Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Dosen baru


__ADS_3

Qia hanya melenguh panjang. Rupanya sang adik pun turut mendukung kedua orang tuanya untuk dijodohkan dengan Amir.


"Aduh, semuanya sama aja. Nggak Abi, Ummi, kamu juga. Sudah ah, Qia mau tidur aja. Besok harus berangkat pagi sekali. Qia nggak mau terlambat datang ngajar. Fira, ayo kamu juga harus tidur. Kakak nggak mau ya kamu bangun telat lagi. Apa kata mahasiswa lain nanti kalau tahu adiknya dosen sering datang telat," ucap Qia sambil menggandeng tangan sang adik untuk segera beranjak tidur.


Kebiasaan Fira, putri Fajar yang satu itu memang sedikit unik dan sedikit bandel. Sangat berbeda dengan sang kakak yang terkesan kalem dan lembut. Sudah sering sekali Fira datang telat ke kampus hanya karena bangun kesiangan dan alasan jika ditanya dosennya adalah karena selepas sholat tahajud semalaman dirinya ketiduran.


"Iya iya. Dadah Ummi, Abi. Selamat malam!" ucap si bungsu sambil melambaikan tangannya kepada kedua orang tuanya.


Fajar dan Laila hanya melihat kedua putrinya sambil geleng-geleng kepalanya. Dua karakter dari kedua putri mereka, membuat Fajar tertawa kecil.


"Ya Allah, mereka berdua sangat berbeda sekali. Aku hanya bisa berharap mereka berdua memiliki keimanan kuat seperti dirimu, tidak mudah terpengaruh oleh teman-temannya. Karena aku yakin mereka berada di tangan seorang ibu yang tepat!" ucap Fajar.


"Inshallah, kedua putri kita akan selalu Istiqomah. Percayalah, Mas!"


"Iya, aku selalu percaya padamu!"


*


*


*


Keesokan harinya.


Pagi ini kampus di mana Fira kuliah, akan kedatangan dosen baru yang merupakan sang Kakak sendiri. Dosen yang akan mengajar di kelas Fira.


Sepuluh menit sebelum Qia masuk ke dalam kelas. Gadis itu dengan santainya berjalan menuju ke ruangan dimana dirinya akan mengajar. Tiba-tiba dari arah belakang datang seorang pemuda sedang berjalan tanpa melihat ke arah depan, rupanya pemuda itu sedang sibuk melihat ke layar ponselnya. Dan akhirnya ...


'Braaakkk'

__ADS_1


"Astaghfirullah!" suara lembut itu mengagetkan Adam, dilihatnya buku-buku milik gadis itu terjatuh gara-gara Adam menyenggolnya.


"Ma-maaf, saya tidak sengaja!" Adam langsung berusaha untuk menolong Qia mengambil bukunya yang berserakan di lantai.


"Tidak apa-apa, terima kasih!" Qia berucap sambil merapikan buku miliknya yang diambilkan oleh Adam. Di saat yang bersamaan, Adam melihat wajah Qia untuk pertama kali. Sejenak pemuda itu terdiam saat melihat wajah manis Qia yang tidak membosankan dipandang mata.


"Subhanallah! Sungguh indah ciptaan Mu ya Allah! Baru kali ini aku lihat gadis seperti dia!" batin Adam terkesima.


"Terimakasih banyak, lain kali hati-hati kalau sedang berjalan!" seru Qia kepada Adam.


Adam masih terdiam dan tidak berkedip sama sekali. Qia pun melihat wajah pemuda itu yang sedang senyum-senyum sendiri.


"Halo, Mas! Mas bisa dengar saya?" seru Qia sambil memetik jarinya kepada Adam. Setelah sepersekian detik, Adam terkesiap dan ia tersadar dari lamunannya.


"Oh iya, hmm ... Mbak nya tidak apa-apa? Maaf tadi saya tidak melihat jika ada wanita cantik yang sedang lewat. Kalau saja saya tahu pasti saya akan membiarkan gadis secantik Mbak lewat. Em ngomong-ngomong mahasiswi baru, ya! Kenalin saya Adam, anak fakultas ekonomi," ucap pemuda itu dengan percaya diri sambil mengulurkan tangannya kepada Qia.


Qia hanya tersenyum sambil menundukkan wajahnya. "Nama saya Qia, senang bisa berkenalan dengan Mas Adam!" balas gadis itu tanpa menyambut uluran tangan Adam.


"Permisi, saya harus ke kelas!"


"Oh iya, silakan!" Adam membiarkan gadis itu pergi. Namun, sebelum Qia beranjak pergi, pemuda itu dengan beraninya meminta nomor telepon Qia.


"Tunggu dulu! Boleh minta nomor teleponnya? Ya itupun kalau kamu tidak keberatan, kalau nggak boleh juga tidak apa-apa, nggak maksa kok. Hanya saja sangat mengharapkan!" ucap Adam memberanikan diri.


Qia hanya tersenyum dan setelah itu ia hanya berlalu pergi tanpa memberikan apapun kepada Adam. Sebelum ke kelas, Qia pergi dulu ke kamar mandi untuk sejenak.


"Yah ... nggak dikasih, bikin penasaran saja. Kita lihat saja cewek mana yang bisa menolak seorang Adam. Dia, tidak boleh terlewatkan!" ucap lirih pemuda itu sambil berjalan menuju ke kelasnya.


Di dalam kelas, Adam disambut oleh teman sekelasnya yang selalu saja bertengkar dengannya yang tak lain adalah Fira, cewek tomboi berhijab yang juga adik Qia tersebut.

__ADS_1


"Heh Adam! Gara-gara kamu tuh, nyampe rumah aku kena amuk sama Abi," gerutu Fira saat Adam masuk ke dalam kelas.


"Salah sendiri, ngapain juga kamu ngelawan aku, mau nantang ayo siapa takut. Giliran kena bempernya sendiri penyok, marah-marah dasar cewek!" sahut Adam yang selalu saja membuat gara-gara dengan Fira.


"Kamu sih pakai nantangin aku segala. Awas aja kalo kamu berani gitu lagi, dikira aku nggak bisa balap kamu apa! Jangan mentang-mentang cowok beraninya sama cewek." sahut Fira sembari komat-kamit.


Tak berselang lama, datang seorang wanita muda, cantik dengan balutan busana berwarna cream dan hijab berwarna maroon. Iya, dia adalah Khumaira As Sidqia. Dosen baru yang akan mengajar ekonomi dan akuntansi di kelas sang adik


"Assalamualaikum semuanya!" sapa Qia sambil tersenyum kepada seluruh mahasiswanya. Spontan semua yang ada di dalam ruangan itu terdiam saat melihat sosok wanita cantik yang sedang berdiri di depan kelas mereka.


"Waalaikum salam, eh gila dia dosen baru kita? MasyaAllah nggak nyangka ternyata dia dosen kita toh," puji Adam yang sangat terkejut saat melihat wajah cantik Qia yang sedang tersenyum kepada mereka. Iya, Qia gadis yang sudah bertabrakan dengannya tadi saat di luar kelas.


Fira melirik ke arah Adam yang tampaknya tidak berkedip sama sekali saat melihat sang kakak yang baru masuk ke dalam kelas.


"Udah, nggak usah lebay! Jangan macam-macam kamu. Dia Kakak ku!" sahut Fira. Adam pun tampak sumringah saat melihat sang dosen baru yang cukup menyita perhatiannya.


"Nih cewek kok beda, ya! Kalemly dan lembutly!" batin Adam sambil senyum-senyum sendiri memperhatikan gerak tingkah Qia yang kalem dan ramah.


Spontan Adam terhenyak ketika mendengar ucapan dari Fira yang mengaku-ngaku sebagai adiknya dosen baru mereka.


"Hah? Masa sih dia kakakmu, waaahhhh nggak mungkin nggak mungkin, eh jangan ngaku-ngaku deh, sejak kapan kamu punya kakak secantik dia?" sahut Adam tak percaya.


"Dihhh nih anak dibilangin juga. Terserah kamu mau percaya apa engga. Bodo amat!" sahut Fira.


Sementara itu, Qia pun mulai memperkenalkan dirinya kepada semua mahasiswanya.


"Baiklah semuanya, nama saya Khumaira As Sidqia, biasa dipanggil dengan Qia. Saya akan mengajar ekonomi dan akuntansi di kelas ini." ucap Qia. Sejurus ia melihat sang adik yang duduk di kursi tengah. Tak disangka ia melihat wajah pemuda yang baru saja bertemu dengannya di luar kelas tadi.


"Bukannya itu cowok yang tadi di luar? Ternyata dia mahasiswa ku!" batin Qia tersenyum tipis.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...



__ADS_2