
Tak membutuhkan waktu lama bagi asisten Joko memanggil seseorang yang biasa menikahkan pasangan pengantin. Selang 30 menit, seorang pria berpeci warna putih tiba di kediaman Fajar.
Asisten Joko mempersilakan kepada pria itu untuk segera masuk ke dalam ruangan utama. Fajar benar-benar tidak menyangka jika hari ini juga dirinya harus mengucapkan ijab kabul.
Asisten Joko rupanya sudah mempersiapkan segala sesuatunya, ia hanya duduk sambil memandangi sarung dengan kemeja putih yang dibalut dengan jas berwarna hitam. Sangat simpel sekali.
"Aduh, Pak Fajar nggak ganti baju, itu sudah saya siapkan!" seru Asisten Joko yang masih melihat Fajar memandangi pakaian yang akan ia gunakan untuk mengucapkan ijab kabul.
"Harus pakai sarung, ya? Nggak pakai celana?" Fajar bertanya serius kepada asistennya.
"Ya pakai celana lah, Pak! Masa Pak Fajar bisa nyaman nggak pakai celana, celana dalaam maksudnya, entar kabur loh burungnya, Pak! Eh ... astaghfirullah, nih mulut nggak ada filternya!" asisten Joko memukuli mulutnya sendiri berkali-kali.
Fajar tertawa kecil dan ia pun segera mengambil sarung, kemeja putih dan jas hitam itu. Asisten Joko membantu Fajar untuk merapikan pakaiannya.
"Nah, uluh-uluh! Pak Fajar keren banget, cakep dah! Kelihatan banget aura pengantinnya," puji asisten Joko saat melihat penampilan Fajar yang terlihat berbeda. Apalagi Fajar sudah memakai peci hitam dan semakin terlihat begitu gagah.
Sementara di sisi lain, Mama Ida dan Bibi menghias Laila secantik mungkin, memang tidak seperti pengantin pada umumnya yang cetar dengan make up nya yang bold. Tapi, Mama Ida memoles sendiri wajah Laila dengan makeup sederhana dan natural, Mama Ida yang notabenenya memiliki bakat makeover, dengan mudah Mama Ida membuat wajah calon menantunya cantik natural, wanita yang masih terlihat cantik itu membuat penampilan calon menantunya berubah total.
__ADS_1
"MasyaAllah Mbak Laila! Bibi pangling lihat Mbak Laila, cantiknya. Kalau pak Fajar lihat pasti nggak bakalan berkedip, Mbak Laila terlihat beda banget!" puji Bibi yang melihat penampilan Laila yang sangat anggun, meskipun ia memakai baju gamis panjang dan jilbab yang menjuntai, tapi aura kecantikan Laila tidak pernah hilang. Ia terlihat begitu mempesona meskipun dengan riasan simple dan sederhana.
"Aku memang tidak salah memilih calon menantu, kamu idaman banyak mertua, semoga Allah senantiasa memberikan kebahagiaan untuk kalian berdua," sambung Mama Ida sembari mengusap lembut wajah Laila.
"Terima kasih banyak, Mama. Saya yang sangat beruntung memiliki ibu mertua seperti Mama, tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya, mendapatkan seorang ibu mertua yang sangat humble dan menyenangkan, bahkan kebaikan Mama membuat saya yakin dan mantap untuk menikah dengan Mas Fajar," balas Laila sembari tersenyum haru.
*
*
*
Fajar duduk di depan penghulu sembari menunggu Laila turun, ada rasa gugup yang tidak bisa Fajar sembunyikan, ia terlihat berkeringat dingin dan sesekali menyeka keringat yang membasahi wajah tampannya dengan sapu tangan.
"Rileks, Pak! Tidak usah grogi, biar lancar dan sukses, eh eh tuh calon Ayang udah datang, MasyaAllah Pak Fajar emang nggak salah pilih, bening banget Mbak Laila, kayak putri Arab, duuuuhh!" ucap asisten Joko saat melihat kedatangan Laila yang didampingi oleh Mama Ida.
Fajar yang mendengar ucapan dari sang asisten, ia pun langsung menoleh ke belakang di mana Laila sedang berjalan menghampirinya bersama Mama Ida.
__ADS_1
Laila menundukkan wajahnya, ia tidak berani menatap wajah Fajar yang saat itu hanya terpaku dan tidak berkedip sama sekali.
"Subhanallah! Kenapa aku semakin grogi, tenang-tenang Fajar, harus bisa tenang. Dia cantik sekali ya Allah!" Fajar membatin dengan ekspresi yang salah tingkah.
Kemudian Laila duduk di samping Fajar, sesekali Fajar melirik ke arah Laila, pun sama Laila pun melirik ke arah calon suaminya. Hingga tak sengaja keduanya berbarengan melirik dan saling pandang.
"Aduh, kenapa dia lihat sih!" Fajar langsung menoleh ke arah depan.
"Duuhhh Mas Fajar pakai noleh segala lagi," Laila juga memalingkan wajahnya ke arah sang penghulu.
Akhirnya, pak penghulu pun memulai untuk Ijab kabul. Karena Laila tidak memiliki wali nikah, maka pernikahannya diwakili oleh sang penghulu.
Pak Penghulu mulai menjabat tangan Fajar, setelah itu diikuti oleh Fajar yang mengucapkan ijab Kabul dengan suara tegas dan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Laila Zahira binti Firdaus dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat dan uang senilai 500 $ dibayar tunai."
Dengan satu tarikan nafas, Fajar telah berhasil mengucapkan ijab Kabul, Dokter Hasan dan asisten Joko selaku saksi nikah langsung memutuskan jika pernikahan keduanya telah sah.
__ADS_1
"Alhamdulillah!!"
...BERSAMBUNG...