Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Bab 19 : Interview


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, Fajar segera menelepon Laila. Sudah cukup lama dirinya tidak mengobrol dengan mantan adik iparnya itu.


'Drrrttttt'


Dering telepon dari ponsel Laila yang ia letakkan di atas tempat tidur. Laila melihat ke layar ponselnya, rupanya itu adalah Fajar yang sedang menghubungi dirinya.


"Mas Fajar?"


Laila membulatkan matanya ketika dirinya mendapatkan telepon dari Fajar, ia tak menyangka jika pria itu masih menyimpan nomornya.


"Angkat tidak, angkat tidak, angkat tidak!!" Laila menghitung dengan sepuluh jarinya untuk memutuskan menerima telepon dari Fajar.


Ternyata di hitungan ke sepuluh kata terakhir berbunyi tidak. Akhirnya, Laila pun segera menolak panggilan telepon dari Fajar.


"Tidak tidak! Aku belum sanggup untuk berbicara dengan Mas Fajar. Aduh! Kenapa aku gugup seperti ini ya Allah! Bagaimana bisa dia menelepon aku lagi? Apa jangan-jangan dia ingin menyalahkan aku karena sudah menyembunyikan rahasia Mbak Ratna selama ini? Kok aku jadi parno sendiri sih. Hiii ngapain juga aku buka blokiran nya?" Laila berkata sendiri sambil menepuk-nepuk jidatnya berkali-kali.


Bibi yang melihat itu tampak mengerutkan keningnya dan bertanya, "Mbak Laila kenapa?Apa badan Mbak Laila masih panas?"


Mendengar ucapan dari Bibi, Laila pun pura-pura tersenyum. "Eh nggak apa-apa kok, Bi! Ini ada teman yang sedang menelepon, teman-teman pada tanya kenapa aku resign, jadinya ya aku panik harus jawab apa!" ucap Laila yang menyembuhkan jika dirinya baru saja ditelepon oleh Fajar.


"Owalah gitu! Ya sudah Bibi mau keluar mau beli makanan, sekalian Bibi juga mencari pekerjaan siapa tahu orang-orang sekitar sini ada yang membutuhkan tukang masak atau tukang cuci," pamit Bibi kepada Laila.


"Oh iya, Bi! Hati-hati, maaf kalau Laila masih merepotkan Bibi, kepala Laila masih sedikit pusing kalau buat jalan," ucap Laila yang merasa tidak enak dengan Bibi yang selalu membantu dirinya.


"Mbak Laila di sini saja! Bibi nggak apa-apa, Mbak Laila sendiri juga belum sehat betul kok. Nanti kalau pingsan di jalan gimana hayo!" sahut Bibi sambil beranjak untuk pergi. Laila tersenyum dan akhirnya Ia menutup kembali pintu rumah kost mereka.


Sementara di kantor, Fajar tampak sedikit kesal, karena Laila mereject panggilan darinya.


"Loh, kok malah ditutup? Apa Laila nggak kangen sama kangen aku, ya? Apa wajahku ini kurang begitu meyakinkan?" ucap Fajar yang tiba-tiba membuat sang asisten mengerutkan keningnya.


"Ada apa, Pak Fajar? Siapa yang kangen?" tanya asisten Joko.


"Oh ... ini Pak Jok! Hanya teman," jawab Fajar sembari menatap layar ponselnya, ia masih memperhatikan poto profil Laila sambil senyum-senyum sendiri.


"Teman? Hmm kayaknya itu teman spesial Pak Fajar, ya? Eh maaf cuma nebak saja," sahut asisten Joko. Fajar tersenyum dan ia pun menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya.


"Bisa dibilang seperti itu Pak Jok! Dia bukan teman, lebih tepatnya adik ... eh bukan, mantan adik ipar." Jawab Fajar sembari tersenyum.


"Itu artinya dia adiknya Bu Ratna dong, Pak? Mantan istri Bapak? Aje gile, pasti adiknya nggak jauh beda dengan kakaknya, Pak! Biasanya gitu, Pak. Sifat adiknya nggak jauh-jauh dari sifat kakaknya." Mendengar ucapan dari Asisten Joko, Fajar pun membantahnya.


"Tidak Pak Jok! Laila tidak seperti itu. Dia dan Ratna bagaikan langit dan bumi, sangat sangat jauh berbeda," puji Fajar sambil senyum-senyum membayangkan kenangan dirinya bersama Laila.


"Ehem ehem ... oh rupanya ada yang sedang kagum nih, nggak dapat kakaknya, adiknya pun jadi," goda asisten Joko.


"Pak Joko bisa aja! Aku dan Laila tidak ada hubungan apa-apa, kami berdua hanya memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama penggemar berat Kahlil Gibran." Ungkap Fajar saat mengingat Laila pernah kedapatan membaca buku karya Kahlil Gibran.


"Waaahhhh itu namanya cemistri, Pak! Jangan-jangan Pak Fajar berjodoh nih dengan adiknya Bu Ratna. Kalau tidak salah adiknya Bu Ratna memakai hijab kan, Pak?" tanya asisten Joko.

__ADS_1


"Pak Joko benar, dia sangat cantik dengan jilbab yang menghiasi dirinya, dia terlihat begitu anggun saat gamis yang ia kenakan terkena angin yang berhembus, bergerak bebas tapi tetap saja bisa menutup lekukan tubuhnya. Sehingga membuat siapa saja penasaran dengan Laila," ungkap Fajar.


"Termasuk Anda, bukan?" sahut asisten Joko yang selalu saja membuat Fajar tertawa kecil.


*


*


*


Bibi sang asisten rumah tangga terus berusaha mencari informasi tentang siapa yang membutuhkan asisten rumah tangga. Hingga akhirnya, Bibi Mendapatkan informasi dari temannya jika ada seseorang yang sedang membutuhkan asisten rumah tangga yang jujur dan bekerja keras.


"Ini ada lowongan jadi asisten rumah tangga di rumah orang kaya. Tapi, rumahnya agak jauh dari sini, sekitar setengah jam perjalanan."


Karena Bibi sangat membutuhkan pekerjaan itu, ia pun terpaksa menerima tawaran temannya itu untuk berkerja di rumah seorang pengusaha kaya raya. Hari itu juga, Bibi diantar oleh temannya untuk datang ke rumah yang sedang membutuhkan tenaga asisten rumah tangga.


"Ini rumahnya, yang punya rumah namanya Nyonya Ida, dia baik banget orangnya, tapi ya itu Nyonya Ida sangat pilih-pilih cari pembantu, dia benar-benar cari yang serius dan sungguh-sungguh, semoga kamu bisa lolos," ungkap teman Bibi. Setelah teman Bibi pulang, ia pun harus segera mengetuk pintu.


Sang majikan menyambut kedatangan Bibi dengan baik, bahkan mereka pun langsung mempersilakan Bibi untuk masuk. Rupanya calon majikan Bibi adalah Mama Ida, yang tak lain adalah orang tua Fajar.


Entah kenapa, Mama Ida langsung suka dengan Bibi, ia pun langsung menerima Bibi untuk bekerja di rumah Fajar itu. Bibi belum tahu jika majikan barunya adalah orang tua Fajar, karena selama Fajar menikah dengan Ratna, Mama Ida belum pernah datang ke rumah Ratna dan sebaliknya. Karena pada dasarnya pernikahan mereka kurang mendapatkan restu dari Mama Ida.


"Bibi diterima bekerja di rumah ini, mulai besok Bibi bisa datang ke rumah ini dan mulai bekerja," seru Mama Ida begitu bahagia.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Nyonya!" balas Bibi yang tak menyangka bisa mendapatkan pekerjaan secepat itu. Setelah itu, ia pun pamit pulang. Bibi sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Laila dan bilang padanya jika Bibi sudah mendapatkan pekerjaan baru di rumah orang kaya.


Tak berselang lama, Bibi pulang ke rumah dengan membawa dua bungkus makanan dan juga sebuah koran.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam, Alhamdulillah Bibi sudah pulang," balas Laila yang baru saja beberes barang-barangnya.


"Mbak Laila, hari ini Bibi sangat senang banget, Mbak Laila tahu! Hari ini Bibi langsung mendapatkan pekerjaan di rumah orang kaya, Alhamdulillah ternyata majikan Bibi itu orangnya baik sekali, Mbak!" seru Bibi yang sudah tidak sabar ingin mengatakannya kepada Laila sambil menyerahkan makanan itu kepada Laila.


"Alhamdulillah, Laila ikut senang. Selamat ya, Bi! Tinggal Laila yang harus mencari pekerjaan, semoga saja Laila cepat mendapatkannya, terima kasih." balas Laila sembari menerima sebungkus nasi dari Bibi.


"Oh iya ini Bibi belikan koran untuk Mbak Laila, siapa tahu ada informasi penting yang dibutuhkan Mbak Laila," seru Bibi sambil memberikan koran untuk Laila.


"Ya Allah, Bibi. Terima kasih banyak atas perhatian Bibi, Laila nggak tahu bagaimana membalas kebaikan Bibi," ucap Laila dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bibi ikhlas membantu Mbak Laila, Mbak Laila sudah seperti anak sendiri untuk Bibi, Mbak Laila gadis yang baik, Almarhum Tuan dan Nyonya pasti bangga memiliki putri yang solihah seperti Mbak Laila." Ucapan Bibi sontak membuat Laila terharu.


Untuk sejenak Laila memeluk Bibi, ia beruntung memiliki asisten rumah tangga yang sangat setia kepada majikannya, meskipun kedua orang tua Laila sudah meninggal, Bibi tetap setia kepada Laila. Karena Bibi tahu betul bagaimana sifat dan perangai Laila sedari kecil, sehingga Bibi sangat menyayangi Laila tulus dari dalam hati.


Mereka berdua pun akhirnya makan bersama, setelah itu Laila membaca surat kabar yang baru saja dibawakan oleh Bibi. Ia mencari informasi lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang ia kuasai. Untuk sejenak, Laila melihat sebuah informasi yang cukup menarik perhatiannya.


"Dibutuhkan sekretaris syarat wanita, usia maksimal 35 tahun, lulusan minimal D3 sekretaris/ Akuntansi/ Manejemen, siap bekerja dalam tekanan, dapat bekerja dalam team, menguasai atau mahir menggunakan Word atau Excel, jujur teliti dan tanggung jawab, diutamakan punya pengalaman dan single. Lamaran bisa dikirimkan lewat email xxxxx.com atau datang langsung ke PT. Bianglala Sentosa Group Surabaya. Waahh ini bisa Laila coba, Bi."

__ADS_1


Laila membaca persyaratan itu sangat cocok dengan dirinya, ia pun segera mengirim lamaran lewat email terlebih dahulu dengan menyertakan informasi tentang dirinya dan pengalamannya pernah bekerja di perusahaan lain. Meskipun Laila belum berpengalaman menjadi sekretaris, tapi Laila sangat mahir dalam bidang akuntansi dan manajemen. Tapi, kali ini Laila berusaha melamar sebagai sekretaris. Coba-coba berhadiah.


"Kirim, Bismillah semoga aku mendapatkan pekerjaan itu," seru Laila yang baru saja mengirimkan lamaran ke alamat email perusahaan yang dituju.


Tiga hari kemudian, Laila mendapatkan balasan email dari perusahaan yang kemarin ia kirimkan lamaran pekerjaannya. Seketika Laila sangat bahagia dirinya mendapatkan pesan singkat jika ia disuruh datang langsung ke kantor untuk interview. Jika interview nya lolos, maka hari itu juga dirinya langsung bekerja di perusahaan tersebut.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya aku dipanggil juga," seru Laila yang tidak bisa berkata-kata.


"Selamat ya Mbak Laila, semoga Mbak Laila langsung diterima kerja," ucap Bibi yang tak kalah bahagia.


Akhirnya, hari itu juga Laila segera bersiap-siap untuk datang ke kantor PT. Bianglala Sentosa Group, di mana lokasi kantor itu tidak terlalu jauh dari kostan di mana Laila tinggal.


Laila berdandan serapi mungkin agar sang Bos tertarik untuk menerima dirinya sebagai sekretaris. Bibi yang melihat penampilan Laila tampak kagum dengan sosok Laila yang anggun dan feminim, apalagi dengan jilbab yang selalu Laila kenakan kemana pun ia pergi, Laila sangat yakin hijab bukanlah penghalang untuknya meraih sukses, ia akan menerima pekerjaan yang membolehkan seorang wanita mengenakan hijab, jika perusahaan melarang wanita mengenakan hijab, atau digaji berjuta-juta sekalipun, Laila tidak akan menerimanya. Karena hijab adalah identitas dan juga kewajiban seorang wanita muslimah.


Sementara itu di dalam kantor, Fajar tengah menunggu beberapa calon sekretaris yang akan ia seleksi terlebih dahulu dengan melakukan interview secara langsung. Setelah Fajar melakukan interview kepada beberapa calon sekretaris yang lainnya, rupanya ia belum menemukan yang cocok, tinggal satu orang yang belum datang, dan Asisten Joko sudah menghubungi Laila berkali-kali.


"Bagaimana Pak Jok? Apa dia sudah datang? Saya harus buru-buru, jam sepuluh saya harus pergi, kenapa dia lama sekali?" tanya Fajar yang saat itu bertepatan janji dengan salah satu kliennya.


"Aduh tunggu sebentar, Pak! Sepuluh menit lagi. Dia pasti sedang dalam perjalanan." Ucap asisten Joko.


Di sisi lain, Laila pun buru-buru. Bagaimana pun juga dirinya harus mencari alamat perusahaan sedangkan Laila masih sangat awam di kota itu, ia juga masih bingung harus naik angkot jurusan mana, setelah bertanya-tanya kepada orang, akhirnya Laila tiba di depan kantor PT. Bianglala Sentosa Group.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," Laila segera masuk ke dalam kantor dan segera menemui HRD manager. Asisten Joko sumringah akhirnya satu orang kandidat sudah datang. Sementara itu Fajar sudah mulai kesal karena Laila datang terlambat.


Fajar duduk dengan membelakangi arah pintu, sehingga ia tidak tahu jika calon sekretaris yang akan ia interview adalah Laila.


Sesampainya di dalam kantor, Laila langsung disuruh untuk datang ke ruangan direktur utama yang ada di lantai atas, dengan perasaan campur aduk, Laila harus bersikap profesional, ia ingin penampilannya terlihat meyakinkan bahwa ia kompeten di bidang yang dibutuhkan.


Kini, Laila tiba di depan pintu ruangan Direktur. Perlahan ia mengetuk pintu, selang beberapa detik, terdengar suara dari dalam agar Laila masuk.


Laila pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga aku berhasil dan mendapatkan Bos yang baik hati. Mudah-mudahan dia tidak marah karena aku datang terlambat, ya Allah tolonglah hambamu ini, lancarkan urusan hambs! Robbis rohli sodri wayassirli amri wahlul uqdatam millisani yaf qohu qouli,"


Laila berdoa dalam hatinya, semoga ia bisa menjawab interview dengan sukses tanpa kendala. Langkah kaki Laila terdengar berbeda di telinga Fajar yang saat itu masih membelakangi Laila.


"Langkah ini? Sepertinya terdengar tidak asing bagiku?" batin Fajar.


Sesampainya di depan meja Fajar, Laila pun mengucapkan salam kepada sang direktur.


"Selamat siang, Pak!"


Seketika Fajar membulatkan matanya saat mendengar suara yang sangat ia kenali itu.


"Suara itu!!"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2