Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Ratna Salsabila


__ADS_3

Karena penasaran, Laila pun memberanikan diri untuk bertanya kepada dokter Erna.


"Maaf, Dok. Jika boleh saya tahu, pasien yang bernama Ratna itu sakit apa, ya?"


Dokter Erna berhenti dan mengatakan sedikit tentang kondisi pasien yang bernama Ratna. "Beliau mengalami kanker serviks stadium lanjut, maaf kami harus segera ke sana!" karena terburu-buru, dokter Erna tidak bisa menjelaskan tentang kondisi pasien yang dibawah penanganannya.


"Oh iya, silakan!" Laila pun tersenyum dan mempersilahkan sang dokter untuk segera pergi ke ruangan pasien yang bernama Ratna itu.


"Kanker serviks? Apa jangan-jangan itu Mbak Ratna, Mas?" Laila pun mulai panik, apa mungkin itu benar Ratna, sang kakak.


Fajar mengerti perasaan istrinya, Laila pasti berpikiran macam-macam, karena kebetulan pasien tersebut memiliki nama yang sama dengan sang kakak.


"Sudahlah, mungkin hanya kebetulan namanya sama. Ayo kita pulang!" Fajar menggandeng tangan sang istri mesra. Dalam benak Laila masih terpikirkan akan pasien yang bernama Ratna itu. Tak bisa dipungkiri jika Laila masih sangat merindukan Kakaknya, meskipun ia pernah sakit hati karena fitnah dari Kakak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Apalagi dokter mengatakan jika pasien itu memiliki sakit kanker serviks sama seperti kakaknya.


"Tapi, Mas. Aku ingin sekali melihat wanita itu. Aku mohon izinkan aku untuk bertemu dengannya sebentar saja, siapa itu benar-benar Mbak Ratna," Laila masih bersikukuh jika wanita itu adalah Ratna.


"Tapi Sayang, tidak mungkin Ratna ada di kota ini, kamu tahu sendiri dia telah menjual rumah kalian, memang kita tidak tahu keberadaannya sekarang. Tapi untuk datang ke kota ini aku rasa itu tidak mungkin. Apalagi Ratna dalam kondisi sakit. Sudah pasti itu wanita lain yang kebetulan namanya sama dengan Ratna." Fajar terus berusaha untuk meyakinkan sang istri.


Laila terpaksa mengikuti perintah sang suami, ia pun berjalan di sepanjang koridor rumah sakit untuk menuju ke pintu keluar. Namun, disaat yang bersamaan tiba-tiba saja Laila melihat seseorang yang sedang menangis, seolah ia sedang meratapi sesuatu. Wanita yang berusia sekitar 45 tahun itu sedang duduk di kursi tunggu sambil sesekali mengusap ingus yang keluar dari hidungnya lantaran menangis sedih.


"Ya Allah, kasihan sekali Bu Ratna, dia masih muda, dia ingin sekali bertemu dengan adiknya. Tolong berikan kesempatan untuknya ya Allah. Dia ingin sekali saja melihat wajah adiknya untuk yang terakhir ...!"


Ratna melihat dokter Erna berbicara kepada sang wanita yang ia lihat sedang duduk di kursi tunggu. Wanita itu tampak semakin menangis setelah mendengarkan apa yang dokter Erna Katakan.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un!" sang wanita hanya bisa pasrah ketika dokter Erna mengatakan jika Ratna tidak bisa diselamatkan lagi.

__ADS_1


Dari arah sekitar 6 meter, Laila samar mendengar percakapan antara dokter dan wanita itu.


"Astaghfirullah apa yang terjadi, kenapa perasaanku tidak enak?" Laila pun semakin gelisah. Karena sudah tidak sabar lagi, ia pun meminta segera menghampiri dokter Erna dan sang wanita untuk bertanya perihal apa yang terjadi.


"Maaf jika saya mengganggu, sebenarnya apa yang terjadi, Dok? Siapa sebenarnya Ratna itu? Jujur, saya sangat penasaran karena nama itu mengingatkan saya kepada kakak kandung saya, Ratna Salsabila!"


'Deg'


'Ratna Salsabila '


Spontan dokter Erna dan wanita itu terkejut bukan main saat Laila menyebut nama panjang Ratna Salsabila. Nama seorang pasien yang sudah seminggu dirawat di rumah sakit itu karena kanker serviks stadium akhir.


"Apakah Anda Mbak Laila Zahira?" tanya wanita itu kepada Laila dengan wajah tercengang.

__ADS_1


"Iya, Saya Laila Zahira. Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar yang di dalam itu Mbak Ratna? Katakan Dokter??"


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2