Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Ide cemerlang


__ADS_3

"Oke oke aku minta maaf. Gini ya, Sob! Kakak itu orangnya super cuek, percuma kamu tebar-tebar pesona di hadapan Kakak. Dia nggak bakalan merespon lebih. Udahlah nggak usah mimpi untuk bisa dapatin hati Kakak. Dah ya aku pergi dulu, bye!" Fira meninggalkan Adam dan bergegas menuju ke mobil sang kakak.


Dilihatnya kedua kakak beradik terlihat begitu akrab, untuk sejenak Adam tersenyum melihat keduanya yang terlihat saling mengasihi.


Qia duduk di kursi kemudi. Gadis itu melihat Adam yang masih berdiri di samping mobil miliknya sambil menunggu mobil Qia melintas. Setelah Fira masuk dan duduk di sebelah sang kakak. Qia pun mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran.


Mobil Qia melewati depan mobil Adam. Pemuda itu tampak menganggukkan kepalanya sopan saat mobil itu melintas di depannya. Fira membuka kaca jendela mobil dan melihat aksi Adam yang membuatnya tertawa kecil.


"Cie ... nih anak caper banget sama kakak. Pakai nunduk segala lagi. Aduh dasar playboy!"


"Kita duluan, Bro!" seru Fira kepada temannya itu. Qia pun ikut tersenyum sekilas kepada Adam sebelum mobilnya ia kemudikan lebih cepat.


"Oh iya, semoga perjalanannya menyenangkan, Bu Qia!" sapa Adam sambil melambaikan tangannya kepada Qia.

__ADS_1


"Anjrit! Pakai lambaikan tangan segala, dah sono lebay banget sih!" sahut Fira kepada Adam. Setelah itu, Qia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan Adam yang masih memperhatikan kepergian mobil sang dosen.


"Ya elah, adiknya judes banget! Bukannya bantuin temannya biar lebih dekat. Eh ... kayaknya harus minta bantuan Fira nih kalau mau dekat dengan kakaknya. Harus baik-baikin adeknya nih!" Adam pun memiliki ide cemerlang untuk bisa mendekati Qia. Iya, dengan bantuan dari Fira, mungkin bisa membuat Adam semakin dekat dengan Bu dosen yang sudah membuat hatinya bergetar itu.


*


*


*


Adam bisa saja memacari gadis-gadis muda di kampusnya. Tapi nyatanya pemuda itu hanya bersenang-senang dengan mereka, ia hanya bercanda dengan para gadis yang menganggapnya serius itu.


Hingga ia mendapatkan sumpah serapah dari Citra. Gadis yang merasa jika Adam mencintai dirinya.

__ADS_1


Mobil Adam berhenti di sebuah rumah milik seorang Ustadz terkenal. Rumah itu baru ditempati sekitar dua Minggu yang lalu. Iya, Adam dan keluarganya baru saja pindah ke kota yang sama di mana Fajar dan Laila tinggal.


Karena Agung harus mengajar di sebuah kampus di salah satu kota tersebut sebagai dosen ilmu agama. Agung dipercaya mengajar di kampus yang berbasis agama itu karena kiprahnya sebagai seorang ustadz yang sangat disegani oleh masyarakat dan menjadi idola banyak pemuda-pemudi.


"Assalamualaikum!" Adam masuk ke dalam rumah, dilihatnya sang ibu menyambut kedatangan anaknya.


"Waalaikum salam!" balas wanita yang kini terlihat begitu anggun dengan pakaian muslimah yang ia kenakan. Adam mencium tangan sang ibu.


Setelah mencium tangan ibunya. Adam merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sang ibu menghampiri putranya dan berkata, "Adam, hari ini kita ikut ayahmu undangan tausiyah di Masjid Darul hikmah, acaranya dimajukan jam 3 sore. Setelah pulang dari tausiyah nanti, Ayah akan mengajak kita untuk ta'ziah ke makam Almarhum Ibu Ratna, istri Ayah yang sudah meninggal dunia."


Mendengar ucapan dari sang Ibu. Adam pun menganggukkan kepala. Agung tidak pernah menyembunyikan masa lalunya kepada istri dan anaknya. Agung ingin anak dan istrinya bisa menerima kekurangannya di masa lalu. Hal yang ingin Agung tunjukkan kepada anak dan istrinya adalah bagaimana proses dirinya menuju ke jalan Allah dengan taubat nasuha.


Dan itu membuat Adam bangga memiliki Ayah yang berani mengakui kesalahannya dan memperbaiki diri hingga saat ini Allah telah mengangkat derajatnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2