Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Terong balado


__ADS_3

"Ke kantor? Hmm ... bagaimana ya, sebenarnya aku tidak suka kamu bekerja, aku ingin kamu di rumah saja. Karena aku juga sangat membutuhkan sekretaris jadinya ya udah deh, untuk sementara kamu jadi sekretarisku. Setelah aku mendapatkan sekretaris penggantimu. Maka kamu tidak boleh bekerja di kantor manapun, kamu duduk manis di rumah saja, biar aku yang bekerja,"


Laila terlihat senang, ia pun menganggukkan kepalanya. "Terima kasih banyak, Mas! Aku pasti akan membantumu."


*


*


*


Di meja makan.


Hidangan pagi ini sungguh membuat Mama Ida terkejut, ia melihat beberapa makanan sederhana tapi terlihat sangat lezat.


"Hmm ... aromanya wangi sekali, ini pasti sangat lezat. Apa Bibi yang memasaknya?" tanya Mama Ida kepada Bibi.

__ADS_1


"Bukan, Nyonya. Tadi Nyonya Laila yang memasak sendiri semua hidangan ini, dari dulu Nyonya Laila memang pintar memasak, saya yakin Nyonya pasti suka." Bibi pun memuji kepiawaian Laila dalam memasak.


"Benarkah? Ternyata bukan cuma pintar dan cantik, Laila juga pintar memasak," Mama Ida pun tidak sabar ingin segera mencicipi makanan hasil olahan dari sang menantu.


Tak berselang lama, Laila datang dengan seragam kantornya didampingi Fajar yang selalu mendampingi istrinya.


"Selamat pagi, Ma!" sapa Fajar kepada sang Mama. Mama Ida melihat kedatangan sang anak dan menantunya yang terlihat sudah rapi dengan baju kantornya.


"Eh ... Kalian mau ke kantor? Fajar, kenapa istrimu harus ikut ke kantor?" tanya Mama Ida yang terkejut saat melihat penampilan Laila.


"Iya, Ma. Tidak apa-apa, biarkan Laila pergi ke kantor bersama Mas Fajar, karena Mas Fajar masih belum mendapatkan sekretaris baru, itupun baru kemarin Laila bekerja di kantornya Mas Fajar. Jadi, tidak masalah Laila membantu pekerjaan Mas Fajar sampai dia bisa mendapatkan sekretaris baru," terang Laila.


"Sebenarnya Fajar juga tidak mau Laila ikut bekerja, tapi Fajar memang membutuhkan seorang sekretaris karena pekerjaan Fajar sangat padat, Ma! Jadi, Fajar butuh bantuan seorang sekretaris, itupun Fajar tidak gampang - gampang menerima sekretaris baru begitu saja, hanya istriku sendiri yang cocok. Iya, cocok dalam segala hal tentunya!" Fajar berkata sembari melirik ke arah wajah sang istri yang pagi ini terlihat cantik dengan hijab shawl berwarna nude, dengan polesan tipis namun terkesan begitu segar.


Pagi itu, sarapan pagi untuk Fajar sudah Laila persiapkan, Fajar terlihat sumringah, ia melihat beberapa menu makanan yang belum pernah ia jumpai.

__ADS_1


Laila mengambilkan nasi untuk sang suami, dengan terong balado ikan teri. Menu sederhana, tapi cukup membuat Fajar menelan ludah.


"Hmm ... apa ini, Sayang? Kayaknya pedas sekali, dilihat dari tampilannya yang berwarna merah, pasti rasanya sangat pedas," Fajar melihat hidangan di depannya sangat - sangat menggoda selera. Lalu memakannya dengan lahap.


"Ini namanya terong balado, Mas! Kenapa, kamu tidak suka pedas?" tanya Laila sembari mengambilkan air minum.


"Hmm ... waahh pedas sekali, kamu mencampur cabe satu kilo ya ke terong ini?"


"Nggak juga sih, Mas! Cuma segenggam aja, kalau nggak pedas nggak enak, namanya juga terong."


Percakapan keduanya ternyata mendapat perhatian dari Mama Ida dan Bibi yang tidak jauh dari posisi mereka. Mama Ida dan Bibi tampak tertawa kecil mendengar perbincangan mereka berdua.


"Hmmm ... mungkin ini yang dinamakan terong dicabein, kayak lagu dangdut itu kan, ya? Siapa tuh penyanyinya, Siti Badrun?"


Sontak Laila tidak bisa menahan rasa ingin tertawa nya saat sang suami menyebut nama Siti Badrun bukan Siti Badriah.

__ADS_1


"Eh kok malah ketawa sih? Ada yang salah dengan terong nya?" sahut Fajar sambil berpikir keras.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2