
Adam tidak pernah bisa membayangkan jika Fajar berkata itu kepadanya. Pemuda itu pun masih menganggap jika Fajar sedang bercanda. Tak lantas Adam percaya begitu saja.
"Om Fajar ada-ada saja. Saya tahu jika Om sedang menghibur saya. Tapi jujur, dari lubuk hati saya yang terdalam. Saya memang sayang kepada Bu dosen saya sendiri. Mungkin di sini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya dari pada saya harus memendamnya sendirian. Maafkan saya jika saya lancang mencintai putri Om."
Ucap pemuda itu sembari tersenyum kecewa. Fajar pun tersenyum dan berjalan ke arah Agung yang sedang berdiri bersama istrinya. Fajar berkata kepada Agung untuk menawarkan sesuatu.
"Ustadz Agung, sepertinya putramu sedang jatuh cinta dengan putriku. Padahal aku sudah berencana untuk menikahkan Qia dengan pria lain. Tapi, sepertinya aku harus membatalkan perjodohan itu. Karena aku lebih tertarik untuk berbesan denganmu, bagaimana?"
Mendengar ucapan dari Fajar, seketika Adam menoleh ke arah kedua orang tuanya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
"Saya sih terserah anaknya saja Mas, jika Adam bersedia, kami pasti juga bersedia. Tapi jika Adam tidak bersedia ...!" belum selesai Agung melanjutkan kata-katanya Adam langsung menyela dan menghampiri Fajar dan Agung yang sedang berbicara.
"Bersedia, saya bersedia. Jangan dengarkan Ayah, Om. Saya bersedia kok, dan saya sangat siap untuk menikah dengan Bu dosen. Alhamdulillah terima kasih ya Allah. Engkau telah mendengar doaku!" Adam tampak begitu bersyukur. Ia pun langsung sujud syukur dan tak henti-hentinya berucap hamdalah.
Fajar pun ikut bahagia, ia melihat ke arah sang putri dari kejauhan. Ia melambaikan tangan kepada Qia dan menyuruhnya untuk datang ke tempatnya.
"Abi memanggilku?" pikir Qia.
Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat meja makan di mana Agung dan keluarganya berada. Adam yang saat itu masih bersimpuh mensyukuri atas kejutan paling bahagia ini. Ia belum menyadari jika berdiri di sampingnya.
Sebelum itu, Fajar telah mengatakan kepada putrinya jika ia akan merestui hubungannya dengan Adam. Sehingga pernikahan kedua putrinya akan dilangsungkan secara berbarengan.
Tentu saja Qia sangat bahagia. Ia pun berterima kasih kepada Ummi yang sudah membantunya berbicara kepada sang Abi.
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya Allah. Ini adalah sebuah berkah terindah dari Mu. Hamba tidak menyangka bisa menikah dengan Bu Qia. Ini benar-benar sebuah keajaiban." ucapnya yang tanpa terasa sambil menitikkan air matanya.
Tanpa sadar ada tangan yang menepuk pundak pemuda itu. Adam mengira itu adalah tangan ibunya.
"Ibu, terima kasih banyak atas dukungan Ibu. Adam sangat bersyukur. Karena doa ibu juga Adam bisa bersatu dengan Bu Qia yang imut dan manis, semanis es tebu!" ucap pemuda itu yang belum sadar jika tangan itu adalah tangan Qia.
Adam membelai serta mencium tangan Qia seolah itu adalah tangan ibunya. Hingga akhirnya, Adam dikejutkan dengan suara sang ibu yang berdiri di depannya.
"Adam, kamu bangun dong! Kamu nggak malu sama Bu dosen!" Seketika Adam tersadar dan membuka kedua matanya. Karena suara itu berasal dari depan bukan dari samping.
Adam membuka mata dan dilihatnya sang ibu yang sedang berdiri di depannya dengan kedua tangannya yang sedang memegang dompet. Lalu, tangan siapa yang sudah ia cium dan belai tadi?
Seketika Adam menoleh ke arah samping. Dilihatnya baju berwarna hitam panjang di mana itu bukanlah baju milik ibunya. Sang ibu memakai baju berwarna marun. Ia pun segera melihat bentuk tangan yang baru saja ia pegang.
"Kenapa tangannya nggak keriput? Masih halus dan cantik. Ini tangan siapa?" batin Adam sambil mulai menatap ke arah atas.
"Astaghfirullah, Bu Qia!" tanpa membuka cadar, Adam tahu betul jika itu adalah Qia. Ia pun terlihat malu-malu ketika ia salah memegang tangan. Sambil cengar-cengir Adam tidak melepaskan tangan Qia. Justru pemuda itu semakin erat menggenggam tangan calon istrinya.
Bukan hanya Adam yang malu. Qia pun juga terlihat malu. Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Adam. Namun apa, Adam justru terus berusaha untuk tidak melepaskan tangan Qia begitu saja.
Tiba-tiba saja.
"Ehem ...!"
__ADS_1
Deheman dari Agung yang sontak mengagetkan Adam.
"Sudah lepaskan! Ingat, kamu bukan muhrim. Nggak boleh pegang-pegang. Kesempatan saja!" ucap sang Ayah.
Adam pun langsung melepaskan tangan Qia, meskipun sebenarnya dirinya tidak ingin melepaskannya begitu saja.
"Kalau begitu, kapan dong Adam bisa menyentuh tangan Bu Qia? Jangan lama-lama, Yah! Nggak baik kan menunda-nunda suatu kewajiban. Harus dilaksanakan secepatnya supaya tidak menimbulkan fitnah dan dosa. Bukankah pacaran itu tidak diperbolehkan? Lebih baik pacaran setelah nikah aja, pasti lebih menyenangkan. Iya kan, Bu? Eh ... Dik Qia!!" seloroh Adam yang membuat semuanya tertawa.
Akhirnya, Fajar pun memutuskan untuk menikahkan kedua putrinya secara bersamaan. Benar-benar hari yang penuh kebahagiaan bagi Qia dan Adam, Fira dan Amir.
Selang beberapa Minggu. Pernikahan kedua putri Fajar dan Laila pun segera dilakukan. Adam dan Amir, kedua calon menantu Fajar dengan tegas dan tanpa pengulangan mereka mengucapkan ijab kabul di depan Fajar dan semua undangan yang hadir.
"Saaaahhhhhhhh!"
Seperti disiram dengan air es. Kedua pasangan pengantin baru itu terlihat sangat bahagia.
Antara malu dan bahagia. Karena hubungan mereka tidak didasarkan oleh pacaran terlebih dahulu. Dan Fajar pun tidak ingin menunda-nunda pernikahan kedua putrinya.
"Abiii!" kedua putri Fajar merangkul dan sungkem kepada sang Abi.
"Putri-putriku!" Fajar tidak bisa membendung air matanya saat melihat kedua anak gadisnya yang akan ia lepas kepada suami-suami mereka. Sejak kecil Fajar menyayangi dan membesarkan kedua putrinya. Kini tiba saatnya Fajar harus melepaskan kedua putrinya untuk berumah tangga bersama pria yang Inshallah akan membahagiakan keduanya.
"Qia, Fira. Dengarkan kata Abi. Sekarang, kalian bukan tanggung jawab Abi dan Ummi. Sekarang kalian berdua milik suami kalian. Pesan Abi, jangan pernah membantah perintah suamimu dan jangan tinggalkan sholat kalian. Patutlah terhadap suamimu. Karena ridho Allah ada pada ridho suamimu. Jangan berkata kasar, saling mengingatkanlah kalian pada kebaikan. Inshallah Amir dan Adam adalah menantu yang baik dan bisa membawa kalian ke Jannah Nya!"
__ADS_1
Baik Qia maupun Fira, mereka berdua pun mendengarkan nasihat dari sang Abi. Mereka akan selalu mengingat perkataan Abi mereka.
"Iya, Abi. Kami akan selalu mengingat pesan Abi. Kami akan berusaha menjadi istri yang shalihah seperti Ummi. Yang selalu dicintai oleh Abi. Kami berharap rumah tangga kami seperti rumah tangga Abi dan Ummi yang selalu penuh kasih sayang. Kami sayang kalian berdua!" seru Qia sembari menitikkan air matanya.