Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Duda perjaka


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Fajar mengantar Laila untuk pulang. Kali ini Fajar tahu di mana Laila tinggal, pria itu tampak menghela nafasnya saat melihat kondisi tempat tinggal Laila.


"Terima kasih banyak, Mas. Kamu sudah mengantarku pulang," ucap Laila sembari menundukkan wajahnya.


"Kamu tinggal di sini, Laila?" Fajar benar-benar sangat tidak menyangka Laila harus hidup seperti itu.


"Tidak, Mas. Aku tinggal bersama Bibi, tapi sekarang Bibi sedang bekerja di rumah seorang wanita kaya, mungkin nanti malam Bibi pulang, ya kadang Bibi nggak pulang sih, jadi aku tidur sendirian," ungkap Laila yang seketika membuat Fajar untuk meminta Laila tidak tinggal di kostan itu lagi.


"Itu artinya jika Bibi tidak pulang maka kamu pasti sendirian di kostan ini? Tidak-tidak, sekarang ayo kemasi barang-barang kamu dan kamu tinggalkan tempat ini, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Kota ini sangat rawan Laila, nanti kamu bisa bahaya!" ucap Fajar yang teramat khawatir dengan Laila.


"Ta-tapi, Mas. Aku tidak bisa begitu saja pergi dari sini, nanti kalau Bibi pulang dan lihat aku nggak ada di sini, kasihan nanti Bibi nyari aku," ucap Laila.

__ADS_1


"Itu masalah gampang, nanti aku akan minta pemilik kost ini untuk bilang ke Bibi kalau kamu pergi bersamaku, jadi Bibi bisa mengetahui di mana keberadaan dirimu, lagipula nanti Bibi bisa tinggal bersama kita," sahut Fajar.


Asisten Joko pun menyetujui permintaan Fajar, karena bagaimanapun juga Laila tinggal sendirian di tengah-tengah kota yang awam ia temui, takutnya ada tindak kejahatan di mana Laila adalah seorang gadis.


"Yang dikatakan Pak Fajar itu benar, Mbak. Lebih baik tinggalkan tempat ini, di sini sangat berbahaya, apalagi Mbak Laila juga sering sendirian. Kalau menurut pendapat saya, lebih baik kalian segera menikah saja. Uluh-uluh saya sudah tahu kekhawatiran Pak Fajar, beliau tuh sebenernya ingin menemani Mbak Laila, supaya Mbak Laila tidak kesepian dan ada yang nemenin tiap malam, eh ...!" lagi-lagi asisten Joko membuat Fajar dan Laila salah tingkah.


"Em ... iya, begitulah! Salah satu ucapan Pak Joko ada benarnya. Jika kita menikah, kamu tidak usah bekerja lagi untukku. Kamu cukup tinggal di rumah saja, membesarkan anak-anak kita," sambung Fajar dengan malu-malu.


Fajar berkata dengan ekspresi wajah sang sangat gugup, Laila pun tertawa kecil melihatnya, mungkin benar apa yang pernah dikatakan oleh asisten Joko jika Fajar masih perjaka meskipun status nya sudah duda.


Fajar melihat Laila yang sedang tertawa, ia pun bertanya kepada wanita itu sembari garuk-garuk pelipisnya.

__ADS_1


"Kamu kok ketawa? Kamu pasti meledek aku, ya? Ternyata statusku tidak sesuai ekspektasi. Tapi itu memang benar, aku tidak pernah menyentuh Ratna sedikitpun, jadi aku termasuk golongan perjaka ting-ting. Maaf Laila jika kamu kecewa dengan status dudaku yang tidak sesuai dengan kenyataan," sahut Fajar yang ternyata membuat asisten Joko tertawa dibuatnya.


"Ya elah Bos bos, harusnya bangga dong masih terjaga keperjakaannya, daripada Bos serahkan kepada wanita yang salah. Itu malah bagus, itu artinya kesucian Bos masih terjaga keasliannya. Bukan begitu, Mbak Laila!" seru asisten Joko sembari melihat ke arah Laila yang tampak cengar-cengir mendengar kenyataan jika Fajar masih perjaka ting-ting.


"Em ... iya, seperti itu." Sahut Laila sambil melirik ke arah Fajar yang juga sedang menatapnya.


"MasyaAllah, kok tambah gemes aja lihat nih anak gadis, dah lah sekarang bawa pulang, kasih tahu Mama, setelah itu nikah. Mama pasti sangat senang,"


Fajar pun tak menunggu lama, hari itu juga ia membawa Laila untuk bertemu dengan sang Mama dan meminta doa restu untuknya.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2