
"Aduh! Pak Fajar, Mbak Laila. Sebaiknya berantem nya dilanjutkan saja nanti sepulang kerja, kita masih di kantor, Pak. Nggak enak sama karyawan yang lain. Damai yuk damai! Bukannya kalian berdua dulu adalah kakak beradik, harusnya saling menyayangi, kalau bisa saling mencintai itu lebih bagus." Ucapan Pak Joko rupanya membuat Laila dan Fajar salah tingkah. Laila pun kembali duduk di kursinya. Begitu juga dengan Fajar yang juga kembali ke tempat duduknya.
Tentu saja Pak Joko bingung melihat sikap keduanya. Ia pun mendekati Bosnya dan berusaha untuk menenangkannya.
"Waduh, Pak Fajar. Ini baru pertama kerja, bagaimana nanti hari-hari selanjutnya, bakalan ramai terus nih ruangan!" seru Pak Joko sembari sesekali melihat ke arah Laila yang mulai mengerjakan tugas pertamanya.
"Udah Pak Jok tenang aja, saya cuma bercanda sama dia, saya semakin suka lihat Laila marah, lucu aja, gemas!" balas Fajar sembari tertawa kecil.
"Astoge! Ternyata Pak Fajar cuma bercanda, kirain beneran. Itu Mbak Laila nya marah beneran loh kayaknya, Pak!" sahut Pak Joko sembari berbisik-bisik. Sementara itu, Laila terlihat cuek dan masa bodo dengan apa yang dibicarakan oleh Fajar dan asistennya. Meskipun Laila tahu jika arah kedua mata orang itu sedang melirik ke arah dirinya.
"Astaghfirullah! Ngapain juga mereka lihatin aku mulu. Pasti sedang mengghibah tuh. Huuu dosa tuh ghibah in aku,"
Laila bermonolog sendiri sembari membuka laporan kantor untuk kali pertama. Untuk sejenak Laila melihat jika perusahaan yang dipimpin oleh Fajar mengalami peningkatan yang sangat signifikan, ternyata kepemimpinan Fajar membuat perusahaan itu bergerak maju.
"Keren ih, Mas Fajar memang sangat cerdas, semua laporan tertulis dengan baik. Perusahaan ini berkembang sangat cepat. Kalau gini pekerjaan jadi semangat, aku harus bisa membantu Mas Fajar untuk terus meningkatkan kualitas perusahaan ini. Semangat Laila, kamu harus bisa. Tapi ...!!"
Untuk sejenak Laila menyandarkan punggungnya dan mulai menerka-nerka. Benarkah Fajar sudah memiliki calon pengganti Ratna. Entah kenapa Laila sedikit bersedih saat kata-kata itu keluar dari mulut Fajar.
"Apa benar Mas Fajar sudah memiliki calon pengganti Mbak Ratna? Jika itu benar, harusnya aku mendukung Mas Fajar, itu artinya dia sudah bisa melupakan Mbak Ratna. Tapi kenapa aku tidak rela? Aaarrrgggghhhh ... ngapain aku mikirin siapa calon pengganti Mbak Ratna, itu bukan urusanku! Dah lah lebih baik fokus kerja, nggak aneh-aneh dulu, biar aku bisa beli rumah dulu yang layak, biar aku dan Bibi bisa tinggal di rumah yang lebih baik lagi. Aku ingin bangkit dan aku akan tunjukkan kepada Mbak Ratna jika aku pasti bisa hidup mandiri, aku harus bisa!"
__ADS_1
Laila pun mulai fokus pada pekerjaannya. Sementara itu di sisi lain, Fajar juga sedang berbincang dengan asisten Joko.
"Pak Joko bisa bantu saya?" seru Fajar kepada asistennya.
"Dengan senang hati, Pak. Apa yang harus saya lakukan?" tanya Pak Joko. Kemudian Fajar mengatakan sesuatu yang sangat pribadi kepada asistennya itu dengan membisikkan sesuatu pada telinga Pak Joko. Untuk sejenak Pak Joko tampak tertawa kecil saat mendengar apa yang dikatakan oleh Fajar.
"Iya iya, Pak! Saya mengerti. Sangat mengerti! Itu hal yang sangat mudah bagi saya, Pak Fajar tidak usah khawatir, saya pasti dukung Bapak," balas sang asisten dengan suka cita.
Di saat yang bersamaan, Laila harus menyerahkan beberapa laporan kepada Fajar, untuk kali pertama Laila harus datang menghadap Fajar dan minta tanda tangan darinya.
"Bismillah! Semoga aku tidak deg-degan lagi," batin Laila sembari beranjak berdiri untuk datang menghadap ke meja direktur.
"Permisi, Pak! Ini dokumen yang harus Bapak tandatangani." Ucap Laila sembari menyodorkan dokumen itu kepada Fajar.
Spontan Fajar menerimanya dan segera menandatanganinya. Saat melihat Laila yang sedang berdiri di depan Fajar, seketika terbersit dalam pikiran Pak Joko untuk menambah drama yang sedang direncanakan oleh Fajar.
"Oh iya Pak Fajar, bagaimana rencana Pak Fajar untuk makan siang bersama Mbak Bulan?" tanya asisten Joko berpura-pura.
"Bulan? Oh ... pasti dia calon pengganti Mbak Ratna! Penasaran bagaimana sih cewek itu?" batin Laila yang tentunya mendengar ucapan dari asisten Joko dengan jelas.
__ADS_1
Fajar tampak terkejut dan Ia pun spontan mengerti dengan maksud Pak Joko. Fajar pun mencoba mengasah kemampuan aktingnya untuk membuat Laila cemburu dengan berpura-pura jika dirinya sudah mendapatkan cewek pengganti Ratna.
"Oh tentu saja, Pak Joko! Saya pasti mengajak Bulan untuk makan siang, dia adalah gadis yang sangat baik, cantik, ya meskipun sedikit bawel, tapi saya sangat suka padanya, dia selalu membuat saya penasaran." Balas Fajar sambil melirik ke arah Laila yang terlihat menundukkan wajahnya, seolah gadis itu sedang memikirkan sesuatu.
"Syukurlah kalau Mas Fajar sudah bisa melupakan Mbak Ratna. Tapi kok ya aku nggak rela sih Mas Fajar dekat dengan gadis yang bernama Bulan itu! Jangan-jangan aku ... nggak-nggak, itu nggak mungkin!" lagi-lagi Laila bermonolog sendiri. Sungguh dirinya sungguh tidak suka mendengar berita yang ia dapatkan dari asisten Joko.
Pak Joko tampak tersenyum kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan, pria itu tidak kuasa menahan rasa ingin tertawanya saat bersandiwara di depan Laila."Ya Allah, Pak Fajar ini ada-ada saja. Tinggal bilang aku cinta kamu gitu aja kok ya susah banget sih. Sama-sama gede gengsi mereka."
Sementara itu, Fajar pun memerintahkan kepada Laila untuk untuk mengerjakan semua laporan yang masuk, agar Fajar bisa makan siang bersama Bulan depan tenang.
"Oh ya Laila! Kamu periksa semua laporan yang masuk, nanti aku tinggal makan siang dengan Bulan," Fajar berkata sambil menandatangani dokumen yang diberikan oleh Laila.
Setelah menandatangani dokumen tersebut, Fajar pun memberikannya lagi kepada sang sekretaris. Laila pun menjawab ucapan Fajar.
"Baik, Pak! Jangan khawatir, saya pasti akan mengerjakannya dengan baik, semoga makan siang Pak Fajar bersama si Bulan, Matahari kek bahkan Planet sekalipun, saya berharap bisa menyenangkan, permisi!" setelah mengatakan hal itu, Laila segera pergi kembali ke mejanya.
Asisten Joko dan Fajar seketika saling menatap dan pada akhirnya keduanya tertawa cekikikan.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1