
"Udah! Tidur sana, Mama juga mau tidur, besok tidak usah bangun pagi-pagi, bangun jam 11 juga nggak apa-apa, Mama maklumi!" ucap Mama Ida sambil tertawa kecil meninggalkan mereka berdua yang masih terpaku.
"Lah, emang kita ngapain sampai bangun jam 11? Mama ada-ada saja, emang kita ronda!" seru Fajar lirih yang tidak sengaja terdengar di telinga Laila. Gadis itu tampak tertawa kecil sembari menutupi mulutnya.
Fajar tak sengaja melihat Laila yang sedang tertawa, ia pun juga ikut tertawa cengar-cengir untuk menghilangkan rasa groginya.
"Kok kamu ketawa sih? Lucu ya?" seru Fajar sambil melepaskan pecinya.
"Hah? Enggak, enggak kok. Eh ngapain kamu lepas? Dipakai saja, Mas! Aku lebih suka kamu pakai peci, lebih ganteng!" ucap Laila yang seketika membuat Fajar terbang melayang mendengar pujian dari istrinya.
"Apa? Kamu bilang apa tadi? Aku ganteng? Ah masa sih. Dari dulu aku sebenarnya udah ganteng, kata Mama gitu. Kamu juga cantik, imut lagi," puji Fajar yang membuat keduanya nggak jelas, antara malu-malu dan gugup.
"Apa sih! Dasar gombal!" ucap Laila.
"Eh beneran, aku nggak gombal suwerr. Baiklah! A-ayo kita tidur! Kamu pasti sudah sangat kelelahan" Fajar mengajak istrinya untuk pergi ke kamar mereka. Namun, Laila agaknya masih sangat malu dan canggung untuk tidur satu kamar dengan Fajar.
"Tapi, Mas! A-aku takut!" seru Laila yang masih berat melangkah ke kamar Fajar.
__ADS_1
"Takut? Kamu takut apa, aku nggak bakalan gigit kok, bukankah kita belum sholat isya? Kita sholat isya dulu di kamar, setelah itu kita tidur," ucap Fajar mengajak istrinya untuk sholat isya.
"Iya, kamu benar! Kita belum sholat isya."
Laila pun mengikuti perintah sang suami untuk menunaikan ibadah sholat isya, mau tidak mau Laila harus pergi ke kamar suaminya.
Laila berjalan di belakang Fajar, dengan sangat hati-hati Laila melangkahkan kakinya, mengingat gamis yang dipakainya menjuntai dan melewati mata kaki, sehingga Laila harus mengangkat sedikit ujung gamisnya agar dirinya bisa berjalan dengan baik.
Siapa sangka, meskipun Laila sudah berhati-hati, tetap saja ia masih bisa tersandung saat dirinya menaiki anak tangga.
"Awww!"
"Hati-hati! Kamu tidak apa-apa?" tanya Fajar saat melihat Laila yang meringis kesakitan. Sepertinya kaki Laila terkilir, ia pun sedikit mengeluh sakit pada pergelangan kakinya.
"Aduh kakiku, Mas. Kayaknya aku terkilir deh!" rintihnya sembari duduk pada anak tangga dengan mengelus-elus pergelangan kakinya yang terasa sakit.
Fajar pun ikut melihat kondisi kaki sang istri. Laila meringis kesakitan saat Fajar menyentuh pergelangan kakinya yang terkilir itu.
__ADS_1
"Awww ... sakit, Mas! Jangan keras-keras!" pekik Laila.
"Ya sudah, kita ke kamar dulu, setelah itu aku akan mengobati kakimu, sepertinya ada cidera sedikit,"
"Memang kamu bisa?" tanya Laila menyelidik.
"Ya biasalah! Dikit!" jawab Fajar sambil mengangkat tubuh sang istri untuk menaiki tangga.
Spontan Laila terkejut bukan main saat lengan kekar Fajar mengangkat tubuh mungilnya.
"Nggak usah, Mas! Aku bisa jalan sendiri," sahut Laila yang terlihat begitu malu saat Fajar menggendong dirinya.
"Jalan sendiri jalan sendiri, memangnya kamu bisa? Nggak usah banyak protes!" Fajar terus membawa tubuh sang istri untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Untuk sejenak Laila menatap wajah sang suami yang sedang menggendong dirinya, gadis itu melihat wajah Fajar dari jarak yang begitu dekat, terukir senyum dari bibir cantiknya. Dalam hati kecilnya, sebenarnya Laila sangat senang, ia terus memandangi wajah suaminya yang terlihat begitu tampan bak ustadz-ustadz gaul yang ada di TV-TV.
Tanpa sengaja, Fajar menoleh ke arah sang istri yang saat itu sedang menatapnya dalam-dalam. Sorot mata mereka saling beradu, tatapan mata yang tak bisa lepas. Sambil berjalan menuju ke arah kamarnya, Fajar terlihat begitu tenang seolah langkah kakinya tidak membutuhkan mata untuk sampai di dalam kamar.
__ADS_1
Pintu kamar yang sudah terbuka, memudahkan Fajar membawa istrinya untuk masuk ke dalam. Fajar terus melangkahkan kakinya sampai di tepi ranjang tidur, perlahan Fajar meletakkan tubuh sang istri dengan sangat hati-hati.
...BERSAMBUNG...