
"Loh loh ada apa? Abi nggak apa-apa kok." Fajar bingung dengan sikap putrinya yang tiba-tiba berkata seperti itu sambil bergelayut pada tangannya. Laila juga tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh sang anak.
"Itu tadi, Ummi jambak rambut Abi. Kita berdua lihat beneran iya kan, Kak! Tuh Kakak saksinya juga." Fira menunjuk ke arah sang kakak yang ikut manggut-manggut.
Mendengar ucapan dari sang anak, baik Fajar maupun Laila saling menatap dan pada akhirnya mereka berdua tertawa kecil.
"Ya Allah kalian berdua nih. Yang jambak-jambakan itu siapa? Orang tadi Ummi pijitin kepala Abi. Pusing nih gara-gara encok kambuh!" sahut Fajar.
Fira dan Qia pun saling menatap dan akhirnya mereka berdua tertawa kecil karena telah salah faham melihat sang Ummi dan Abi.
"Astaghfirullah aladzim, jadi itu ceritanya. Duhh si Fira ini bikin kaget aja. Habisnya tadi Ummi dan Abi berisik banget sih. Kita kirain apaan, kata Fira Ummi dan Abi bertengkar lagi jambak-jambakan. Ya udah kita intip aja. Eh nggak tahunya benar, Ummi sedang jambak rambut Abi. Nggak tahunya cuma mijit doang ...!" ungkap Qia yang membuat pipi sang adik bersemu merah karena telah salah sangka.
Laila tersenyum dan berkata kepada kedua putrinya. "Kalian berdua ada-ada saja, mana mungkin lah Ummi tega jambak rambut Abi, kalian lihat sendiri tuh rambut Abi udah habis sendiri tanpa Ummi jambak." Ucapan Laila spontan membuat kedua putranya menahan tawa karena nyatanya rambut sang Abi perlahan mulai menipis, sehingga terlihat sedikit botak di tengah.
Fajar mendapati kedua putrinya yang cekikikan. "Heh ... ngapain kalian ketawa? Ngeledek Abi nih!" sahut Fajar.
__ADS_1
Qia dan Fira pun akhirnya mendekati ayah mereka dan duduk di samping kanan dan kiri sang Abi. Keduanya tampak manja dengan menyandarkan kepala mereka pada pundak sang Abi.
"Eh ada apa ini? Dua putri Abi yang cantik-cantik." Ucap Fajar kepada kedua putrinya.
"Kami bangga kepada Abi dan juga Ummi, terima kasih banyak atas kasih sayang Abi kepada kita berdua. Abi adalah ayah yang terhebat di dunia ini. Abi mencurahkan segalanya untuk kami. Maaf kami belum bisa membalas kebaikan Abi dan Ummi." seru Qia, putri pertamanya.
"Abi juga bangga kepada kalian berdua, kalian adalah putri-putri Abi yang shalihah. Kebanggaan Abi dan juga Ummi. Abi akan berjuang untuk membesarkan dan mendidik kalian. Jangan lupa sholat lima waktu, tunaikan perintah Allah. Karena kalian sekarang adalah tanggung jawab Abi hingga akhirnya nanti kalian berada di tangan yang tepat. Laki-laki yang benar-benar menyayangi kalian dan menghormati kalian. Abi hanya berdoa supaya kalian mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada Abi. Yang bisa menuntun kalian menuju Jannah Nya fiddunya wal akhiroh."
Mendengar penuturan dari sang Abi. Fira si bungsu terharu dan sesekali menyeka air matanya. "Fira minta maaf jika Fira selalu membuat Abi kesal. Tapi percayalah, Abi adalah cinta pertama kami. Abi adalah sosok Ayah panutan. Ummi sangat beruntung sekali memiliki suami seperti Abi. Kami tidak pernah melihat Abi marah kepada Ummi. Abi selalu sabar, padahal selama ini Ummi yang sering ngomel-ngomel. Tapi Fira sangat menyukai kalian berdua, tidak akan pernah bosan melihat keseruan Abi dan Ummi. Pokoknya kalian berdua tuh orang tua yang hebat, saling mengingatkan untuk beribadah. Kami berharap bisa mendapatkan jodoh idaman seperti Abi. Em ... ngomong-ngomong masih ada nggak sih tersisa laki-laki seperti Abi di dunia ini?"
Tiba-tiba, ucapan sang Abi membuat Fira teringat akan seseorang yang seperti dikatakan oleh sang Abi. Memiliki ciri-ciri yang sama, hanya saja orang itu sedikit gila dan sering membuatnya kesal.
"Kayak si Kupret!" jawaban spontan Fira seketika membuat Fajar terkejut.
"Kupret! Siapa Kupret?" Fajar melototkan matanya kepada kedua putrinya. Fira cengar-cengir saat Fajar bertanya tentang siapa Kupret yang dimaksudkan.
__ADS_1
"Ituloh, Bi. Si Adam, temen Fira yang suka jail. Dia tuh sehari aja nggak jailin Fira nggak tenang hidup dia. Pokoknya resek tuh anak. Tapi dibalik sikapnya yang ngeselin dia tuh ternyata sayang banget sama ibunya, Bi. Pernah tuh dia ditelepon pas ibunya sakit, aduh beneran tuh muka penuh air mata, Bi. Nangis Bombay dia, padahal cuma ditelepon jika Ibunya sedang sakit gigi. Astaghfirullah, tuh bocah kadang bikin garuk-garuk kepala," ungkap Fira yang membuat semuanya tertawa.
Ada gelak tawa ketika Fira bercerita tentang teman-temannya. Hal berbeda dengan Qia yang cenderung lebih pendiam, gadis itu hanya tersenyum tipis saat mendengar suara gelak tawa sang adik.
Laila duduk di samping putri pertamanya sambil berkata. "Ummi juga berharap agar Qia mendapatkan jodoh yang baik seperti Abi. Iya kan, Bi? Bagaimana pun juga Qia adalah putri pertama Abi. Sudah tanggung jawab kami untuk menikahkan kamu dengan laki-laki yang baik. Insyaallah Abi sudah menemukan pria itu. Iya, dia adalah putranya Pak Joko. Besok malam Abi dan Ummi akan bertemu dengan keluarga pak Joko. Mereka juga akan mengajak Amir. Kamu ikut ya, Nak? Kami berdua pasti bahagia jika kamu bisa ikut."
Rupanya ucapan sang Ummi hanya ditanggapi biasa oleh Qia. "Aduh Ummi, kenapa sih harus membicarakan ini lagi. Qia nggak mau nikah dulu," balas Qia.
"Qia, Abi dan Ummi cuma ingin yang terbaik untuk anaknya. Kamu putri pertama Abi. Kenapa Abi segera mendahulukan kamu menikah, tahu sendiri adik kamu nih bisa-bisa mendahului kamu. Apalagi Abi dan Ummi ini sudah tua, encok udah kumat-kumatan. Kita berdua butuh hiburan. Berharap ada tangis bayi di rumah ini. Iya, cucu-cucu Abi. Apa kalian nggak kasihan lihat kami berdua ngiler diiming-imingi teman-teman Abi yang udah pada gendong cucu!" ungkap Fajar.
Fira yang mendengar itu, ia pun mendukung kedua orang tuanya untuk menjodohkan sang kakak dengan putra pak Joko. Fira yang mengetahui bagaimana kiprah Amir yang ditunjukkan di media sosial, membuat Fira setuju jika sang kakak menikah dengan Amir, pengusaha muda yang baru pulang dari Mesir.
"Abi bener tuh, aku setuju kalau Kakak nikah sama Mas Amir. Aku lihat dia sekarang ganteng banget anjay! Padahal dulu dia tuh dekil, jelek banget sebelum berangkat ke Mesir. Sekarang, udah kayak pangeran Arab aja." Puji Fira.
Qia pun tetap tidak tertarik dengan pujian sang adik terhadap sosok Amir, Qia yang sedari kecil tidak terlalu memperhatikan wajah dan penampilan seseorang, ia pun tidak begitu kepo seperti sang adik yang selalu up to date tentang berita di luar sana.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...