Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Jambak-jambakan


__ADS_3

Fajar tersenyum lebar melihat ekspresi wajah sang istri. Kemudian pria itu mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar.


"Entar aku tunjukkan bikin apa. Udah tahu nanya lagi. Kita tidur, yuk!" ucap Fajar sambil bergegas menarik tangan Laila untuk ikut bersamanya.


"Eh tunggu dulu. Jawab dulu pertanyaanku!" Laila menahan tangannya agar sang suami berhenti. Fajar pun langsung mengendong sang istri layaknya pengantin baru. Laila pun tampak memukul-mukul dada suaminya. Ia khawatir jika dilihat oleh kedua putrinya.


"Aduh kamu ini gimana sih, Mas. Turunin! Nanti anak-anak pada lihatin. Malu!" seru Laila sembari terus memukuli pundak sang suami.


"Halah biarin aja, pasti mereka sudah tidur. Nggak bakalan lihat!"


Baru saja beberapa langkah Fajar hendak menaiki tangga. Tiba-tiba dirinya merasakan sakit pinggang yang luar biasa. Spontan pria itu sedikit memekik kesakitan sambil menurunkan tubuh istrinya pelan-pelan.


"Aduh pinggangku!" rintihnya dengan satu tangan memegang pinggang dan satu tangannya bergelayut di pilar rumah. Spontan Laila berusaha untuk menolong suaminya.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu bandel sekali sih, Mas. Encok nya kumat, kan!" ucap Laila sembari berusaha memapah suaminya untuk kembali duduk di sofa.


"Aduh aduh. Encok ini bikin gregetan." sahut Fajar sambil menenangkan dirinya. Sementara Laila tampak memberikan obat untuk sang suami. Rupanya suara berisik keduanya didengar oleh kedua putri mereka yang kala itu sudah berada di dalam kamar masing-masing.

__ADS_1


Letak kamar Qia dan Fira yang bersebelahan membuat mereka saling menatap.


"Ada apa? Seperti suara Abi dan Ummi?" seru Qia kepada adiknya.


"Kayaknya, Kak. Pasti Abi dan Ummi sedang berperang. Lihat yuk! Takutnya mereka jambak-jambakan." sahut Fira yang selalu nyeleneh jawabannya. Mendengar ucapan dari sang adik, Qia tertawa kecil membayangkan jika ucapan adiknya itu benar. Abi dan Ummi nya sedang jambak-jambakan.


"Fira! Kamu tuh ya ada aja jawabannya! Masa Abi dan Ummi jambak-jambakan sih, yang benar aja dong!" ucap Qia sambil menggelengkan kepalanya. Kedua gadis itu pun turun dari kamar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan di sisi lain. Setelah Fajar minum obat encoknya. Ia meminta kepada sang istri untuk memijit kepalanya. Laila pun menuruti permintaan sang suami. Ia kemudian beranjak untuk memegang kepala Fajar dan memijitnya pelan.


"Keras dikit, nggak kerasa!" sahut Fajar saat merasa jika pijitan istrinya kurang kuat. Laila pun sedikit menekan-nekan kepala sang suami. Namun, Fajar juga masih belum merasa kuat pijitin istrinya.


"Benar nih dijambak? Nanti kamu kesakitan, Mas!" protes Laila yang khawatir suaminya justru merasa sakit.


"Enggak, ngga bakalan. Udah jambak aja nggak apa-apa!"


"Beneran ya!"

__ADS_1


Laila pun mulai menjambak rambut suaminya. Fajar pun terlihat memejamkan matanya saat sang istri menjambak rambutnya. Seolah dirinya merasakan kepalanya sedikit berkurang rasa pusingnya.


Benar saja, saat kedua putrinya turun. Mereka berdua melihat sang Ummi yang sedang menjambak rambut Abi mereka.


"Astaghfirullah aladzim, Ummi!" seru Qia yang sangat terkejut.


"Tuh kan apa kubilang. Abi dan Ummi pasti jambak-jambakan. Duhh kenapa bisa KDRT gitu sih, Ummi. Pasti Abi udah nyakitin hati Ummi tuh. Makanya Ummi sampai kesel sama Abi. Aku nanti juga gitu ah, kalau aku disakiti suami bakal aku balas balik. Hebat Ummi kita ya, Kak!" ucapan sang adik membuat Qia mencubit pipi Fira.


"Ini apa sih bawel! Belum nikah udah kepikiran bales suami." sahut Qia.


Rupanya perdebatan kedua putri mereka tanpa sengaja terdengar di telinga sang Abi.


"Ngapain kalian bisik-bisik di situ?"


Spontan kedua gadis itu melongo saat sang Abi mengetahui jika mereka berdua sedang berbisik di balik pintu.


"Hehe Abi. Kok tahu sih kalau kita ada di sini? Abi nggak apa-apa, kan? Apa Abi terluka. Ummi kok tega banget sih jambak rambut Abi. Apa Ummi udah nggak sayang lagi sama Abi?" seru Fira sambil memeluk sang Abi.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2