Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Tidur di kamar Fajar


__ADS_3

Pak penghulu berdoa untuk kedua mempelai, Fajar dan Laila mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan Aamiin. Hingga tak terasa buliran bening jatuh di pipi Laila. Tentu saja Laila teringat oleh sang kakak, keluarga satu-satunya. Laila bersedih karena tidak bisa membagi kebahagiaannya bersama saudari kandungnya itu.


Setelah selesai berdoa, Fajar menatap wajah sang istri, kali ini belum ada tukar cincin, karena pernikahan mereka dadakan tanpa persiapan.


Laila mencium tangan sang suami untuk kali pertama, sementara itu Fajar memegang kepala Laila dengan lembut. Setelah mencium tangan sang suami, Laila mengangkat wajahnya menatap wajah sang suami.


Sejenak, Fajar melihat air mata yang masih membasahi pipi istrinya. Dengan cepat Fajar mengusapnya lembut sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu menangis? Apa kamu merasa terpaksa?" tanya Fajar dengan suara lembutnya. Laila tersenyum, dan ia pun menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu, Mas. Aku teringat akan Mbak Ratna, harusnya aku membagi kebahagiaan ini bersamanya. Tapi, rasanya itu tidak mungkin," balas Laila sembari berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Aku mengerti perasaanmu, tapi sekarang Ratna sudah memilih hidupnya sendiri, kamu sudah cukup menderita karena fitnah dari dia, sekarang kamu adalah tanggung jawabku, aku tidak akan biarkan kamu menangis lagi!" Fajar mengulas senyum di bibirnya. Pria itu terlihat semakin tampan dengan peci hitam yang dikenakannya.


Laila pun tersenyum sembari menundukkan wajahnya karena malu. Fajar pun menyunggingkan senyumnya dan mengangkat dagu sang istri.

__ADS_1


"Jangan tutupi senyummu, mulai detik ini aku ingin melihat senyum itu setiap hari, Laila. Kamu sekarang adalah istriku, dan kamu akan menjadi ibu dari anak-anakku," ucap Fajar yang pada akhirnya ia mencium kening Laila.


Pemandangan itu rupanya membuat Mama Ida dan yang lainnya ikut terharu dan bahagia.


Sebagai orang tua, tentu saja Mama Ida pasti sangat senang sang anak mendapatkan istri yang shalihah, sehingga bisa mendampingi Fajar dalam keridhaan Nya sampai ajal memisahkan.


Setelah itu, keduanya meminta doa restu kepada Mama Ida, Laila tidak bisa menahan rasa harunya, gadis itu bersimpuh di hadapan Mama Ida. Dengan sesenggukan Laila berterima kasih kepada Mama Ida yang sudah mengizinkan dirinya untuk menikahi putranya.


Mama Ida pun juga sangat bahagia, akhirnya impiannya untuk mendapatkan seorang menantu seperti Laila terkabul juga.


"Baiklah Pak Fajar! Saya permisi pulang dulu, istri saya pasti sudah menunggu, selamat lagi untuk pak Fajar, semoga cepat diberikan momongan," pamit Asisten Joko yang diiringi tawa kecil Fajar.


"Oh tentu, Pak! Terima kasih banyak atas semua yang Pak Joko lakukan untuk saya, nanti saya akan kirimkan bonus gaji untuk Pak Joko, sebagai tanda terima kasih saya, tanpa Pak Joko mungkin saya tidak bisa secepat ini menjadi suami Laila," balas Fajar yang tentunya membuat Laila sangat malu.


"Ah Pak Fajar, terima kasih banyak. Sebenarnya saya iklhas membantu Bapak, karena saya tahu jika sebenarnya kalian itu sama-sama saling suka. Tapi, jika pak Fajar tetap memaksa, ya sudah saya terima dengan ikhlas, karena itu adalah rejeki, tidak boleh ditolak!" sahut sang asisten yang diiringi tawa semuanya.

__ADS_1


Setelah semuanya, asisten Joko dan pak penghulu pulang, kini suasana di kediaman keluarga Fajar terlihat mulai sepi. Bagaimana tidak, Fajar hanya tinggal bersama sang Mama. Meskipun di rumah banyak pelayan, tapi tetap saja rumah yang besar itu terlihat sepi.


"Ya sudah, Fajar! Kamu ajak istrimu ke kamar, sudah malam kalian istirahatlah! Laila pasti sangat kelelahan hari ini." Perintah Mama Ida kepada keduanya.


Laila pun terlihat gugup, apakah dirinya harus tidur bersama Fajar, sementara itu Fajar pun juga tampak kikuk. Bagaimanapun juga malam ini adalah malam pertama mereka menjadi pengantin baru.


"Ke kamar? Laila tidur di kamar Fajar, Ma? Bukan di kamar tamu?" pertanyaan konyol Fajar seketika membuat Mama Ida memijit pelipisnya.


"Ya iya di kamar kamu, Fajar! Memangnya tidur di kamar Mama?" sahut Mama Ida yang diiringi tawa Bibi.


Laila pun menyahuti ucapan Mama Ida. "Em ... kalaupun Laila tidur di kamar tamu, nggak apa-apa kok, Ma! Biar nggak ganggu tidurnya Mas Fajar!" ucapan Laila seketika membuat Mama Ida semakin pening.


"Aduh! Kalian berdua ini, kalian itu udah jadi suami istri, masa tidurnya beda tempat?"


Mendengar ucapan dari sang Mama, Fajar pun tersenyum sambil menatap wajah Laila malu-malu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2