
Sesampainya di kamar pengantin, Adam menunjukkan kamar yang sekarang menjadi kamar berdua. Masih dengan malu-malu, Adam yang masih kikuk menjelaskan setiap sudut kamar yang bernuansa warna biru itu.
"Emm ... ini kamar kita, di sana kamar mandinya, dan di situ ada lemari baju, di sebelah sana ada ruang ganti, dan itu ranjang tidurnya. Semoga kamu suka dengan kamar ini." ucap Adam sambil senyum-senyum.
Qia memperhatikan sekeliling kamar sang suami, ia pun tersenyum dan terlihat nyaman dengan suasananya yang adem. Qia duduk di atas ranjang itu dan terlihat begitu bahagia.
"Kamarnya nyaman, aku suka." balas Qia sambil menepuk-nepuk kasur empuk itu.
"Syukurlah kalau kamu suka. Emm ... kalau begitu aku sholat isya dulu, setelah itu kita istirahat!" pamit Adam sebelum dirinya mengambil air wudhu.
"Tunggu, kok kamu jahat banget sih!" seru Qia yang seketika membuat Adam menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang istri.
"Maksudnya? Aku jahat kenapa?" tanya Adam dengan menautkan kedua alisnya.
"Masa kamu nggak ajak aku sholat sekalian, kamu tega ninggalin aku?" ucap Qia yang langsung membuat Adam tertawa kecil.
"Astaghfirullahal adzim! Maaf-maaf aku lupa, kebiasaan sholat sendiri jadi aku belum ngeh jika sekarang sudah ada makmum yang selalu di belakangku. Baiklah, ayo kita ambil wudhu!"
Qia menganggukkan kepalanya dan mulai membuka peniti untuk melepaskan hijabnya. Seketika Adam diam terpaku ketika Qia mulai melepaskan penutup kepala yang selama ini tidak pernah ia buka.
Tanpa risih apalagi malu. Qia dengan santainya melepaskan jilbab yang sedari kecil tidak ia perlihatkan kepada semua orang kecuali kepada kedua orang tuanya dan mahramnya. Namun kali ini, Adam dibuat melongo saat ia pertama kali melihat Bu dosen tanpa berjilbab. Qia menggerai rambut hitam panjangnya, sungguh kecantikan gadis itu teramat indah bagi seorang Adam yang selama ini hanya melihat wajah Qia dengan berjilbab. Seolah ia mendapatkan berlian yang indah ketika Qia menanggalkan hijabnya di depan dirinya.
__ADS_1
"Subhanallah, sungguh cantik ciptaan Allah. Apa aku sedang melihat bidadari surga ataukah aku sedang bermimpi!" Adam tampak menepuk dan mencubit tangannya sendiri, seolah tak percaya jika dirinya melihat kecantikan paripurna dari istrinya sendiri.
Qia mengerutkan keningnya dan tersenyum kepada sang suami. Gadis yang cenderung kalem itu tampak menundukkan wajahnya ketika sang suami menatapnya begitu dalam.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu tidak suka? Ataukah aku terlalu jelek?" ucap Qia dengan suara merdunya. Adam mendekati istrinya, tangannya sudah tidak sabar ingin membelai kecantikan Qia yang sangat menggoda dirinya.
"Siapa bilang aku tidak suka, itulah kenapa aku sangat penasaran denganmu, ada sebuah berlian yang kamu sembunyikan di balik kerudung ini. Iya, kecantikanmu yang terpancar begitu indah, rambut ini begitu wangi dan sangat memukau,"
Adam yang sejatinya sedikit pecicilan, ia pun tak sabar untuk menyentuh rambut dan wajah Qia. Ia menghirup aroma harum dan dari rambut sang istri. Qia terlihat begitu malu dan ia pun membalikkan badannya.
"Hei, kok malah balik badan sih! Aku belum puas melihat wajah Bu dosen yang cantik ini." ucap Adam sambil menahan tangan sang istri.
Qia semakin panas dingin saat tangan besar itu melingkar dan membelai tubuhnya. Sesekali Adam mencium pipi Qia untuk pertama kalinya. Qia memejamkan matanya dan menikmati sentuhan ujung bibir Adam yang terasa begitu menggelikan karena bulu-bulu halus yang ada pada wajah Adam bergesekan dengan kulit Qia yang halus.
"Emm ... jangan, sabar dulu! Kita sholat isya dulu," Qia dengan cepat melepaskan tangan Adam dan menjauhkan dirinya dari sang suami yang saat itu sedang menikmati aroma tubuhnya.
"Ya elah Bu dosen. Baru juga bangun, harus digantung ya!"
Ucapan Adam seketika membuat Qia membulatkan matanya.
"Baru bangun apanya?" tanya Qia.
__ADS_1
"Em ... itu anu ... Ular nya yang baru bangun!" sahut Adam mencari alasan.
"Ular! Di mana ada ular?" Qia terlihat begitu takut saat Adam berkata seperti itu. Karena Qia sangat jijik dengan hewan ular.
"Kamu takut dengan ular?" tanya Adam sembari memicingkan matanya. Spontan Qia mendekati suaminya dan terlihat begitu khawatir jika saja ada ular di kamar itu.
"Jangan bilang kalau di kamar ini ada ularnya, aku takut sekali."
Ada senyum sumringah terukir dari bibir Adam. Ia pun berinisiatif untuk mengerjai istrinya di malam pengantin mereka.
"Oh ... iya, kemarin kamarku kemasukan ular, sampai sekarang aku belum bisa menemukan keberadaan ular itu. Nggak besar sih, tapi jika sudah bangun pasti sangat garang dan bisa ngamuk parah. Bisa bikin kamu nangis kejer." Adam tampak menakut-nakuti istrinya agar sang istri semakin dekat dengannya.
"Masa sih! Jadi sampai sekarang ularnya belum keluar dari kamar ini?" benar saja, Qia pun lebih merapat kepada suaminya.
"Aku nggak tahu, aku berharap ularnya udah keluar, tapi kalau masih ada mungkin dia masih tidur, jadi sebaiknya kamu jangan jauh-jauh dariku. Nanti kalau ularnya muncul biar aku buang. Oke!"
Qia menganggukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya pada dada sang suami. Kesempatan untuk Adam untuk memeluk istrinya.
"Uuhhhhh ... anget dipeluk seperti ini, astaghfirullah! Ada yang mengganjal di dada. Gila beud gede kayaknya, asseeemmm makin penasaran aja!!!"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1