Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Taksi


__ADS_3

"Waah sayang sekali, ternyata sudah punya calon suami. Well! Semoga bahagia," sahut Tuan Cheng sembari tersenyum.


"Oke, sepertinya kita langsung saja mulai, Tuan." Fajar pun segera memulai rapat tersebut.


Rapat tersebut berlangsung sekitar satu jam, Laila memperhatikan bagaimana Fajar menjelaskan kepada Tuan Cheng tentang kinerja perusahaannya. Sungguh, kali ini Fajar sukses membuat hati Laila terkesima. Cara penyampaiannya yang lugas dan jelas, membuat siapa saja pasti tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Fajar.


"MasyaAllah, Mas Fajar benar-benar luar biasa, dia memang cerdas banget. Ih kok aku malah muji-muji dia sih!" Laila membatin sembari memperhatikan bagaimana Fajar menjelaskan kepada Tuan Cheng.


Laila tersenyum kepada Fajar, tidak bisa dipungkiri gadis itu benar-benar terkesima akan kemampuan Fajar. Di saat yang bersamaan, Fajar menoleh ke arah sang sekretaris, ia pun membalas senyuman Laila kepadanya.


Sontak Laila terhenyak dan salah tingkah. Ia pun panik memalingkan wajahnya karena malu.


"Aduh ngapain Mas Fajar pake noleh segala, malunya ya Allah!" Laila tampak berpura-pura melihat-lihat ruangan, sedangkan Fajar pun tampak tersenyum kecil melihat tingkah Laila.


*


*


*

__ADS_1


Rapat pun telah selesai, Tuan Cheng pamit kepada Fajar, mereka berdua pun saling menjabat tangan. Akhirnya kerja sama itu pun terjalin dengan baik.


Setelah kepergian Tuan Cheng. Laila dan Fajar kembali ke ruangan, masih ditemani oleh asisten Joko, Fajar berembug dengan sang asisten cukup serius. Sementara itu Laila duduk di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.


Tiba waktunya pulang kantor. Laila pun bersiap untuk pulang, hari pertama yang cukup melelahkan. Sementara itu Fajar sudah keluar terlebih dahulu sebelum Laila.


Dengan langkah santai, Laila pulang dengan menghentikan sebuah taksi. Sebuah taksi berhenti di depan Laila. Gadis itu pun segera membuka pintu mobil dan beranjak untuk naik.


"Jalan, Pak! Kita ke Jalan Untung Suropati!" seru Laila kepada sang sopir. Sopir itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun, terlihat sopir taksi itu memakai topi sehingga wajahnya tidak kelihatan dengan jelas, mobil pun mulai melaju ke jalan raya. Rupanya, ada sebuah mobil yang membuntuti taksi yang ditumpangi oleh Laila. Yang tak lain itu adalah mobil Fajar.


Fajar sangat penasaran di mana Laila tinggal sekarang, tanpa sepengetahuan Laila, Fajar mengikuti taksi yang ditumpangi oleh gadis itu. Kali ini Fajar tanpa menggunakan sopir, ia mengemudi mobilnya sendiri, biasanya ia selalu diantar oleh sang sopir, karena hari ini pak sopir sedang cuti minta izin istrinya melahirkan, sehingga memaksa Fajar memakai mobilnya sendiri.


"Loh pak! Kayaknya Bapak salah arah deh? Jalan Untung Suropati bukan ke arah sini, Pak!" ucap Laila sambil memperhatikan jalan raya. Sopir taksi itupun masih diam, justru taksi melaju lebih kencang. Tentu saja Laila menjadi takut dan Ia pun memaksa sang sopir untuk berbalik arah.


"Cukup, Pak! Kita putar arah saja, ini bukan arah rumah saya," seru Laila yang mulai panik.


Sedangkan Fajar yang berada di belakang mobil taksi itu, ia pun mulai curiga karena taksi itu melaju ke arah jalanan sepi, di mana jalanan itu adalah jalanan menuju ke sebuah daerah yang jarang dilalui oleh kendaraan.


"Kenapa taksi itu melaju ke sana? Ini pasti ada yang tidak beres, mana mungkin Laila tinggal di tempat seperti itu, di sana tidak ada perkampungan atau perumahan. Gawat! Laila dalam bahaya," Fajar pun terus membuntuti taksi yang Laila tumpangi, sementara itu Laila terus memaksa sang sopir untuk berbalik arah.

__ADS_1


"Berhenti! Stop, Pak! Rumah saya bukan ke arah sini, mending turunin saya biar saya cari taksi lain, sepertinya bapak tidak tahu arah jalan, berhenti!" Laila berkata sedikit keras, mungkin saja sang sopir sedikit tuli sehingga tidak bisa mendengar ia berbicara cukup keras.


Di saat Laila cukup membuat sopir itu kesal dengan membuat berisik, spontan sopir itu menoleh ke arah Laila dan berkata, "Bisa diam tidak? Berisik!"


'Deg'


Betapa terkejutnya Laila saat melihat wajah sang sopir yang ternyata itu adalah Agung, mantan kekasihnya.


"Astaghfirullah, Mas Agung! Tidak mungkin!" Laila tidak menyangka jika sopir taksi itu adalah Agung. Agung menyamar sebagai sopir taksi untuk mengelabui Laila, dengan menggunakan topi untuk menyamarkan wajahnya.


"Kenapa? Kamu terkejut melihatku, Sayang? Tidak sulit untukku menemukan keberadaan dirimu, aku memiliki berjuta cara untuk mencarimu, dan sekarang aku tidak akan melepaskanmu, Laila. Tidak ada Ratna di sini, aku akan membawamu ke sebuah tempat, dan kita akan bersenang-senang," sahut Agung dengan tertawa senang.


"Brengsek kamu, Mas! Lebih baik aku mati daripada aku ikut bersamamu, aku sudah sangat muak melihatmu, aku akan keluar dari mobil ini!" Laila berusaha untuk membuka pintu mobil. Tapi sayang, pintu mobil dikunci secara otomatis oleh Agung, sehingga Laila tidak akan bisa keluar dari mobil tersebut.


"Hahaha percuma kamu lakukan itu, Sayang! Sudahlah, ikut saja denganku, aku jamin kamu pasti sangat suka," Agung semakin bahagia dengan ekspresi wajah Laila yang ketakutan.


Fajar yang merasa ada ketidakberesan dalam taksi yang ditumpangi oleh Laila. Ia pun berusaha untuk mencegat mobil taksi itu agar dirinya bisa membawa Laila keluar dan membawanya pergi, karena Fajar sangat yakin jika Laila dalam bahaya.


"Laila, tunggu aku! Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, sopir taksi itu pasti ingin berbuat jahat padamu," Fajar menginjak gas agar dirinya segera memotong jalan taksi itu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2