
Mobil Agung melaju dengan kencang. Laila pun dibuat dilema apakah dirinya harus mengatakan hal itu kepada Fajar. Tapi, ia masih terbelenggu dengan janjinya kepada Ratna.
"Ya Allah! Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengatakannya kepada Mas Fajar? Tapi apa dia percaya dengan kata-kataku, aku tidak punya bukti perselingkuhan Mbak Ratna dan Mas Agung. Astaghfirullah aladzim! Apalagi ini ya Allah,"
Laila terlihat cemas dan gelisah. Ia pun balik ke rumah dan mengambil ponselnya yang tertinggal. Setelah Laila mengambil ponselnya lagi. Ia pun menelepon kakaknya yang saat ini sedang bermesraan bersama Agung.
Tentu saja, Ratna melihat ke layar ponselnya jika sang adik tengah menghubunginya.
"Laila!!" seru Ratna yang tak sengaja didengar oleh Agung.
"Siapa, Laila?" tanya Agung. Ratna pun mengangguk dan segera mengangkat telepon dari Laila.
"Ck! Gangguin saja tuh anak!" umpat Agung yang terpaksa menghentikan ciuman mereka karena Ratna harus menerima telepon dari sang Adik.
"Halo, Laila!"
"Mbak Ratna! Aku ngga nyangka ya jika Mbak Ratna udah bohongi aku, kenapa sih Mbak nggak berubah juga!" seru Laila yang tak bisa menahan emosinya.
"Kamu ini ngomong apa sih?" elak Ratna.
"Udah deh! Mbak Ratna nggak bisa bohongi Laila lagi, Laila udah tahu kalau Mbak Ratna dan Mas Agung masih ketemuan kan, Mbak? Baru saja Laila lihat kalian berdua jalan dan Mbak Ratna ada di dalam mobil Mas Agung!" ucapan Laila seketika membuat Ratna terkejut.
"Sialan! Bagaimana bisa Laila tahu kalau aku sedang berada di dalam mobilnya Agung. Ck! Ini tidak bisa dibiarkan, bisa-bisa Laila mengatakannya kepada Mas Fajar," batin Ratna yang mulai khawatir.
"Ah enggak kok! Siapa bilang Mbak ada di dalam mobil Agung. Kamu salah lihat kali, aku nggak ketemu kok sama Agung. Mbak memang pergi ke luar untuk beli ke minimarket, dan Mbak nggak merasa ada di dalam mobil Agung. Beneran demi Allah!" ucap Ratna dengan menyebut nama Allah untuk meyakinkan adiknya agar percaya.
"Ah masa iya sih aku salah lihat! Tadi itu benar-benar Mbak Ratna. Laila nggak mungkin salah," sangkal Laila yang tetap bersikukuh jika dirinya memang melihat Ratna dan Agung.
__ADS_1
"Udah deh, Laila. Kamu nggak percaya Mbak gitu sih, mana mungkin Mbak bohongi kamu. Mbak sudah janji atas nama Allah, nggak mungkinlah Mbak ngilangin lagi. Jangan sampai kamu memfitnah Mbak dan bilang macam-macam sama Mas Fajar. Mbak nggak akan pernah maafin kamu. Udah! Mbak mau pulang saja. Masa pergi ke minimarket sebentar saja sudah difitnah macam-macam." Ratna berusaha untuk mencari pembenaran atas apa yang dilakukan agar sang adik merasa bersalah.
Ratna pun menutup teleponnya dengan cepat, dan Laila pun dibuat dilema setengah mati. Matanya masih sehat untuk mengenali wajah seseorang dan itu benar-benar sang kakak.
"Astaghfirullah aladzim! Hanya Engkau yang bisa menolong hamba, itu benar-benar Mbak Ratna dan hamba tidak salah lihat, semoga Mas Fajar segera mencium kebohongan mereka berdua. Maafkan Laila, Mas Fajar!"
Setelah menutup telepon dari Laila, Ratna meminta Agung untuk mengantarkannya pulang.
"Sebaiknya, antarkan aku pulang! Laila tahu kalau kita sedang bersama," seru Ratna kepada Agung.
"Apa, Laila tahu? Ya biarin aja lah," sahut Agung santai.
"Nggak bisa! Aku tidak mau Mas Fajar sampai tahu hubungan kita, bisa-bisa dia akan menceraikan aku dan aku nggak dapat apa-apa dari dia! Kalau kamu masih inging berhubungan denganku. Maka kamu harus ikuti semua perintahku," ucap Ratna yang memaksa Agung untuk mengantarkannya pulang.
Agung pun mengikuti perintah Ratna, meskipun dirinya tidak perduli jika Fajar mengetahui hubungan terlarang mereka. Karena tak ingin ditinggalkan Ratna, Agung pun bersedia mengikuti semua permintaan Ratna.
*
*
*
Malam itu, rupanya Fajar menagih janjinya sebagai seorang suami. Karena sejak menikah, Fajar dan Ratna belum melakukan tugas mereka sebagai suami istri yang sah. Tapi, rupanya Ratna berkilah ia belum siap untuk melakukannya, lagi-lagi Fajar dibuat kecewa oleh sang istri dengan penolakan yang dilakukan oleh Ratna.
"Maaf, Mas! Aku belum bisa melakukannya, aku mohon kamu bisa mengerti, aku tidak ingin melakukannya dengan terpaksa, beri aku waktu, pliss!" ucap Ratna yang membuat Fajar sedikit kecewa. Ia sudah menunggu seminggu lamanya saat Ratna mengaku jika dirinya sedang datang bulan.
Kini, Fajar harus menghela nafas panjang, karena Ratna lagi-lagi menolak dirinya.
__ADS_1
"Ya sudah! Kalau begitu tidurlah! Aku juga tidak ingin memaksamu untuk melakukannya," seru Fajar sembari tersenyum. Sungguh Fajar harus bersabar lagi untuk mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
Mereka berdua pun beranjak tidur. Hingga akhirnya di tengah malam, Fajar terbangun karena dirinya sedang ingin ke kamar mandi. Namun, ada satu pemandangan yang cukup menyita perhatian Fajar, saat ini Ratna sudah tertidur pulas. Namun, tanpa sengaja Fajar melihat tanda merah pada bagian dada sang istri yang kebetulan terlihat saat Ratna merubah posisi tidurnya. Dan itu bukan hanya satu, tapi ada beberapa tanda di sana.
"Apa itu? Seperti tanda cinta? Astaghfirullah! Apa mungkin Ratna!?? Aku tidak boleh suuzdon dulu. Aku harus cari tahu tanda apa itu sebenarnya. Ratna harus mengatakannya!" pikir Fajar yang mulai curiga.
Setelah melihat tanda merah pada tubuh istrinya, Fajar pun tidak bisa tidur, ia memilih keluar kamar untuk menenangkan dirinya. Tiba-tiba saja matanya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di ruang depan sembari membaca Alquran.
Sejenak, Fajar mendekati suara merdu itu. Fajar tidak bisa pungkiri jika dirinya begitu tenang saat mendengar ayat-ayat Alquran yang dibacakan dengan indah oleh suara yang benar-benar membuatnya takjub.
"Subhanallah! Suara nya sangat menyentuh hati," ia pikir itu adalah pelayan di rumah mereka. Ternyata Fajar salah besar, rupanya yang sedang mengaji dan membuat hatinya tenang adalah sang adik ipar, Laila.
Fajar tersenyum dan tampak mendengarkan dengan penuh penjiwaan, hatinya yang sedang gundah tiba-tiba sejuk seketika.
"Shodaqollohul 'adzim!" Laila mencium dan setelah itu menutup Alquran yang dibacanya.
"MasyaAllah! Ternyata suaramu merdu sekali, Laila! Mengalahkan para juara MTQ." Pujian yang tiba-tiba muncul dari Fajar, seketika membuat Laila tertawa kecil.
"Eh Mas Fajar! Mas Fajar ada-ada saja deh! Masa suara pas-pasan gini bisa ngalahin juara MTQ," balas Laila merendah.
Fajar pun ikut duduk di kursi dan menemani Laila.
"Loh Mas Fajar kok nggak tidur? Nanti Mbak Ratna nyariin loh!" ucap Laila. Fajar tersenyum dan berkata, "Ratna sudah tidur. Tadi aku terbangun dan nggak sengaja mendengar suara ngaji yang membuatku penasaran, aku pikir tadi suara Mbok Sri ya sedang mengaji, ternyata setelah aku lihat yang mengaji juga memiliki wajah yang cantik seperti suaranya," lagi-lagi Fajar membuat Laila tersipu malu.
"Kamu sendiri, kenapa belum tidur? Kamu tahu sekarang sudah jam tiga pagi, kamu nggak takut jam segini bangun dan sendirian lagi," seru Fajar. Laila pun tersenyum.
"Ngapain takut, Mas! Aku udah biasa bangun di jam-jam begini. Setelah sholat tahajud, aku nggak bisa tidur lagi, jadi aku ke sini saja sambil baca Alquran. Aku pikir nggak ada yang denger. Eh tahu-tahunya Mas Fajar nguping," sahut Laila yang seketika membuat Fajar tertawa.
__ADS_1
"Nguping?? Ya ya dasar aku tukang nguping!" celetuk Fajar yang akhirnya mereka berdua saling tertawa.
...BERSAMBUNG ...