
Datang seorang pelayan mengantarkan mukena untuk Laila, sang pelayan mengetuk pintu dan Laila pun memakai jilbabnya sebelum dirinya membukakan pintu.
Laila membuka pintu kamar dan melihat seorang pelayan berdiri sembari memberikan mukena itu untuknya.
"Terima kasih banyak!" balas Laila sembari menerima mukena itu. Setelahnya ia menutup pintu dan membawa mukena itu ke dalam kamar.
Di saat yang bersamaan, Fajar keluar dari kamar mandi, ia melihat istrinya sedang membawa mukena. Kemudian Laila meletakkan mukena itu do atas sajadah yang sudah ia gelar sebelumnya di atas lantai.
"Sekarang berwudhu lah!" titah Fajar kepada Laila. Laila menoleh ke arah sang suami.
"Iya Mas!"
Laila berjalan menuju ke kamar mandi, di mana Fajar masih berdiri di depannya. Laila mulai masuk dan melewati sang suami yang berdiri sambil merapikan bajunya. Di saat Laila tepat berjalan di samping Fajar, tak sengaja rambut Laila berkibar mengenai wajah sang suami, sontak Fajar memejamkan matanya. Aroma harum dari rambut Laila sungguh seperti sebuah aroma yang memabukkan.
__ADS_1
"Rambutnya aja udah wangi, bagaimana dengan yang lainnya? Astaghfirullah, kenapa pikiranku jadi oleng gini. Ayo Fajar sholat dulu, kok malah rambut yang dipikirkan!" Fajar senyum-senyum sendiri. Sejenak, Fajar melihat tangannya yang tidak terasa perih lagi, padahal tadi lukanya masih terlihat basah, ternyata obat dari dokter Hasan benar-benar manjur. Fajar pun semakin tersenyum sumringah.
"Ah Dokter Hasan emang tahu aja!" pikirnya.
Fajar menunggu sang istri sembari duduk di atas tempat tidur, ia sudah rapi dengan peci hitam dan pakaian yang ia pakai saat ijab Kabul tadi.
Tak berselang lama, Laila keluar dari kamar mandi, wajah ayunya masih terlihat basah. Dari kejauhan Fajar sudah mengintai sang istri dengan senyum manisnya. Memperhatikan penampilan sang istri dari atas hingga bawah, meskipun masih mengenakan gamis panjang, tapi sudah cukup membuat Fajar tergoda dengan rambut panjang yang terurai menghiasi wajah ayu Laila.
Laila menghampiri suaminya yang sudah menunggu kedatangan dirinya. Laila pun segera mengambil mukena yang ia taruh di atas sajadah yang sudah ia persiapkan untuk mereka sholat. Sementara itu, Fajar hanya memperhatikan sang istri yang sedang memakai mukenanya.
Kedua mata mereka dikejutkan dengan sebuah benda berwarna merah cerah yang terbuat dari kain satin sutra yang sangat lembut jatuh di atas sajadah.
"Apa itu?" seru Fajar saat melihat benda mirip sebuah baju terjatuh begitu saja dari dalam mukena.
__ADS_1
Karena penasaran, Laila pun segera mengambil kain berwarna merah menyala itu. Kemeja ia melebarkan kain itu ke arah sang suami.
Seketika, keduanya melototkan matanya saat melihat sebuah lingerie seksi yang terpampang jelas di depan mata mereka. Baik Fajar maupun Laila tahu jika itu adalah sebuah lingerie seksi.
Karena malu, Laila langsung menyembunyikan lingerie itu di balik punggungnya. Dengan wajah yang tersipu-sipu, Laila berkata, "Em ... aku tidak tahu apa-apa, Mas! Itu tadi terjatuh dari dalam mukena ini, aku benar-benar nggak ngerti apa-apa, Mas! Biar aku bawa pergi saja!" ucapnya sembari berjalan dan meletakkan lingerie itu di atas tempat tidur.
Manik mata Fajar terus melirik ke arah gaun berwarna merah itu, seolah dirinya berkhayal bagaimana jika Laila memakai gaun itu.
"Andai saja Laila memakainya! Ah mana mungkin dia mau!" Fajar bergumam dalam hatinya.
"Mas! Ayo kita sholat! Kok malah bengong?" suara Laila seketika mengejutkan Fajar yang masih melamunkan seandainya Laila memakai lingerie itu.
"Ah iya, ayo!" Fajar terkesiap dan ia pun segera membuyarkan lamunannya. Kini mereka berdua melaksanakan sholat isya berjamaah.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...