Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Tempat healing baru


__ADS_3

Setelah itu Fajar pun segera mengantarkan sang istri untuk ke kamar mandi. Fajar pun segera pamit keluar setelah ia mengantarkan Laila. Namun, Laila justru melarang suaminya untuk pergi keluar.


"Ya sudah kamu mandilah, aku mau tidur dulu masih ngantuk!"


"Eh ... kamu mau kemana, Mas?" pertanyaan Laila membuat Fajar menoleh ke arah sang istri.


"Ya keluar, bukannya kamu mau mandi, ya aku di luar saja," sahut Fajar sambil menunjuk ke arah luar. Laila berjalan menghampiri suaminya sembari menutup pintu kamar mandi. Bola manik mata pria itu terus menyorot ke arah Laila. Tanpa ada protes atau sebuah kata.


Laila tidak berkata apa-apa. Setelah menutup pintu kamar mandi ia pun berjalan ke arah pancuran air shower yang dibatasi oleh sekat bening tembus pandang. Laila masuk ke dalam dan melepaskan piyama kimononya.

__ADS_1


Terlihat leher Fajar yang bergerak naik turun, pria itu tampak menelan ludahnya berkali-kali. Apakah di pagi buta kali ini dirinya harus berolahraga lagi. Ah ... rasanya semalam sudah cukup membuatnya lemas.


Laila menyalakan keran shower, guyuran air shower itu terasa begitu segar, setelah semalaman Laila bermandikan keringat asmara. Fajar hanya terdiam, perlahan kakinya melangkah satu persatu. Hingga akhirnya ia tiba di depan pembatas bening yang mengikis jarak mereka berdua.


Bayangan tubuh Laila terlihat begitu menggoda meskipun terlihat samar. Namun, Fajar sudah hafal betul lokasi-lokasi di mana titik - titik yang ia sukai. Kini, dirinya mendapatkan tempat healing baru yang tentunya lebih menyenangkan daripada tempat-tempat indah di penjuru dunia. Lebih menyenangkan daripada lembah Khasmir, lebih indah daripada pegunungan Himalaya dan tentunya lebih panas dan menggoda daripada gurun Sahara.


Laila tahu jika suaminya berada di dekatnya, gadis itu tersenyum dan mengeluarkan satu tangannya kepada Fajar.


"Kamu mengajakku mandi bersama, yakin?" balas Fajar sambil meraih tangan sang istri yang tampak basah.

__ADS_1


"Bukankah itu disunnahkan, Mas? Justru kita akan mendapatkan pahala yang luar biasa jika kita saling memandikan, tunggu apa lagi keburu waktu subuh habis," Laila menarik tangan sang suami sehingga membuat Fajar masuk ke dalam ruang shower bersama istrinya.


Air shower itu membasahi tubuh Fajar yang masih mengenakan piyama kimononya. Tatapan mata Fajar mulai menyipit saat pemandangan yang luar biasa itu lagi-lagi membuat si tugu Monas miliknya menjadi kokoh, kuat dan tegak meskipun tidak dilapisi oleh semen merk Empat Roda.


Keduanya sama-sama basah, Laila membantu sang suami untuk melepaskan piyama itu yang sudah basah oleh air shower. Tangan cantik itu membuka belahan piyama yang mulai memperlihatkan dada seksi seorang Fajar, dan pada akhirnya Laila melepaskan seluruhnya dan membuang piyama itu di atas lantai.


Seketika Laila memalingkan wajahnya saat sang tugu Monas seolah sedang menantang dirinya.


"Mas, bisa nggak sih adik kamu disuruh tidur sebentar, kita kan mau mandi, Mas!" seru Laila sembari membalikkan badannya karena melihat penampakan si tugu Monas yang perkasa. Sebenarnya dia suka melihatnya bentuknya unik dan selalu membuatnya senyum-senyum sendiri. Tapi, waktunya untuk beribadah tidak mungkin Laila selalu menuruti hawa nafsu pribadinya.

__ADS_1


"Tidur? Tidak bisa, Sayang. Ini sudah hukum alam. Dia sangat sinkron dengan mata, jika kamu tetap dalam kondisi seperti ini aku tidak bisa menidurkannya, begitu sulit untuk melupakannya," Fajar meraba pundak Laila dan mengecupnya mesra.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2