Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Berdoa dulu


__ADS_3

"Hah! Astaghfirullah, iri? Sama si Bulan gebetan Bapak itu? Aduh, Bapak nggak usah khawatir, ya! Saya nggak akan jadi Pelakor diantara hubungan kalian, saya pasti mendukung Bapak sepenuhnya," balas Laila.


"Ya bagus, ayo kita ke sana! Nanti aku kenalkan kamu sama dia," seru Fajar sambil berjalan menuju ke meja di mana Bulan berada.


Sementara itu, wanita bayaran yang bernama Bulan terlihat senyum-senyum ketika melihat Fajar datang. Seolah ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan sesuai perintah Asisten Joko.


Sesungguhnya Fajar juga gugup saat melihat Bulan. Entah dari mana sang asisten mendapatkan wanita itu untuk melakukan sandiwara yang sedang Fajar perintahkan.


"Tobat ya Allah! Pak Joko dapat dari mana nih cewek! Astaghfirullah, dosa nggak sih nggak sengaja lihat bulu keteknya. Astaghfirullah aladzim, Astaghfirullah aladzim. Allahu Akbar Allahu Akbar!" Fajar terlihat panik saat dirinya mendekati gadis yang bernama Bulan itu. Seolah ia berdoa terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan Bulan.


Hingga akhirnya, tiba-tiba Bulan bergelayut mesra pada lengan Fajar.


"Hai Mas Fajar! Akhirnya kamu datang juga, aku udah lama banget nungguin kamu!" seru Bulan depan manjanya.

__ADS_1


"Astaghfirullah aladzim! Eh eh lepaskan! Jangan di sini, nggak enak dilihat banyak orang. Kita belum muhrim, ya. Lepas-lepas!!" sahut Fajar sambil melepaskan tangan Bulan dari dirinya. Sedangkan Laila terlihat menahan rasa ingin tertawanya saat melihat Fajar yang seperti alergi saat didekati oleh Bulan.


"Ya Allah, ini Mas Fajar kenapa sih! Katanya lagi pdkt dengan Bulan, giliran ketemu kok pingin kabur melulu," gumam Laila sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Spontan Fajar melihat ke arah sang sekretaris yang saat itu sedang menahan tawanya.


"Eh, jangan ketawa kamu! Ayo duduk!" titah Fajar kepada Laila.


"Iya, Pak!" balas Laila yang akhirnya ia pun duduk di kursi bersebelahan dengan Bulan. Sejenak Laila melihat ke arah Bulan dan memperhatikan penampilan wanita itu sembari tersenyum.


Bulan pun ikut tersenyum dan memperkenalkan dirinya kepada Laila. "Hai, Mbak! Kenalkan, nama saya Bulan Purnamawati Tirta Ningrum Kusuma Wijaya, calon istrinya Pak Fajar, panggil saja saya Bulan, apa Mbaknya sekretaris Pak Fajar?" seru Bulan balik bertanya.


Sontak Fajar menyemburkan minumannya saat mendengar Laila memuji kecantikan Bulan, sehingga semburannya mengenai tepat pada wajah Bulan.


'Jrooottt'

__ADS_1


Semuanya tercengang tak terkecuali Laila yang melihat dengan mata kepala sendiri jika wajah Bulan dengan make up yang tebal itu terkena air semburan minuman Fajar.


"Haaaaaa!! Wajahku!!! Kok disembur sih, luntur kan jadinya bedak aku!!" pekik Bulan sambil membersihkan wajahnya dengan tisu.


"Waduh! Pak Fajar, bisa-bisanya Anda nyembur tuh anak orang!" sahut Asisten Joko. Spontan Fajar berdiri dan pura-pura membantu Bulan untuk membersihkan wajah gadis itu.


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja! Sini aku bersihkan," seru Fajar sambil mengusap wajah Bulan dengan sebuah tisu. Pemandangan itu seketika membuat Laila cemberut. Ia pun terlihat memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak melihat.


"Dihhh norak! Ngapain sih aku harus lihat pemandangan ini, nggak banget!" Laila berusaha menyembunyikan perasaannya saat Fajar sedang membersihkan wajah Bulan.


Setelah Fajar membersihkan wajah Bulan. Ia pun segera duduk kembali di kursinya. Untuk sejenak ia melihat ekspresi wajah Laila yang terlihat cemberut. Fajar tersenyum dan ia yakin sekali jika Laila cemburu melihatnya bersama Bulan.


"MasyaAllah, makin gemes aku lihat Laila. Pokoknya aku nggak boleh ngelepasin dia. Mama, ini calon mantu Mama. Fajar pasti bawa Laila untuk tinggal bersama kita, Ma. Mama pasti sangat bahagia. Saat ini aku hanya ingin tahu perasaannya padaku, apa dia juga sama merasakan seperti yang aku rasakan? Aku harus tahu itu,"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2