Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Salah sendiri kamu nggak mau


__ADS_3

"Kamu mengerti, kan?" Fajar menekankan kepada Laila. Entah kenapa Laila mengiyakan begitu saja.


"Iya iya, gitu aja marah, maaf!" jawab Laila spontan. Fajar pun kembali dengan sikap arogannya, ia membalikkan badan dan segera memerintahkan kepada dua bawahannya itu untuk ikut ke dalam dan menemui Tuan Cheng.


"Mas Fajar kenapa marah saat aku menyebut nama Mas Agung? Apa mungkin dia masih cinta dengan Mbak Ratna? Kalau dia udah nggak Cinta dengan Mbak Ratna, mana mungkin Mas Fajar marah, huhh dasar aneh! Eh eh apa dia cemburu padaku, karena aku masih mengingat Mas Agung? Salah sendiri dia yang ingetin tentang sepatu itu duluan. Dikiranya aku nggak tahu apa berapa harga sepatu itu, emang itu persis banget kayak sepatu yang pernah dibeli Mas Agung kok, dibilangin marah," batin Laila.


Laila melihat dari belakang punggung Fajar yang mulai masuk ke dalam kantor. Ia pun mengikuti perintah Fajar sebagai atasannya. Namun, lagi-lagi Fajar berhenti dan itu membuat Laila dan asisten Joko terkejut untuk kedua kalinya.


Langkah kaki Fajar yang tiba-tiba, sontak membuat keduanya mengelus dadanya karena Fajar berhenti begitu saja.


"Eh eh, ada apa lagi, Pak?" tanya asisten Joko.


"Waduh! Apa Mas Fajar mendengar suara hatiku? Kenapa dia berhenti lagi?" gumam Laila.


Bukannya marah, Fajar justru menyuruh Laila untuk berjalan di depannya.

__ADS_1


"Sini kamu!" titah Fajar kepada Laila sambil menunjuk ke arah depan.


"Ngapain, Pak?" tanya Laila bingung.


"Joget!" sahut Fajar spontan.


"Hah, apa? Joget?? Yang bener aja, Pak! Enak aja nyuruh saya joget, apalagi d depan Anda, nggak bisa, saya menolaknya dengan tegas!" seru Laila kesal. Asisten Joko hanya melongo melihat keduanya berantem terus.


"Yang nyuruh kamu joget itu siapa? Kamu pikir aku mau lihat kamu joget, maksudku kamu jalan duluan, cepetan!" titah Fajar yang pada akhirnya Laila pun mengerti.


Untuk sejenak, Fajar berkata lirih di dekat telinga sang sekretaris. "Nggak boleh judes gitu, entar nggak laku-laku loh, udah gitu cantiknya bakalan ilang," ucap Fajar sambil tersenyum kecil.


Tak terima dibilang nggak laku, Laila pun menjawabnya dengan tegas, "Nggak usah ngata-ngatain saya nggak laku, Bapak sendiri juga nggak laku-laku, buktinya sampai sekarang masih menduda. Kenapa? Bapak takut bercerai lagi, ya? Atau emang nggak ada yang naksir Bapak?" ucap Laila sambil berjalan di depan Fajar.


Sontak Fajar memegang lengan Laila sehingga Laila berhenti dan berusaha untuk melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Ihh apa sih, Pak! Lepaskan, kasar banget sih jadi orang!" gerutu Laila sambil melihat ke sekeliling, lagi-lagi ada karyawan yang melihat mereka berdua.


"Aku bisa kasar dan bisa lembut, tergantung dari bagaimana orang memperlakukanku, aku menduda bukan karena takut bercerai atau tidak ada yang naksir, hanya saja aku belum mendapatkan gadis itu, gadis itu susah sekali didapatkan, dia benar-benar membuatku semakin penasaran," sahut Fajar.


"Oh gadis itu pasti si Bulan, iya iya dia memang membuat penasaran, heran aja sama Bapak, bagaimana bisa Bapak suka dengan si Bulan, kayak nggak ada cewek lain aja!" balas Laila.


"Salah sendiri kamu nggak mau!" sahut Fajar yang tiba-tiba membuat Laila tercengang.


"Hah??"


Asisten Joko yang melihat itu cuma bisa


senyum-senyum sendiri.


"Aduhhh nih dua orang, kapan ego mereka turun dan gengsinya ilang? Berantem terus si kucing dan si tikus, hadeehh!" batin asisten Joko sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2