengenali wajahmu. Sekarang kamu lebih cantik, tadi aku pikir kamu artist Raline Shah, mirip sekali Mashaallah!" puji Amir sembari tersenyum.


"Raline Shah? Waduh Mas Amir pinter banget ngarang. Aku bukan Raline Shah tapi rolling door ...!"


Spontan Amir tertawa kecil mendengar lelucon dari Fira. Ternyata gadis itu pandai sekali membuatnya tersenyum.


"Ya ya boleh juga, kamu itu ternyata lucu juga, ya!" sahut Amir sambil menggelengkan kepalanya.


"Hehehe bukan cuma lucu aja. Tapi juga nggemesin, Mas!"


Keduanya saling tertawa kecil dan Fira tampak menutupi senyumnya dengan tangan, meskipun ia tertawa tapi ia tetap tahu batasan kesopanan.


Amir melihat Fira dengan tersenyum kagum. Ternyata sekarang Fira begitu berbeda dengan masa kecilnya dulu. Gadis yang dulu sering sekali mengganggu dirinya. Kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan anggun..


"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kamu ada di sini?" tanya Amir.


"Mas sendiri kenapa ada di sini? Bukannya Mas ada di Mesir?" Fira balik bertanya.


"Aku sudah pulang dari Mesir dan aku akan menetap di sini. Aku diajak Ayah untuk makan malam, katanya aku akan dikenalkan dengan calon istriku. Tapi ayah tidak bilang siapa gadis itu,"


Mendengar pengakuan dari Amir. Fira pun melototkan matanya.


"Hah? Mas Amir nggak tahu siapa calon istri, Mas?"


"Demi Allah aku nggak tahu."


Fira pun tersenyum dan lagi-lagi berseloroh kepada pemuda itu.


"Calon istri Mas Amir itu adalah salah satu putri mantan Bos Ayah Mas Amir, dah ya Mas aku ke kamar mandi dulu!" pamit Fira yang sudah tidak tahan lagi ingin segera buang air kecil.


Sejenak, Fajar mengerutkan keningnya mendengar pengakuan dari Fira.

__ADS_1


"Anak dari mantan Bos Ayah? Bos ayah bukannya pak Fajar? Dan Fira itu anaknya pak Fajar? Apa gadis yang jadi calon istriku itu Fira? Kenapa Ayah nggak pernah bilang kalau calon istriku itu Fira. Kalau begitu ngapain menunggu lama, otw halal."


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2