
Waktunya makan siang pun telah tiba, tentu saja demi akting nya yang harus terlihat sempurna, Fajar harus totalitas agar bisa memancing Laila supaya cemburu. Karena dia yakin jika Laila sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.
Asisten Joko sudah menyiapkan wanita sewaan yang akan menambah keyakinan Laila jika Fajar sudah memiliki calon pengganti Ratna, wanita itu akan berpura-pura menjadi Bulan. Sementara itu, Laila pun beranjak keluar dari ruangan Fajar. Gadis itu tampak meminta izin kepada Fajar sembari membawa mukena di tangannya.
"Maaf, Pak! Saya permisi keluar dulu. Saya mau ke Mushola!" ucap Laila sambil beranjak membuka pintu. Namun, tiba-tiba Fajar memanggilnya.
"Tunggu, Laila!"
Laila berhenti dan menoleh ke arah Fajar.
"Iya, ada apa, Pak?" tanya Laila.
"Ikutlah makan siang bersamaku, setelah pergi ke Musholla, aku menunggumu di lobby utama!" seru Fajar sambil beranjak berdiri dan merapikan jasnya. Untuk sejenak Laila memuji ketampanan mantan kakak iparnya itu. Tidak bisa dipungkiri jika Fajar memiliki aura pria yang sangat romantis, lembut dan juga tampan.
"Ya Allah! Nggak bisa bohong sih kalau Mas Fajar itu asli cakep banget," batin Laila yang mulai salah tingkah.
"Hah? Ikut makan siang bersama, Bapak? Bukannya Bapak sudah janji makan siang bersama si Bulan? Lagipula saya harus sholat dulu," sahut Laila.
"Memangnya kenapa? Bukankah kamu sekretaris pribadiku, jadi apa salahnya kamu aku ajak, hitung-hitung aku bisa minta pendapatmu tentang bagaimana si Bulan. Nanti kamu bisa mengatakannya padaku, apakah aku cocok dengan dia!" balas Fajar sambil tersenyum manis, yang membuat Laila memutar bola matanya.
"Kenapa harus saya? Entar saya jadi obat nyamuk di sana, gimana?" sahut Laila yang merasa keberatan jika dirinya diajak ikut makan siang bersama Bulan.
"Ya enggak lah! Memangnya kamu ikut terbakar kayak obat nyamuk? Kenapa, kamu cemburu, ya?" celetuk Fajar dengan lirikannya yang khas.
"Cemburu? Saya!!" Laila tampak membulatkan matanya saat Fajar berkata demikian.
__ADS_1
Fajar mulai mendekati Laila, gadis itu terlihat gugup dan menundukkan wajahnya.
"Aduh! Ngapain juga sih Mas Fajar mendekat! Deg-degan sekali ya Allah!" batin Laila yang mulai panik saat langkah kaki Fajar semakin dekat kepadanya.
Setibanya Fajar di depan Laila, Fajar kemudian mempersilahkan gadis itu untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu sebelum dirinya menutup pintu. "Kamu duluan, wanita harus aku utamakan terlebih dahulu," ucap Fajar sembari membuka pintu.
Laila pun berjalan keluar sembari terus menundukkan wajahnya, ia sangat takut mereka berdua saling bertatapan. Karena jika itu terjadi, Laila tidak bisa membendung perasaannya sendiri.
Laila berjalan menuju ke arah Musholla, untuk sejenak ia bingung ke mana arah musholla, mengingat dirinya baru pertama kali masuk kerja. Namun, ada Fajar yang berjalan di belakangnya, Fajar pun menunjukkan arah musholla kepada Laila.
"Mushollah nya ada di sana, kamu belok kanan dan setelah itu lurus saja!" seru Fajar saat melihat Laila yang tampak kebingungan.
"Oh iya, terima kasih, Pak!" jawab Laila. Gadis itu pun berjalan mengikuti kemana arah yang ditunjukkan oleh Fajar. Laila mengira jika Fajar sudah pergi. Gadis itu tampak bersholawat kecil sembari berjalan ke arah Musholla. Siapa sangka jika Fajar masih berjalan di belakang Laila. Dengan percaya diri Laila bersenandung, suara merdunya seketika membuat Fajar tersenyum dan kagum dengan suara merdu Laila.
Sesampainya di depan Musholla, Laila sangat bahagia, ia pun segera masuk ke dalam Mushola. Tanpa sengaja Ia melihat Fajar yang masih berjalan di belakangnya.
"Loh! Kenapa Pak Fajar masih ada di sini?" tanya Laila gugup. Karena pastinya Fajar mendengar Laila yang baru saja bersenandung kecil saat dirinya berjalan menuju musholla.
"Kenapa? Memangnya aku tidak boleh datang ke Musholla? Aku juga mau sholat. Memangnya kamu saja yang sholat!" balas Fajar sambil menuju ke arah tempat wudhu.
Laila pun juga menuju ke tempat wudhu khusus wanita. Setelah keduanya selesai berwudhu, Fajar dan Laila pun masuk ke dalam Mushola. Laila membentangkan sajadahnya dan mulai mengenakan mukena yang dibawanya. Hingga tiba-tiba terdengar suara Fajar yang mengajak Laila untuk sholat berjamaah.
"Kita sholat berjamaah, yuk!"
Seketika Laila terkejut saat Fajar mengajaknya untuk sholat berjamaah. Laila pun tidak bisa menolaknya, sambil menundukkan wajahnya, Laila mengangguk dan setuju jika Fajar menjadi imamnya.
__ADS_1
Fajar melihat ke arah belakang shof Laila, setelah dirasa Laila sudah siap. Fajar pun mulai takbiratul ihram.
"Allahu Akbar!"
Kedua insan itu sholat Dzuhur berjamaah, mereka berdua terlihat begitu khusyuk menjalankan perintah agama tersebut. Laila pun mengikuti gerakan Fajar secara tertib dan tuma'ninah.
Hingga akhirnya sampai juga di rakaat terakhir, Fajar membaca tahiyat akhir dan tak berselang lama ia pun mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri.
"Assalamualaikum warahmatullah! Assalamualaikum warahmatullah!"
Selesai sholat, keduanya berdoa dalam hati masing-masing.
Setelah keduanya menyelesaikan sholat, Fajar menghadap ke belakang di mana Laila berada, Laila masih memakai mukena, wajahnya terlihat sangat cerah dan natural, membuat Fajar semakin suka menatap wajah mantan adik iparnya itu.
"Kenapa Mas Fajar lihatin aku kayak gitu?" tanya Laila sambil memalingkan wajahnya karena malu.
"Kamu kelihatan lebih cantik saat mengenakan mukena ini, aku senang bisa menjadi imam sholatmu, jika Allah mengizinkan aku ingin bukan hanya menjadi imam sholatmu, tapi menjadi imam ...!" belum selesai melanjutkan kata-katanya. Fajar dikejutkan dengan suara pak Joko yang sudah menunggu sang bos.
"Pak Fajar! Bulan sudah menunggu, Anda! Lah kok malah pacaran di sini!" seru asisten Joko sambil garuk-garuk kepala. Fajar langsung berdiri dan berkata kepada sang asisten. "Yang pacaran itu siapa? Kita sholat dulu," sahut Fajar tak terima.
"Alhamdulillah ternyata kehadiran sekretaris baru ini membuat Pak Fajar semakin rajin sholat, biasanya jam segini masih makan siang di luar, setelah itu sholatnya belakangan," sindir sang asisten yang seketika membuat Laila membulatkan matanya.
"Sssttt pak Joko apa-apaan sih! Jangan buka kartu, Pak!" sahut Fajar sambil membawa sang asisten menjauh dari Laila.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1