Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Menjadi orang yang pertama


__ADS_3

Fajar ikut tertawa kecil, ia hampir saja ingin mencium pipi istrinya. Namun, Laila mendorong tubuh suaminya untuk berdiri tegak di posisi imam.


"Ehhh ... udah-udah, entar batal. Ayo kita sholat. Allahu Akbar Allahu Akbar Ashadu Alla ilaa ha illallah. Wa Ashadu Anna Muhammadar Rasulullah. Haiya ala Sholah Haiya alal falah, Qodqomatis Sholah Qodqomatis Sholah, Allahuakbar Allahuakbar laa ilaa ha illallah."


Setelah Laila mengucapkan Iqomah. Mereka berdua pun memulai mengerjakan sholat subuh.


*


*


*


Dua rakaat sholat subuh sudah mereka kerjakan. Laila mencium tangan sang suami, Fajar melepas pecinya dan tidak membiarkan Laila terlepas dari dirinya. Fajar menahan tangan sang istri dan menariknya dengan cepat.

__ADS_1


"Aww, Mas!"


Kini, Laila berada di dalam pelukan sang suami. Demam pengantin baru ternyata benar-benar melanda mereka berdua. Fajar melepaskan mukena sang istri dan membiarkan rambut yang masih terlihat basah itu tergerai indah pada pundak sang istri.


"Aku mau keluar dulu, aku mau buatin kamu sarapan, bukankah kamu harus ke kantor?"


"Hmm ... iya sih. Tapi, bolehkah aku tidak masuk sehari saja, aku ingin menikmati kebersamaanku dengan istriku yang cantik ini. Kau tahu Laila, ternyata dugaanku tidak pernah salah. Sesuatu yang tertutup dengan rapi pasti akan tetap terjaga dengan baik, dan aku sangat bersyukur menjadi orang pertama yang bisa melihat keindahan yang ada pada dirimu, semuanya serba besar, lebih besar dari punya Ratna. Perasaan dari luar terlihat kecil tapi setelah dibuka, aku baru menyadari mengapa itu sangat kamu jaga, karena itu pasti membuat mata laki-laki pasti sangat tergoda." Fajar menjelaskan secara rinci tentang apa yang ia lihat pada istrinya.


"Sudahlah, lupakan! Aku tidak enak menjelaskannya, nanti kamu tersinggung. Yang jelas aku dan Ratna tidak pernah terlibat hubungan suami istri, aku tidak bisa berdiri saat di dekat Ratna." Penjelasan Fajar yang cukup membuat Laila membulatkan matanya.


"Serius! Tidak bisa On?" Laila bertanya dengan ekspresi yang sangat penasaran. Ia heran saja bagaimana mungkin Fajar tidak bisa On berada di samping wanita cantik, apalagi wanita itu adalah wanita yang pernah dicintainya.


"Aku serius, untuk apa aku bohong padamu, berkali-kali dia mencoba merayuku, tapi nyatanya ya ... tetap nggak bisa, aku juga tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Aneh, kan?"

__ADS_1


"Hmm ... iya juga sih, aneh banget!" Laila pun berpikir keras bagaimana bisa Suaminya tidak bisa On saat bersama dengan Ratna.


"Sudahlah, Sayang! Justru aku sangat bersyukur, ternyata arti semua itu adalah aku memang berjodoh denganmu, Allah sudah menunjukkan jalannya, mungkin dibuat seperti itu agar keperjakaanku tetap terjaga, dan nyatanya memang Allah sudah mengatur semuanya, toh kamu juga yang bisa merenggut keperjakaanku!" seloroh Fajar yang diiringi cubitan kecil di pipi pria itu.


"Kok aku sih yang dituduh merenggut keperjakaanmu, salah kamu sendiri. Kamu yang nyodorin, ya jangan salahkan aku dong!"


Fajar semakin terkekeh mendengar ucapan lugu istrinya. Tanpa aba-aba ia pun mencium bibir indah itu dengan mesra. Laila terpejam menikmati manisnya ciuman hangat di pagi hari.


Jam berdenting tepat pukul 5 pagi, suara itu membuyarkan kedua insan yang sedang menikmati ciuman hangat di pagi hari.


"Em ... ya sudah, aku ke dapur dulu. Aku siapkan sarapan untukmu. Oh ya Mas, apa aku boleh ikut ke kantor, emm bukannya kamu belum mendapatkan sekretaris yang baru? Aku bisa datang ke kantor selama kamu belum menemukan sekretaris yang cocok. Hitung-hitung kita juga bisa lebih dekat, toh kita kan selalu bersama setiap hari, bagaimana?" tawar Laila sambil memainkan ujung jarinya pada bibir sang suami.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2