Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Salah satu diantara mereka


__ADS_3

"Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu!" pamit Agung kepada Fajar dan Laila.


"Loh kok buru-buru? Padahal saya ingin mengajak kalian makan malam bersama sehabis sholat Maghrib, sekalian kita mampir ke mesjid untuk sholat berjamaah. Ya anggap saja ini untuk merayakan pertemuan kita, bagaimana?" tawar Fajar kepada Agung.


"Ah ... gimana ya! Saya sih terserah anak dan istri saja, apa mereka mau untuk ikut makan malam ...!"


Belum selesai Agung menyelesaikan kata-katanya, rupanya Adam sudah menyela pembicaraan sang Ayah.


"Oh ya mau-mau. Kami sangat terhormat dan senang sekali jika Om Fajar mengundang kami untuk makan malam. Iya kan, Yah? Mau dong Yah!!" sahut Adam sambil menempel kepada Ayahnya agar Agung mau menyetujui permintaannya.


Agung pun tersenyum, karena ia tahu jika putranya itu senang bisa berdekatan dengan putri pertama Laila, Qia.


Sedangkan Qia terlihat malu-malu saat melihat sikap Adam yang begitu senang karena mendapatkan ajakan dari sang Abi untuk makan malam.


Namun, tiba-tiba saja Fira teringat jika malam ini mereka sudah janji untuk menghadiri makan malam bersama mantan asisten Fajar, Pak Joko, di mana mereka akan memperkenalkan Qia dengan Amir. Putra kesayangan Pak Joko.

__ADS_1


"Maaf, Abi! Bukannya malam ini kita ada acara, ya? Kita kan ada undangan makan malam bersama Pak Joko," seru Fira.


"Astaghfirullah iya Abi lupa. Ya Allah kok bisa lupa sih. Maaf Agung, sepertinya malam ini kita tidak bisa makan malam bersama. Saya lupa kalau udah ada janji dengan Pak Joko. Mungkin besok kita bisa agendakan, bagaimana?" seru Fajar sembari meminta maaf.


"Oh tidak masalah, Mas. Inshallah jika ada waktu kita pasti bisa bertemu lagi di lain kesempatan," balas Agung menyadari. Sementara itu tampak wajah sedikit kecewa dari seorang Adam. Pemuda itu tampak berwajah muram yang semula sudah sangat bahagia mendadak cemberut.


Sang ibu yang melihat itu, berusaha untuk menghibur sang anak. Lela terlihat menepuk pundak Adam dan memberikan senyum semangat.


Adam pun mengangguk dan mengerti. Sama halnya dengan Qia, gadis itu sebenarnya malas untuk menghadiri undangan makan malam dari pak Joko. Karena dirinya tidak berkenan untuk dijodohkan dengan pria yang tidak ia cintai.


"Hmm ... ide cemerlang, tentu saja jika Agung dan keluarga berkenan untuk menghadiri undangan kita, bagaimana pak ustadz? Apa Anda bersedia untuk menghadiri undangan kami makan siang di ... di mana ya enaknya, hmm oh iya, kita makan siang di hotel Shangrila. Pasti pak ustadz setuju, kan?" seloroh Fajar yang membuat Agung tersenyum malu.


"Ah Mas Fajar ini ada-ada saja!" balas Agung yang merasa dirinya begitu malu saat disebut Fajar seorang ustadz.


"Loh itu memang benar, kan? Harus bangga dong, sekarang Agung sudah menjadi hamba Allah yang taat. Tentu saja kita semua bangga kepadamu. Aku dan istri tentu saja mendoakan supaya kamu selalu Istiqomah dan selalu berjuang di jalan Allah." seru Fajar.

__ADS_1


"Aamiin ya Allah, terima kasih banyak atas doanya, Mas. Aku juga berharap Mas dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan segera diberikan mantu yang Soleh. Sepertinya Mas sudah pantas untuk menimang cucu. Iya kan, Bu!" seloroh Agung sambil melirik ke arah sang istri yang berdiri di sampingnya.


"Iya, kamu benar, Mas. kedua putri mereka sama-sama cantiknya. Kalau saja dibolehkan, saya ingin salah satu diantara mereka menjadi menantu kita. Itu pun jika Mbak Laila berkenan," sahut Lela yang langsung ke topik pembicaraan.


Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi wajah Adam yang terlihat memerah. Ternyata kedua orang tuanya langsung peka dengan keinginannya untuk mendekati Qia.


"Yess!! Ah ibu emang paling tahu hati anaknya. Semoga saja nggak pakai lama!" batin Adam sambil senyum-senyum sendiri menatap wajah Qia. Sementara itu, mendengar ucapan dari Lela, Fira spontan menolak jika dirinya dijodohkan dengan teman kuliahnya itu.


"Waduh, tapi jangan saya ya, Tante! Bukan apa-apa sih. Soalnya saya nggak demen sama dia. Dia terlalu pecicilan, apa jadinya jika Adam nikah sama saya, sama-sama pecicilan, bisa-bisa malam pertama bukan mesra-mesraan tapi perang-perangan. Adam tuh nyebelin. Nih sama kakak aja nih, noh girang kan tuh muka kalau sama kakak!" seru Fira sambil menunjuk ke wajah Adam yang terlihat salah tingkah.


Semua mata pun melihat ke arah Agung yang tampak senyum-senyum malu. Tak ketinggalan Qia juga melihat ekspresi wajah mahasiswa nya itu yang terlihat mulai membuatnya ingin tertawa.


"Ya Allah. Lama-lama mukanya lucu dan nggemesin, astaghfirullah apa aku mulai menyukai mahasiswa ku sendiri?" Qia pun mulai bertanya-tanya dalam hatinya.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2