
"Iya Ummi mengerti. Tapi Abi sudah merencanakan untuk mengenalkanmu kepada Amir, anaknya pak Joko. Abi berharap kamu dan Amir bisa berjodoh. Apalagi Amir itu pemuda yang baik, berpendidikan dan pastinya dia pemuda yang alim. Itulah kenapa Abi ingin sekali menjodohkanmu dengan putranya pak Joko." seru Laila menjelaskan.
"Ummi, berapa kali sih Qia bilang, Qia itu nggak mau dijodohin. Qia ngerti Abi dan Ummi ingin Qia mendapatkan jodoh yang baik. Tapi untuk sementara please jangan paksa Qia dulu!" ucap gadis yang berhijab sejak kecil itu.
Laila pun menghela nafas panjang. Ia tidak bisa memaksakan kehendak kepada putrinya. "Ya sudah, sekarang tidurlah! Besok Ummi mau mengajakmu pergi ke makam Budhe Ratna," ucap Laila sebelum meninggalkan kamar putrinya.
"Iya Ummi." balas Qia sembari tersenyum. H
Gadis itu pun melihat kepergian ibunya keluar dari kamar.
Di saat Laila keluar dari kamar. Ia melihat suaminya yang sedang bertelepon ria dengan mantan asistennya, Pak Joko. Rupanya Fajar sedang berbincang seputar rencana pertemuan mereka nanti.
"Tentu saja pak Joko, saya pasti sangat senang bisa berbesan dengan pak Joko. Bukankah sedari dulu kita ini adalah partner kerja, pak Joko juga yang sudah membantu saya untuk lebih dekat dengan Umminya Qia. Baiklah, sampai berjumpa besok malam. Assalamualaikum!"
Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Fajar sebelum dirinya menutup telepon. Sang istri menghampirinya dan duduk disebelah sambil memijit pundak sang suami.
"Siapa, Mas?" tanya Laila sambil terus memijit punggung Fajar.
"Pak Joko, besok malam kita harus bersiap untuk bertemu dengan mereka. Apa Ummi sudah bicara dengan Qia? Bagaimana, apa dia setuju?" ucap Fajar sambil memeriksa beberapa pesan WhatsApp.
"Ya seperti itulah, Mas. Seperti biasa jawabannya pasti sama seperti kemarin-kemarin, nggak mau dijodohin. Apa kita nggak terlalu maksa Qia juga, Mas. Ya apa salahnya kita beri dia kesempatan untuk menikmati masa mudanya dulu." Laila berusaha bernegosiasi dengan suaminya. Karena ia tahu jika sang putri masih menginginkan untuk menjadi seorang dosen tanpa harus dibebani tugas menjadi seorang istri.
"Nggak bisa. Dia itu anak perempuan. Lagipula dia akan tetap bisa menjadi dosen kok, meskipun sudah menikah. Aku yakin Amir pasti mengizinkan dia untuk tetap menjadi dosen. Beda sama si Safira. Kalau si Safira aku biarkan dia kuliah dulu. Biarkan Kakaknya menikah duluan. Ummi tahu sendiri si Qia itu sulit mendapatkan cowok. Dia itu gadis yang super cuek beda tuh sama adeknya yang super bawel. Dia tuh sebenarnya anak cowok tapi nggak jadi. Siang ini dia sudah bikin kepalaku pusing. Tuh mobil dipake nggak bilang dulu. Pulang tau-tau bemper udah penyok." gerutu Fajar kepada putri keduanya. Safira Al Latifah.
Laila hanya bisa tertawa kecil mendengar ocehan suaminya. "Ya sudahlah, Mas. Maklumlah Fira memang seperti itu. Kamu juga sih dulu ngidamnya aneh-aneh pas aku hamil dia, kamu suka banget tuh manjat naik pohon mangga dan makan buah mangga di atasnya. Ya pantes aja anak kita jadi kayak Tarzan, orang dulu bapaknya suka manjat pohon mangga. Mana banyak tetangga yang lihat lagi,"
Fajar tertawa geli saat mengingat kejadian 20 tahun yang lalu saat sang istri hamil anak kedua.
__ADS_1
"Ya ya, astaghfirullah. Bisa jadi seperti itu, ya! Nggak kerasa ya sudah 25 tahun kita menikah. Waktu berjalan begitu cepat, anak-anak kita sudah besar. Ngomong-ngomong bagaimana kabar Agung sekarang? 20 tahun lebih loh kita tidak mendengar kabarnya, mudah-mudahan dia bisa melupakan semuanya. Termasuk kematian Ratna," balas Fajar yang tiba-tiba saja teringat akan pria yang pernah ia penjarakan.
"Entahlah, Mas. Aku cuma berdoa supaya Mas Agung bisa hidup lebih baik lagi. Sejak keluar dari penjara. Mas Agung menutup semua sosial media miliknya. Jadi, aku tidak tahu bagaimana dia sekarang, tinggal di mana, kerja di mana. Bisa jadi Mas Agung pulang ke rumah orang tuanya, mungkin saja!" imbuh Laila.
Datang dari arah belakang seorang gadis yang tiba-tiba mengejutkan Fajar dan Laila dengan memeluk keduanya dari belakang.
"Daaarrrr hayo lagi gibahin siapa nih Ummi, Abi? Nah ya nggak boleh gibah, ingat kata pak ustadz seperti itu!" seru seorang gadis yang berusia 19 tahun, anak kedua mereka yang bernama Safira atau biasa dipanggil Fira.
Fajar menoleh ke arah belakang, dilihatnya anak gadisnya yang memiliki sifat tomboi itu.
"Eh sini kamu! Dari mana saja kamu tadi seharian. Tuh bemper depan kenapa bisa penyok gitu, kamu apain mobil Abi? Pasti kamu nyetirnya ngawur iya, kan?" Fajar memegang tangan putrinya seolah meminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan oleh Fira pada mobil sang Abi.
"Hehehe ampun, Bi. Fira nggak sengaja beneran, tadi tuh Fira kan lagi enak-enak nyetir eh nggak tahunya ada tuh si Adam ngeledekin Fira, ya udah Fira kejar tuh mobilnya, gedek banget sumpah. Ala-ala fast and furious nih, Bi. Fira kejar tuh mobil si kutu kupret, setelah deket Fira tabrak aja tuh mobilnya biar mampus, Fira kok dilawan!" ucap gadis itu sembari
Pengakuan Fira spontan membuat Laila tertawa sementara itu Fajar hanya bisa memegang kepalanya yang tiba-tiba berkunang-kunang.
"Ya Allah! Kenapa anakku yang ini kayak cowok sifatnya. Kamu ini anak perempuan Fira, yang kalem dong. Masa anak perempuan seperti itu sih!" gerutu Fajar.
"Kamu tuh mau dengerin pengajian apa mau kondangan, pakai duwit segala!" sahut Fajar sambil membuka dompetnya. Fira pun terlihat senang kegirangan, meskipun sambil ngomel-ngomel sang Abi tetap saja memberikan uang saku untuk putrinya.
Sedangkan Laila cukup terpaku saat Fira berkata siapa nama Ustadz yang baru saja disebutkan oleh sang anak. Karena nama itu mengingatkan dirinya akan Agung. Sang mantan kakak ipar sekaligus mantan kekasihnya.
"Siapa tadi? Ustadz Agung?" tanya Laila penasaran.
"Iya Ummi. Dia ustadz gaul favorit anak-anak muda. Masa Ummi nggak denger sih berita tentang beliau, banyak anak-anak muda yang mengidolakan beliau, Ummi." ucap Fira sambil menerima uang beberapa lembar berwarna merah dari sang Abi.
"Oh ya? Kok Ummi nggak tahu kalau ada ustadz gaul? Apa Ummi aja yang kurang update?" pikir Laila sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya iyalah Ummi kurang update, Idola Ummi cuma KH. Zainuddin MZ aja sih, sekali-kali buka sosmed Ummi. Biar nggak ketinggalan berita. Jangan keseringan buka kolor Abi aja ... eh salah ya! Ampuuunnnn!" ucapan Fira spontan membuat Fajar melototkan matanya.
Fira tampak lari menjauh untuk menghindari amarah sang Abi. "Terima kasih banyak, Abi. Abi emang baaaiiiikkkkkk banget. Muacchhh I love you kalian berdua!"
Fajar dan Laila hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri keduanya yang sangat jauh berbeda dari putri pertama mereka.
"Anakmu tuh!" seru Fajar.
"Anakmu juga!" sahut Laila.
"Ini gara-gara bikinnya terlalu semangat. Jadi ya seperti itu!"
"Bikin apa?" tanya Laila sambil menautkan kedua alisnya.
*
*
*
...BERSAMBUNG...
Safira Al Latifah (19 tahun) Putri kedua pasangan Fajar dan Laila.
__ADS_1
Amir Al Fathir (26 tahun) Putra asisten Joko.
Yaps siapakah jodoh mereka? Ikuti terus kisahnya 🥰