Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Lela


__ADS_3

Agung tidak punya pilihan lain. Ia pun membawa wanita itu ke suatu tempat yang pastinya tempat itu bisa membuat si wanita menjadi lebih nyaman.


Selama dalam perjalanan, Agung hanya diam tanpa berucap apapun. Sementara itu, si wanita pun mencoba mencairkan suasana dengan sedikit berbasa-basi.


"Oh ya, Tuan. Dari tadi saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Laila. Tapi saya biasa dipanggil dengan Lela."


Spontan Agung berhenti saat wanita itu menyebutkan namanya. Laila, iya nama itu mengingatkan dirinya dengan seorang gadis yang pernah ia cintai dan ia sakiti. Siapa lagi kalau bukan Laila, mantan kekasihnya.


Tentu saja si wanita terkejut saat Agung berhenti tiba-tiba.


"Ada apa, Tuan? Kenapa berhenti?" tanya wanita yang bernama Lela itu.


"Tidak apa-apa, maaf. Ayo kita ke sana!" Agung menunjuk ke arah penjual daster kaki lima yang mangkal di sepanjang trotoar. Agung membelikan Lela beberapa daster dan jilbab bergo untuk menutupi rambutnya.


Setelah Agung membayar untuk beberapa daster dan jilbab bergo itu. Kemudian ia meminta Lela untuk memakai daster dan jilbab yang dibelikan nya.


"Pakailah! Setidaknya pakaian ini bisa menutupi aurat Mbak Lela yang terbuka. Supaya tidak ada mata laki-laki hidung belang yang melihat tubuh Mbak yang terbuka."


Lela menerima pakaian yang diberikan oleh Agung. Ia pun kemudian memakainya langsung dan merangkapkan pada baju minimnya. Meskipun hanya sebuah daster panjang, setidaknya lekuk tubuh Lela tidak terlihat lagi. Ditambah lagi dengan jilbab bergo yang ia pakai untuk menutupi rambutnya.


Untuk sejenak, Agung terkejut saat melihat perubahan Lela setelah wanita itu memakai baju tertutup. Agung pun berusaha untuk tidak terlalu dalam memandangi wajah wanita yang baru dikenalnya itu.


"Nah, begitu kan lebih bagus dipandang mata. Mbak Lela juga tidak kedinginan dan tidak digigit nyamuk," seru Agung memuji penampilan baru Lela yang lebih tertutup.


Lela tersenyum, ia pun kemudian memberikan sorban yang ia gunakan sebagai penutup tubuhnya semula. "Terima kasih banyak, Tuan. Anda memang malaikat penolong saya. Saya kembalikan sorban milik Tuan. Jika tidak ada Anda. Entahlah bagaimana nasib saya selanjutnya," ucap Lela yang tak henti-hentinya bersyukur karena Agung sudah menyelamatkan dirinya.


Agung tersenyum dan menerima sorban itu kembali. "Jangan bicara seperti itu. Kebetulan tadi saya lewat, mungkin memang ini sudah rencana Allah mempertemukan saya dengan Mbak Lela. Oh ya nama saya Agung. Panggil dengan Agung. Hmm baiklah ayo kita ke Mesjid. Saya belum sholat isya," ucap Agung sembari beranjak menuju Mesjid yang letaknya tidak seberapa jauh dari tempat mereka sekarang.

__ADS_1


Lela menganggukkan kepalanya. Ia pun terus mengikuti Agung dari belakang. Setibanya di depan Mesjid Agung mengajak Lela untuk masuk. "Ayo kita masuk, kita sholat isya dulu!" seru Agung sambil terus berjalan masuk ke halaman Mesjid. Sejenak Lela terdiam saat melihat rumah Allah yang megah itu.


Agung berhenti dan membalikkan badannya. Ia melihat Lela yang sedang tertegun melihat betapa megahnya Mesjid yang sekarang ia berdiri di bawahnya.


"Kenapa masih di situ? Ayo masuk!" seru Agung. Tiba-tiba terdengar suara dari bibir Lela. "Entah sudah berapa lama saya tidak menginjakkan kaki di Mesjid, terakhir saya datang ke Mesjid ketika masih belum menikah. Setelah menikah justru saya tidak pernah datang ke Mesjid apalagi melaksanakan sholat," ucap Lela penuh penyesalan.


Agung mengerutkan keningnya, entah kenapa dirinya tergoda untuk bertanya kenapa Lela bisa meninggalkan sholat. Karena dirinya juga pernah seperti itu. "Memangnya apa suami tidak pernah mengajak Mbak Lela datang ke Mesjid?" tanya Agung penasaran.


Lela menggelengkan kepalanya, "Tidak pernah, justru dia melarang saya untuk beribadah," jawab Lela.


"Astaghfirullah aladzim, hmm ya sudah, sekarang Mbak Lela bisa melaksanakan sholat lagi seperti dulu, sebelum semuanya terlambat, alangkah baiknya kita bertaubat." Agung terus mengajak Lela untuk berseru kepada Allah. Ia pun tidak ingin bertanya terlalu jauh tentang kehidupan Lela, yang terpenting adalah bisa membuat wanita kembali ke jalan Allah adalah sesuatu yang sangat luar biasa.


Lela terus mengikuti Agung dari belakang. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Jamaah mesjid sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa orang saja bisa dihitung dengan jari.


Lela pun mengikuti setiap langkah Agung dari ia masuk ke pintu utama Mesjid. Agung segera pergi ke tempat wudhu untuk jamaah laki-laki. Sejenak, Agung menoleh ke arah Lela yang masih kikuk untuk masuk ke dalam Mesjid.


"Apa saya masih pantas untuk masuk ke dalam Mesjid? Saya sudah banyak berdosa kepada Allah. Saya perempuan menjijikkan," sahut Lela sembari menundukkan wajahnya.


"Siapa bilang tidak boleh. Justru Allah sangat senang melihat hamba Nya datang kepada Nya. Allah maha pengampun Masih banyak pintu taubat terbuka selagi kita punya niat untuk bertaubat. Jangan takut, ayo kita masuk!"


Mendengar ucapan dari Agung, Lela pun melepaskan alas kakinya dan ia kembali menginjakkan kakinya di Mesjid setelah sekian lama ia tidak pernah lagi datang ke sana.


Lela mengambil air wudhu di tempat khusus jamaah wanita. Ia masih ingat betul tatacara berwudhu. Makeup yang awalnya menghiasi wajah cantiknya. Kini luntur dengan air wudhu, wajah polosnya pun mulai terlihat. Sebenarnya, Lela memiliki wajah yang tidak terlalu buruk. Dia wanita yang memiliki kulit hitam manis dan sedap dipandang mata.


Keduanya menunaikan ibadah sholat isya di Mesjid yang sama. Untuk pertama kalinya, Lela yang berasal dari kubangan hitam, ia duduk bersimpuh kepada Rabbnya. Mungkin, kehadiran Agung adalah malaikat penolong hidupnya.


Setelah keduanya menunaikan sholat isya. Lela terlihat menunggu Agung di depan dengan duduk di teras Mesjid. Lela melihat Agung yang masih berdzikir, sejenak wanita itu tersenyum. Agung terlihat begitu pasrah kepada Tuhannya, pria itu terlihat begitu khusyuk menjalankan ibadahnya. Tak berselang lama, Agung keluar dan melihat Lela yang sudah menunggu di teras Mesjid.

__ADS_1


"Maaf, apa Mbak Lela sudah lama menunggu?"


Lela menggelengkan kepalanya. "Tidak juga," jawabnya sembari tersenyum. Sejenak, Agung memperhatikan wajah Lela yang awalnya penuh dengan makeup tebal. Kini wanita itu polos tanpa bedak sedikitpun. Namun, justru membuat Agung lebih suka penampilan Lela yang tanpa makeup.


"Subhanallah, ternyata dia sangat manis... ah Astaghfirullah, Agung tahan pandanganmu!" batin Agung sambil menundukkan wajahnya.


"Em ... Setelah ini kita pergi ke mana, Tuan?" pertanyaan Lela seketika membuat Agung terkejut.


"Oh ... iya, jangan panggil Tuan, saya ndak enak. Panggil nama saja."


"Oh iya, Mas Agung!" jawaban spontan Lela tentu saja membuat Agung tertawa kecil.


"Mas?? Terserah Mbak Lela saja, asalkan bukan Tuan. Karena saya bukan majikan Mbak Lela," sahut Agung.


"Ya sama, Mas Agung juga jangan panggil saya Mbak dong. Sejak kapan saya menikah dengan kakaknya Mas Agung!" sahut Lela yang kembali membuat Agung terkekeh.


"Ya ya, benar-benar. Oke saya panggil kamu Lela saja kalau begitu. Malam ini rencananya saya langsung naik Bus malam jurusan kota Malang. Tapi, sepertinya Lela perlu istirahat. Kalau begitu besok pagi saja kita lanjutkan perjalanan. Untuk sementara kita istirahat di sini saja." Balas Agung.


"Terima kasih banyak, Mas Agung sudah mengizinkan saya ikut bersama Mas. Saya tidak tahu apa jadinya jika saya dibawa oleh mereka," ungkap Lela.


"Tidak apa-apa, hanya saja saya tidak habis pikir, kenapa kamu sampai ada di tangan mereka? Bukankah kamu sudah memiliki suami?" pertanyaan Agung membuat Lela menghela nafasnya dan terlihat mulai bersedih.


"Saya dijual suami, Mas!"


"Apa?"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2