Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Anak bungsu


__ADS_3

Amir pun beranjak pergi untuk menghampiri kedua orang tuanya. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering dan ia pun mengangkat teleponnya terlebih dahulu.


"Halo ... iya iya bagaimana ...?"


Amir terlihat serius menelepon seseorang. Sehingga ia tidak tahu jika Fira sudah keluar dari kamar mandi. Karena posisi Amir sedang membelakangi Fira.


Fira berjalan menuju tempat berkumpulnya Abi dan Ummi nya. Di sana ia melihat pak Joko dan istrinya yang menyambut kedatangan putri kedua Fajar itu.


Fajar melihat kedatangan putrinya dan langsung memperkenalkan anak gadisnya itu kepada pak Joko dan istri.


"Ini dia anak bungsu saya. Fira, ini Pak Joko dan istrinya!" seru Fajar.


Fira pun mencium tangan pak Joko setelah itu ia mencium tangan istri pak Joko.


"Assalamualaikum, Om, Tante, saya Fira. Adiknya kakak dan putri kedua Abi dan Ummi," seru gadis itu.


Spontan, semuanya tertawa saat mendengar ucapan Fira yang lucu.

__ADS_1


"Iya iya, kamu memang adiknya Qia dan anaknya pak Fajar. Setidaknya kami tidak butuh penjelasan itu karena Pak Fajar sudah menjelaskannya," ucap pak Joko dengan tertawa kecil.


"Hejeheh iya, Om. Tapi tidak apa-apa, supaya lebih jelas dan supaya tidak tertukar antara saya dan Kakak. Yang super bawel ini saya, yang pendiem bak patung itu kakak!" seloroh Fira yang lagi-lagi membuat mereka tersenyum.


"Waaahhhh pak Fajar, ternyata putri Anda ini sangat menyenangkan, ya! Dia pandai sekali membuat orang tertawa." ucap pak Joko.


Fajar pun tersenyum dan membalas, "Entahlah, Pak Joko. Saya juga tidak tahu kenapa putri saya yang satu ini tidak menurun sifat Ummi nya. Dia ini hampir sama dengan cowok, Pak. Bandel nya nggak ketulungan. Udah banyak cowok yang sudah dia tantang. Saya ini sampai capek menghadapi nih anak." ucapnya sambil memegangi pelipisnya.


"Ihh Abi, biarpun Fira bandel, tapi Fira tetap nurut Abi dan Ummi. Buktinya, seharusnya malam ini Fira jalan bareng sama teman-teman. Tapi, demi Abi yang ngajak kita makan malam. Ya udah Fira ikut aja daripada Abi nanti darah tingginya kumat. Kasihan kan Ummi nangis terus!" celetuk gadis itu yang membuat semuanya tertawa.


Hingga akhirnya, pak Joko mempersilakan Fira untuk duduk di kursinya. Gadis itu duduk di samping sang kakak.


Tak berselang lama. Amir datang ke tempat meja makan. Kedatangannya disambut oleh Fajar dengan baik.


"Assalamualaikum, Om Fajar!" sapa pemuda itu sambil mencium tangan Fajar.


"Alhamdulillah, baik Nak! Eh ... ini Amir yang dulunya suka petak umpet sama Fira itu kan? Yang sering berantem sama Fira. Subhanallah, sekarang kamu sudah dewasa saja, Nak! Ganteng lagi. Bisa-bisanya pak Joko mempunyai anak seganteng ini, padahal muka pak Joko itu pas-pasan loh! Nggak menyesal saya sudah memutuskan untuk berbesan dengan Pak Joko." ucapan Fajar spontan membuat semuanya tertawa kecil.

__ADS_1


"Alhamdulillah saya bisa bertemu lagi dengan Om Fajar. Saya juga sangat senang sekali bisa melihat wajah awet muda Om Fajar. Dari dulu wajahnya awet muda." puji pemuda itu.


"Ah kamu bisa saja, oh ya Amir. Kenalkan itu adalah kedua putri Om. Kamu masih ingat mereka, bukan?" sahut Fajar sambil menunjukkan kedua putrinya.


Baik Qia maupun Fira hanya menundukkan wajahnya. Sejenak, Amir mengerutkan keningnya ketika melihat dua anak gadis Fajar sama-sama memakai baju yang senada, sehingga membuat Amir sedikit kesulitan saat menebak siapa si sulung dan siapa si bungsu.


"Mana yang Qia dan mana yang Fira?" batin Amir menebak.


"Qia ... Fira ... sebenarnya kedua putri saya ini masih malu-malu. Jadi, harap maklum. Oh ya Amir, kamu sudah tahu kan apa rencana pertemuan kita ini?" tanya Fajar. Amir pun menganggukkan kepalanya dan menjawab, ", Iya Om. saya sudah tahu." pemuda itu tampak pasrah dengan perjodohan yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak


Fajar tersenyum dan berkata. "Aku ingin menjadikanmu sebagai salah satu calon suami diantara kedua putriku. Kamu bisa membawanya pulang, dan kamu bisa memilikinya." seru Fajar sambil menunjuk ke arah kedua putrinya.


"Membawanya pulang, Om?" sahut Amir sambil membulatkan mata ke arah calon mertuanya.


"Iya. Tentu saja!" balas Fajar sambil tersenyum.


"Tapi kira-kira siapakah di antara mereka yang akan Om jodohkan dengan saya? Soalnya saya tidak tahu yang mana Fira dan mana yang Qia. Jika perkenankan bolehkah saya menebak siapa calon istri saya?" tanya Amir sambil bercanda.

__ADS_1


"Iya, tentu saja. Kamu bisa menebak siapa yang Fira dan siapa yang Qia. Jika kamu berhasil menebaknya. Maka Om akan langsung menikahkan kalian sekarang juga,"


BERSAMBUNG


__ADS_2