Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Vampir dadakan


__ADS_3

"Jadi, aku harus bagaimana?" bisik Fajar pada telinga sang istri. Laila memutar bola matanya dan Ia pun seketika mendapatkan ide.


Laila dengan cepat membalikkan badannya dan menyuruh suaminya untuk berbalik membelakangi dirinya.


"Kamu ngadep sana! Biar nggak bisa lihat," ucap Laila sambil tertawa kecil. Fajar garuk-garuk kepalanya, capek-capek tugu Monas itu berdiri nyatanya cuma disuruh berdiri membelakangi istrinya dan menghadap ke arah tembok.


"Kok ngadep sini? Memangnya istriku ganti menjadi tembok?" protes laki-laki bertubuh tegap tinggi itu.


"Udah nggak usah protes, katanya nggak bisa tidur kalau lihat aku seperti ini, ya ... kamu lihat tembok aja, aku akan memandikan kamu!" Laila mulai menyeka punggung suaminya dengan sabun. Fajar pun cuma bisa pasrah, meskipun sebenarnya dirinya bisa saja melakukannya. Tapi, Fajar juga tahu jika waktu subuh hanya sebentar. Mereka tidak ingin berlama-lama di kamar mandi agar tidak ketinggalan waktu subuhan.


Laila mengusap-usap seluruh permukaan kulit sang suami tanpa terkecuali, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kali ini, kesabaran Fajar benar-benar diuji. Ia terpaksa harus menenangkan si tugu Monas agar tidak sampai khilaf berkali-kali.


Gerakan menyabuni tangan Laila terhenti saat tiba di lokasi tugu Monas itu berdiri. Spontan Laila menarik tangannya dan menyuruh Fajar sendiri yang melakukannya.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" tanya Fajar tiba-tiba.


"Kamu sabuni sendiri, aku tidak bisa melakukannya." Laila menyabuni tubuhnya sendiri. Fajar pun tertawa kecil dan ia pun mengerti kenapa sang istri berhenti. Nyatanya tugu Monas itu masih berdiri kokoh, sekokoh lengan seorang binaragawan, berurat banyak tapi bukan sebuah bakso. Namun yang pasti itulah yang membuat Laila tidak berdaya.


Setelah mereka berdua mandi junub, Laila dan Fajar mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Keduanya tampak saling melempar senyuman saat sama-sama mengeringkan rambut yang basah.


Pandangan mata Fajar sejenak tertuju pada area leher sang istri, terlihat warna merah yang sangat jelas menghiasi area leher Laila yang jenjang. Mungkin saat mandi bersama tadi tidak terlihat begitu jelas. Tapi kini Fajar jelas-jelas melihat tanda merah itu yang seketika membuatnya mengernyitkan dahi.


"Tanda apa ini?" tanya Fajar menyelidik.


"Vampir dadakan? Kok aku lupa, ya?" balas pria itu sambil tertawa kecil dan memicingkan matanya ke arah Laila. Laila dengan rambut basahnya mulai mengancingkan baju Koko untuk sang suami.


"Dasar pelupa!" umpat Laila dengan wajah malunya. Fajar semakin gemas melihat ekspresi wajah sang istri yang terlihat mengerucutkan bibirnya. Laila tampak berhati-hati agar dirinya tidak menyentuh kulit sang suami, karena ia tidak ingin batal berwudhu nya.

__ADS_1


Laila pun lama-lama tidak tahan ingin ikut tertawa saat Fajar menatapnya genit.


"Ihh bisa nggak sih kalau lihat nggak usah seperti itu, bikin salah tingkah aja!" sahut Laila sambil mengancingkan kancing baju yang terakhir. Setelah itu ia pun bergegas memakai mukena dan bersiap untuk sholat subuh.


Fajar merapikan rambutnya dan setelah itu ia memakai peci kesukaan Laila. Peci hitam yang Fajar pakai saat ijab Kabul kemarin.


Laila terkesima saat melihat penampilan suaminya yang sangat tampan, ia terlihat begitu berwibawa, di kantor mungkin Fajar adalah seorang Bos, dengan tampilan jas mewah dan kacamata hitam. Tapi di rumah, Fajar adalah seorang ustadz bagi Laila, ustadz tampan dengan berjuta pesona.


Fajar menggelar sajadah, sementara itu Laila masih diam terpaku melihat ketampanan suaminya. Setelah menggelar sajadah itu, Fajar pun menoleh ke arah belakang di mana sang istri berada.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ayo bersiap!"


"Ternyata si vampir dadakan itu cakep juga, ya! Mau dong digigit lagi!" goda Laila sembari tertawa kecil.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2