Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Wajib genit


__ADS_3

Fajar melihat Laila yang sedang tertawa senang, ia pun ikut tertawa bersama istrinya. Hingga akhirnya, Fajar sudah tidak sabar lagi untuk tidak menyentuh wajah istrinya.


"Laila!" Fajar menangkup wajah sang istri dan menatapnya lekat-lekat.


"Hmm!" Laila memegang kedua tangan Fajar yang sedang berada pada wajahnya. Untuk sesaat Fajar menatap mata lalu turun ke bibir Laila, berkali-kali seperti itu.


"Ada apa, Mas? Apa yang ingin kamu katakan?" sahut Laila yang masih betah duduk di atas pangkuan suaminya.


"Kenapa kamu bisa seberani ini? Kamu tidak takut duduk di sini?" tanya Fajar.


"Takut? Kenapa aku harus takut? Apa yang harus aku takutkan, Mas?" sahut Laila sambil mengernyitkan dahinya.


"Hmm ... iya itu, takut kamu nggak nyaman, dan ...!" Fajar tidak melanjutkan kata-katanya karena Laila justru bergerak-gerak sehingga membuat Fajar meringis merasakan hal yang teramat tidak nyaman.


"Laila, kumohon! Jangan banyak bergerak! Diam lah! Nanti dia ngamuk!"


Mendengar ucapan dari Fajar, Laila pun juga berkata, "Ini apa sih, Mas! Kok rasanya ganjal banget? Ngamuk? Memangnya siapa yang ngamuk?" Laila berhenti bergerak dan menatap wajah suaminya yang seolah sedang menahan sesuatu.


"Ah sudahlah! Kamu tidak akan mengerti, katakan padaku! Bagaimana bisa kamu seberani ini tiba-tiba duduk di atas pangkuanku? Ternyata kamu itu nakal sekali, ya?" ucap Fajar sambil mencubit hidung Laila.


"Emmm ... apa sih, Mas! Nggak boleh ya aku genit dengan suamiku sendiri? Bukankah itu tugas seorang istri yang sesungguhnya, wajib genit di hadapan suaminya? Kalau kamu tidak suka, ya sudah aku turun!" Laila bergegas untuk turun. Namun, Fajar menahannya dan bahkan semakin mempererat pelukannya kepada Laila.

__ADS_1


"Eh mau kemana? Jangan pergi dong! Enak aja main pergi," ucap Fajar sambil membelai rambut sang istri dan meletakkan rambut panjang itu ke arah samping, sehingga leher jenjang Laila terlihat begitu sempurna.


"Kalau kamu nggak suka, biar aku turun aja. Mungkin kamu keberatan dengan berat badanku?" sahut Laila sambil memainkan kancing baju milik suaminya. Fajar terkekeh, tawa manisnya memperlihatkan deretan gigi yang putih itu.


"Kalau aku keberatan, udah dari tadi aku suruh kamu turun. Hanya saja aku merasa sangat tidak nyaman, bisakah kamu geser sedikit saja, kamu sudah menjepit burung hantuku!"


Mendengar pengakuan dari sang suami, seketika Laila turun dari pangkuan suaminya dan terlihat salah tingkah karena ia tidak sengaja sudah membangunkan burung hantu yang sedang tertidur.


"Burung hantu? Masa ada burung hantu dalam sarungmu ...?" Laila membulatkan matanya saat mendengar kata burung hantu yang sedang terjepit. Sejenak, Laila tersadar jika itu bukanlah burung hantu sembarangan. Tapi burung hantu keramat.


"Astaghfirullah ... ma-maaf, Mas! A-aku tidak tahu kalau burung hantumu bangun, ya Allah! Aku pikir burung hantu beneran, ternyata burung hantu yang itu. Bener Mas aku minta maaf!" ucap Laila yang merasa begitu bersalah kepada sang suami karena ia tidak sengaja membangunkan si burung hantu keramat milik suaminya.


"Kamu mau kemana, Mas?" Laila melihat Fajar sedang terburu-buru untuk masuk ke dalam kamar mandi, karena dirinya hendak memperbaiki kondisi yang berada di dalam sarung itu.


"A-aku ke kamar mandi dulu," balas Fajar.


"Oh ... jangan lupa wudlu sekalian ya, Mas! Kita belum sholat isya," ucap Laila sembari ikut beranjak berdiri.


Fajar tersenyum dan menepuk jidatnya. "Oh iya lupa Astaghfirullah! Tentu saja. Oh iya nanti aku akan minta pelayan untuk mengambilkan mukena untukmu, terima kasih sudah mengingatkan!"


"Kamu tidak usah repot-repot, Mas! Biar aku yang ambil bajuku sendiri," sahut Laila.

__ADS_1


"Kamu di sini saja! Biarkan mereka yang membawanya untukmu!"


Sebelum Fajar masuk ke dalam kamar mandi, ia menyempatkan untuk menelepon pelayan agar membawakan Laila sebuah mukena dan baju ganti. Laila pun menuruti perintah sang suami, ia pun menunggu kedatangan pelayan untuk membawakan mukena untuknya.


Sementara di tempat lain, Mama Ida tidak sengaja mendengar pelayan menerima telepon dari Fajar.


"Siapa tadi, Fajar?" tanya Mama Ida menyelidik.


"Iya Nyonya! Pak Fajar minta diantarkan mukena dan baju ganti untuk Nyonya Laila!" mendengar pengakuan dari sang pelayan. Mama Ida pun memiliki sebuah rencana.


"Oke! Biar aku yang siapkan, nanti kamu antar ke kamar mereka, ya!" ucap Mama Ida yang mulai melakukan sesuatu.


"Baik, Nyonya!"


Mama Ida pun mulai beraksi, wanita itu pun menyiapkan sebuah mukena untuk sang menantu, tapi Mama Ida juga menyelipkan sesuatu diantara lipatan mukena itu.


"Ahhh ... sudah beres! Ini adalah kejutan untuk menantuku, aku harap dia mau memakainya," ucap Mama Ida lirih dan berharap jika Laila akan memakainya di malam pengantin mereka.


"Sekarang, antarkan ini ke kamar Fajar!" titah Mama Ida sambil memberikan mukena berisi kejutan itu untuk menantunya.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2