
Di saat istri dan kedua anaknya sedang bercengkrama di ruang tengah. Fajar datang dan melihat kebersamaan anak dan istrinya.
"Eh ada apa ini kok semuanya pada nempel ke Ummi? Pantesan nggak ada yang jawab Abi tadi." Seru Fajar saat ia memasuki ruangan tengah.
Ketiga wanita kesayangannya itu tersenyum bahagia melihat kedatangan Fajar.
"Kamu sudah pulang, Mas!" seru Laila sambil mencium tangan sang suami, Qia dan Fira mengikuti sang ibu juga turut mencium tangan Abi mereka.
"Kalian bertiga ngapain di sini? Pakai pelukan segala!" Ucap Fajar.
"Nggak ada, Bi. Kami cuma bilang ke Ummi kalau kita berdua ini akan menjadi saudara yang saling mendukung, saling sayang. Pokoknya Ummi dan Abi tidak akan pernah kita kecewakan. Kami berdua pasti nurut apa kata Ummi dan Abi. Iya kan, kak?" seru Fira sambil merangkul pundak sang kakak.
Qia tersenyum dan mengusap pipi adiknya. "Iya dong, dalam kondisi bagaimanapun kita berdua tidak akan saling menyakiti, kita berdua pasti mengikuti perintah Abi dan Ummi. Karena kita berdua ingin menjadi anak yang berbakti. Qia dan Fira pasti bisa membanggakan Abi dan Ummi, Inshallah!"
Fajar begitu terharu melihat kekompakan kedua anaknya. Ia pun mengusap puncak kepala kedua putrinya sambil tersenyum. "Abi sangat bangga kepada kalian berdua, kalian berdua adalah shalihah nya Abi dan Ummi."
Laila tersenyum melihat pemandangan yang indah itu. Kasih sayang Fajar kepada kedua buah hatinya amatlah besar. Berharap Qia dan Fira akan mendapatkan jodoh yang bisa seperti Abi mereka yang sangat mencintai Ummi nya.
"Abi sangat menyayangi kalian berdua. Putri-putri Abi yang cantik-cantik dan shalihah. Di setiap doa Abi, Abi hanya ingin kalian mendapatkan imam yang Sholeh dan baik, yang bisa menghormati dan menyayangi seorang wanita. Yang bisa membimbing kalian ke jalan Allah, sebab nantinya jika waktunya telah tiba. Abi akan menyerahkan kalian kepada suami-suami kalian. Jadilah seorang wanita yang shalihah seperti Ummi kalian ya, Nak! Jangan tinggalkan sholat dan jangan sampai lepas hijab kalian, jadilah seperti Ummi yang selalu mempertahankan jilbabnya demi menjaga dirinya sebagai seorang muslimah, hingga tiba waktunya jilbab kalian nanti lepaskan di hadapan suami kalian!"
Qia dan Fira mendengarkan nasihat dari Abi mereka dengan baik. "Iya, Abi. Kami akan selalu ingat pesan Abi. Kami berharap bisa mendapatkan seorang imam seperti Abi. Sangat penyayang dan juga Sholeh seperti Abi," ucap Qia.
__ADS_1
"Aamiin!"
Fira mengamini doa sang kakak.
"Ehem ya sudah, melow-melownya stop dulu ya. Setelah ini kita kan mau ke makam Budhe Ratna. Yuk-yuk pergi mandi semua, setelah itu kita berangkat, keburu sore nanti," seru Laila. Di saat yang bersamaan, Fira mendapatkan informasi dari WhatsApp salah satu temannya jika pengajian ustadz Agung dimajukan jam saat ini.
Seketika Fira terkejut saat mendapatkan notifikasi tersebut . "Astaghfirullah, hmm jadi nggak bisa nih lihat ceramah ustadz Agung. Padahal aku udah pingin banget dengerin ceramah pak ustadz," ucap Fira tertunduk lemas.
"Ada apa, Fira?" tanya sang Abi saat melihat Putrinya lemas.
"Ini loh, Bi. Ceramah ustadz Agung di mesjid Darul hikmah dimajukan jam sekarang, harusnya kan nanti malam. Fira nggak jadi deh denger ceramahnya, padahal Fira udah minta duwit sama Abi buat lihat pengajian ustadz Agung, terpaksa deh Fira kembalikan!" balas Fira sambil menunjukkan pesan dari temannya.
"Ya sudah, nggak usah dikembalikan, ambil saja! Abi nggak mempermasalahkan itu lagi, Abi percaya kok sama kamu. Oh ya kebetulan nanti malam Abi akan mengajak kalian untuk menghadiri acara makan malam bersama pak Joko. Kalian tahu, nanti ada anaknya pak Joko juga ikut hadir." Ucapan Fajar rupanya tidak terlalu membuat Qia senang, pasalnya gadis itu tahu jika acara tersebut ditujukan untuk menjodohkan dirinya dengan putra pak Joko.
"Ada Mas Amir, Bi? Waah ... pasti Mas Amir tambah keren aja, Fira lihat di sosial media miliknya, Mas Amir itu pengusaha muda dan juga seorang Tahfiz. Waaahhhh beruntung sekali Kakak dapat suami seperti Mas Amir, emang jodoh pilihan Abi tuh nggak akan pernah salah," ucap Fira yang mendukung perjodohan Qia dan Amir.
Hal berbeda ditunjukkan oleh Qia. Gadis itu pun segera pamit untuk ke kamarnya, seolah dirinya tidak terlalu perduli dengan pertemuannya nanti dengan Amir.
"Ya sudah, Qia mau ke kamar dulu!" gadis itu langsung pergi ke kamarnya, Fira pun spontan mengikuti sang kakak.
"Eh tunggu dong, Kak. Fira ikut!"
__ADS_1
Laila yang berada di samping Fajar, seolah dirinya tahu jika putri pertamanya itu kurang berkenan jika ia dijodohkan dengan Amir dan itu Laila bisa rasakan dengan sikap putrinya yang tampak tidak perduli.
"Mas, kira-kira apa Qia mau kita nikahkan dengan Amir? Kok aku lihat Qia tidak begitu suka dengan acara perjodohan ini deh, aku takut saja jika dia merasa tertekan dengan keputusan kita, Mas!" seru Laila.
"Kamu tidak perlu khawatir, sudah biasa seperti itu, awalnya Qia pasti tidak suka. Nanti lama-lama, pasti Qia juga terbiasa setelah tahu bagaimana suaminya, Amir itu pemuda yang baik, sedari kecil aku tahu bagaimana sifat Amir. Itulah kenapa aku ingin sekali Amir menjadi salah satu memantu kita, dan aku berharap Amir menjadi suaminya Qia, mereka berdua pasti cocok, sama-sama pendiam dan nggak banyak tingkah," ungkap Fajar yang tahu betul bagaimana sifat putra pertama mantan asistennya itu.
"Hmmm ... begitu ya, Qia pendiam Amir juga pendiam. Kira-kira mereka bisa akur nggak, Mas? Aku nggak yakin deh. Pasti pada diem-dieman, beda tuh kalo Amir sama Fira. Pasti Fira bakal rame duluan, suaminya jadi ngikut nanti!" ucap Laila berpendapat.
"Aduh kamu gimana sih, masa iya Fira duluan yang nikah. Kakaknya dulu lah, kalau soal diem-dieman tidak usah dikhawatirkan, kayak kita dulu juga diem-dieman dulu, kan? Sama-sama malu apalagi aku!" sahut Fajar sambil menggoda istrinya.
"Halah preet! Siapa bilang kita diem-dieman, belum aku sentuh kamu udah meriang duluan." Sahut Laila sambil melirik ke arah sang suami yang tampak tersenyum malu.
"Hehehe, gimana nggak meriang. Lihat kamu lepas jilbab udah bikin aku gemetaran ya Allah. Kulit muka mulus, cantik, ah rasanya mulai cenut-cenut di kepala atas dan bawah. Apalagi kamu mulai minta pangku. Aduh ... kok kita malah cerita gini sih! Jadi pingin, kan?" sahut Fajar sambil melirik nakal ke arah istrinya.
"Apa?" Laila melototkan matanya saat sang suami tersenyum nakal dan menggerak-gerakkan kedua alisnya.
"Bukan apa-apa, Abi cuma mau menawarkan pahala untuk Ummi, mau apa enggak?" seru Fajar sambil menarik tangan sang istri untuk masuk ke kamar mereka.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1