
Akhirnya, Mega meminta maaf kepada Fajar dan Laila atas sikap buruknya, wanita itu menyesal telah mengatakan hal buruk kepada Laila. Nyatanya Laila yang sudah menolongnya dari rasa malu yang luar biasa.
"Aku minta maaf kepada kalian berdua, seharusnya aku malu dengan ucapanku, tidak sepantasnya aku berbicara buruk kepada wanita shalihah seperti Laila, em maaf Nyonya Fajar. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf ya sebesar-besarnya atas omongan saya yang sudah menyakiti perasaan Nyonya Fajar. Maafkan aku!" Mega terlihat menundukkan wajahnya karena rasa malu yang teramat dalam.
"Bu Mega tidak perlu seperti itu, saya bisa memakluminya, mungkin bagi sebagian orang hubungan kami memang terlihat aneh, tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba menikah begitu saja, saya dan Mas Fajar bagaikan perputaran siang dan malam, Mas Fajar selalu ada saat saya berada dalam kegelapan, dia yang selalu membuat saya tertawa, dia juga yang sudah menerangi malam kelam saya di mana sebuah mimpi buruk hampir saja membuat seorang Laila ternoda. Maaf, jika saya terlalu berlebihan, lupakan!"
Laila tampak menyandarkan kepalanya pada dada Fajar, menyembunyikan rasa malunya saat sang suami tersenyum menatap dirinya, seolah-olah pria itu ingin sekali melakukan sesuatu padanya. Iya, tatapan mata itu ingin sekali memangsa Laila hidup-hidup.
Di saat yang bersamaan, para karyawan pun turut meminta maaf kepada Laila. Hanya karena prasangka buruk, mereka seolah menjudge Laila aneh-aneh.
__ADS_1
"Maafkan kami, Pak Fajar, Bu Laila. Kami tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Bu Laila, kami tidak tau kalau Pak Fajar dan Bu Laila sudah menikah. Kami mohon jangan pecat kami, Pak!" rengek para karyawan itu yang sudah membuat berita tidak benar.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku akan memaafkan kalian, jika istriku juga memaafkan. Semua tergantung pada keputusannya, karena bisa saja dengan mudah aku mencari karyawan baru yang lebih kompeten dan tidak mudah menyebarkan berita tidak berguna," pungkas Fajar yang membuat beberapa karyawan itu ketar-ketir.
"Bu Laila, tolong maafkan kami, Bu! Kami sangat membutuhkan pekerjaan, kalau kami dipecat, terus keluarga kami mau makan apa?"
"Sudahlah, Mas. Maafkan saja mereka, toh mereka pasti berasumsi seperti itu karena kita memang belum mengumumkan pernikahan kita. Jadi, kita maafkan saja, ya!" bujuk Laila dengan suara manjanya.
"Oke! Karena ini adalah sebuah kesalahpahaman, dan istriku sudah memaafkan, aku maafkan kalian!" keputusan Fajar tentu saja membuat karyawannya menjadi lega dan bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Fajar! Kami doakan semoga pernikahan Pak Fajar dan Bu Laila bahagia selalu sampai kakek nenek, dan pastinya semoga segera diberikan momongan yang banyak," ucapan itu rupanya membuat Fajar sangat sumringah.
"Terima kasih banyak, tentu saja. Itu sudah termasuk dalam daftar list tujuan hidup rumah tangga kami, punya anak banyak, iya tepat sekali," pernyataan Fajar rupanya membuat Laila sangat malu.
Fajar mendekati istrinya dan berbisik, "Tuh kamu denger sendiri, mereka pasti mendoakan kita untuk memiliki anak banyak. Jadi, kamu harus bersiap-siap untuk melahirkan anak banyak untukku. Kita tidak akan menundanya, kalau bisa sekalian kembar sepuluh," bisikan itu terdengar begitu menggelikan di telinga Laila.
"Astaghfirullah, Mas! Kembar sepuluh? Emangnya aku kucing!"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1