Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Mulai tergila-gila


__ADS_3

Baik Fajar maupun Laila, keduanya sangat terkejut saat melihat wajah pria yang dulu pernah ada dalam hidup mereka. Pria yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan Laila.


Agung pun demikian, pria itu juga terlihat malu saat bertemu dengan Laila. Ia lebih menundukkan wajahnya dan mengucapkan salam kepada pasangan suami istri itu.


"Assalamualaikum, Laila, Fajar!" ucapnya dengan suara pelan.


"Waalaikum salam Warahmatullah!" balas keduanya yang benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Agung di makam Ratna.


Sementara itu, Fira tak kalah terkejut saat melihat Agung mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya.


"Waalaikum salam Warahmatullah. Ustadz Agung ada di makam ini juga? Ya Allah nggak nyangka bisa bertemu dengan Ustadz Agung ... loh kok ada Adam juga?" jawab Fira yang awalnya bahagia bisa bertemu dengan Ustadz favoritnya. Ia juga dikejutkan dengan seorang pemuda yang sedang berdiri di samping seorang wanita di belakang Agung.


Qia pun ikut terkejut saat sang adik menyebut nama Adam. Mahasiswanya yang merupakan teman adiknya juga.


"Fira, Bu Qia!" sapa Adam sambil tersenyum. Mendengar seruan sang anak saat menyebut nama Bu Qia, spontan Agung dan Lela mulai berpikir jika gadis yang dipanggilnya adalah gadis yang sama dengan yang Adam ceritakan tadi, yaitu tentang ibu dosen di kampusnya.


Semuanya tercengang, Fajar dan Laila begitu juga dengan Agung dan Lela.


"Agung, apa kabar kamu?" sapa Fajar sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Agung.


"Alhamdulillah saya baik, Mas! Bagaimana kabar kalian berdua?" balas Agung sembari tersenyum.


"Alhamdulillah, kami juga baik-baik saja. Oh ya, kenalkan ini anak-anakku. Fira dan Qia." Seru Fajar memperkenalkan kedua putrinya kepada Agung.


Agung pun tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya kepada kedua putri Laila. Tentu saja Fira tidak menyangka bagaimana bisa kedua orang tuanya mengenal Agung.

__ADS_1


Fajar melihat banyak perubahan pada diri Agung. Pria itu terlihat memakai jubah berwarna putih dengan sorban yang melingkar pada lehernya. Dan tak lupa peci berwarna putih membuat penampilan Agung benar-benar berkharismatik.


"Abi, Abi dan Ustadz Agung sudah saling kenal?" tanya Fira penasaran. Fajar tersenyum dan berkata, "Iya, kamu benar. Kami sudah lama saling kenal, bukan begitu Agung?"


"Alhamdulillah, iya benar. Oh iya, kenalkan, ini istri dan anak saya, Lela dan Adam!" balas Agung sambil menundukkan istri dan anaknya.


Laila dan Lela saling cipika-cipiki, begitu juga dengan kedua putrinya yang tampak mencium tangan Lela dengan santun.


"MasyaAllah, kalian berdua gadis yang cantik-cantik! Mas Agung ternyata benar. Mbak Laila memang sangat cantik dan shalihah, pantas saja kedua putrinya juga memiliki kecantikan seperti Ibunya," seru Lela saat melihat Fira dan Qia yang berdiri di depannya.


"Terimakasih!" balas keduanya.


"Ngomong-ngomong mana yang bernama Qia?" tanya Lela penasaran karena sang anak memanggil salah satu putri Laila dengan sebutan Qia.


Qia yang merasa ditanya, ia pun tersenyum dan membalas, "Saya, Tante!"


"Subhanallah, jadi ini yang namanya Qia. Pantas saja Adam tergila-gila memang sangat cantik Bu dosen," puji Lela kepada Qia yang tampak tersenyum.


Fira yang mendengar itupun langsung meledek Adam yang masih pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Cie! Yang kesemsem sama dosennya sendiri. Ternyata ya, aku baru tahu loh kalo kamu tuh anaknya ustadz Agung. Kok kamu nggak pernah bilang sih kalau kamu anaknya pak ustadz. Tahu gitu aku minta tolong sama kamu untuk minta fotoin sama ustadz Agung langsung. Nggak harus nunggu ikut pengajian dulu baru bisa foto!" sahut Fira yang membuat semuanya tertawa.


"Ya mana aku tahu kalau kamu penggemar Ayah. Aku pikir penggemar Ayah itu ibu-ibu. Nggak tahunya kamu juga jadi penggemar Ayah!" balas Adam.


Laila benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Agung setelah puluhan tahun mereka berpisah. Kini, keadaan sudah berbeda. Tentu saja itu membuat Laila bahagia akhirnya Agung bisa mendapatkan hidayah dan bertaubat hingga sekarang ia menjadi seorang ustadz.

__ADS_1


"Akhirnya, senang sekali bisa bertemu dengan Mas Agung. Mas Agung sudah banyak berubah ya sekarang!" sahut Laila.


"Iya, Alhamdulillah. Semua ini berkat kalian juga. Saat di dalam penjara, aku mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Terimakasih banyak untuk Mas Fajar karena sudah memenjarakan saya!"


Fajar tersenyum dan menepuk pundak Agung. "Syukurlah jika itu ada manfaatnya. Allah telah membuka hidayah untukmu, sekarang kamu telah menjadi orang besar. Ini benar-benar adalah sebuah hidayah yang nyata dari Allah!"


"Iya, Alhamdulillah. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dan saya telah menyesali perbuatan saya kepada kalian. Saya minta maaf ya sebesar-besarnya kepada kamu Laila. Maafkan aku jika aku pernah membuatmu bermusuhan dengan Ratna. Karena keegoisanku, kamu dan Ratna akhirnya berpisah hingga akhirnya Ratna meninggalkan kita untuk selamanya."


Agung tampak begitu bersedih kala mengingat semua kesalahannya kepada kakak beradik itu.


"Alhamdulillah kalau Mas Agung menyesalinya. Aku sudah memaafkan kamu, Mas! Semuanya sudah berlalu, sekarang yang terpenting adalah doa kita untuk almarhum Mbak Ratna. Inshallah dia juga bahagia melihat kamu sudah bertaubat!"


Anak-anak mereka pun baru menyadari hubungan antara Laila dan Agung. Dan itu baru dimengerti oleh Adam.


"Oh jadi ini adalah sosok Laila yang diceritakan oleh Ayah tadi? Subhanallah ternyata dia adalah ibunya Bu dosen. Pantas saja Bu dosen orangnya kalem dan lembut. Orang ibunya saja kalem banget. Pantesan Ayah dulu tergila-gila dengan Laila. Kayak aku yang juga mulai tergila-gila kepada Bu Qia. Aseeek kalau Ayah sudah berdamai dengan keluarga mereka, itu artinya aku punya kesempatan besar untuk mendekati Bu Qia. Yess!!" Batin Adam sambil senyum-senyum ke arah Qia.


Qia pun tanpa sadar ikut tersenyum saat Adam melempar senyum kepadanya.


"Auuuuwww dia senyum ding! Dia senyum doang udah bikin aku gemetaran, apalagi lebih dari itu. Nggak bisa bayangin jika aku berdekatan dengannya. MasyaAllah pingin tak sun aja pipinya yang memerah itu ... astaghfirullah, aku ini kenapa sih! Ngapain juga berpikiran terlalu jauh sampai sun sun segala. Dasar gila!"


Fira tanpa sengaja melihat aksi keduanya yang saling pandang dan lempar senyuman. Ia pun spontan berdehem sambil berkata, "Pandang terooosss! Awas kelilipan, ya?" sindir Fira kepada keduanya.


Agung dan Lela pun ikut tersenyum melihat ekspresi wajah putranya yang langsung memalingkan wajahnya karena malu. Sedangkan Qia juga tampak berpura-pura memperhatikan sekitar seolah dirinya sedang tidak memperhatikan Adam. Karena pada dasarnya Agung tahu jika putranya tertarik kepada anak sulung Laila.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2