
"Kenapa suaranya mirip sekali dengan suara Laila? Tapi tidak mungkin Laila berada di kota ini, kota ini sangatlah jauh lagipula untuk apa dia ada di tempat ini. Hmm mungkin itu perasaanku saja yang berharap bertemu dengan Laila lagi. Fajar Fajar jangan terlalu berharap yang berlebihan." batin Fajar.
Fajar pun juga tetap bersikap profesional, ia pun dengan tegas berkata kepada Laila dengan nada yang jelas, "Kamu tahu! Harusnya kamu datang jam berapa? Kamu sudah terlambat lima belas menit, belum menjadi karyawan kamu sudah banyak tingkah, aku sangat tidak suka dengan sikap anak buah yang kurang kredibilitasnya," ucap Fajar dengan tegas.
Suara Fajar seketika membuat Laila tercengang, suara itu mirip sekali dengan mantan kakak iparnya.
"Suara itu? Kok mirip sekali dengan Mas Fajar? Apa jangan-jangan itu Mas Fajar? Tapi nggak mungkin Mas Fajar ada di kota ini, ngapain dia melancong ke kota ini, nggak-nggak itu bukan Mas Fajar, dia hanya mirip saja suaranya. Pasti dia Bos yang galak kelihatan sekali dari nada bicaranya. Ya Allah hamba mohon luluhkan hati Bos galak ini ya Allah!"
Laila terlihat serius berdoa dalam hatinya. Hingga akhirnya Laila mendapatkan peringatan lagi dari Fajar. "Kamu tahu peraturan di perusahaan ini sangat ketat, terlambat sedikit saja tidak ada toleransi, kami akan memberikan SP satu. Apalagi terlambat lima belas menit. Kamu niat kerja nggak sih! Kalau nggak niat kerja kamu bisa langsung keluar dari ruangan saya, saya tidak suka karyawan yang menye-menye," ucap Fajar dengan suara yang menekan.
"Iya iya Pak! Sa-saya niat! Maaf Pak tadi saya masih bingung dengan daerah sini, saya belum terlalu faham dengan kota ini, jadinya sa-saya agak nyasar. Baiklah jika bapak berkata demikian, sa-saya akan pergi. Maaf jika mengganggu waktu Bapak, permisi!" sahut Laila sembari membalikkan badannya. Lagi-lagi suara Laila membuat Fajar semakin membulatkan matanya dan ia pun penasaran siapa sebenarnya yang berada di dalam ruangannya.
"Itu beneran suara Laila!"
Sontak Fajar membalikkan badannya dan melihat Laila yang sedang pergi menuju ke arah pintu. Seketika Fajar sangat mengenali sosok yang sekarang ada di hadapannya. Apalagi wanita yang kini hendak keluar dari ruangannya itu berpenampilan mirip sekali dengan Laila. Dengan segera Fajar menyuruh Laila untuk berhenti.
"Tunggu! Siapa yang menyuruhmu pergi?" seru Fajar. Laila berhenti tanpa menoleh ke arah Fajar kemudian ia pun menjawab, "Katanya tadi disuruh keluar, saya sadar karena sudah terlambat datang untuk interview. Jika memang tidak ada harapan bagi saya untuk bekerja di perusahaan ini, saya tidak apa-apa, setidaknya saya tidak akan memiliki Bos yang galak seperti Anda!" sahut Laila yang masih membelakangi Fajar.
"Laila!" sebuah kata yang terucap dari bibir Fajar, seketika Laila langsung berbalik badan dan akhirnya ia melihat jika Direktur yang tengah mewancarai dirinya adalah Fajar, sang mantan kakak ipar.
__ADS_1
"Mas Fajar!"
"Laila!"
Keduanya bersamaan menyebut nama masing-masing. Laila terlihat kikuk sekaligus terkejut, bagaimana bisa dirinya bertemu dengan Fajar lagi. Begitu juga dengan Fajar. Ia tidak menyangka jika bisa bertemu dengan Laila di kota yang jauh dan kota asal mereka yaitu Jakarta.
Keduanya terlihat bingung harus berkata apa, sama-sama salah tingkah, Laila tampak cengar-cengir dan malu-malu. Pun sama Fajar juga terlihat pura-pura acuh dan seolah tidak melihat ke arah Laila.
Pada akhirnya, Laila memberanikan diri untuk berkata. "Emm ... Mas Fajar apa kabar?" tanya Laila sambil tertunduk malu.
"Hah! Aku? I-iya aku baik-baik saja, hanya saja aku sedang sakit sedikit, kamu sendiri bagaimana keadaanmu? Sepertinya kamu sedikit pucat, kamu sakit?" tanya Fajar sembari garuk-garuk kepalanya.
"Aku? Iya sakitku memang tidak terlihat, karena letaknya begitu dalam dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata, hanya dengan mata batin baru bisa terlihat, dengan jelas," jawaban Fajar seketika membuat Laila tertawa kecil.
"Mas Fajar ada-ada saja, mana ada sakit seperti itu, Mas! Memangnya sakitnya Mas Fajar kayak dedemit, hanya dilihat dengan mata batin?" sahut Laila yang semakin membuat Fajar salah tingkah.
"Eh beneran, coba kamu yang terawang! Pasti kamu akan tahu," balas Fajar sambil menatap wajah Laila. Tentu saja Laila tidak mungkin balik menatap pria yang bukan siapa-siapa nya, gadis itu tetap menundukkan wajahnya.
"Maaf, Mas! Aku bukan dokter penyembuh sakit kamu,"
__ADS_1
Fajar tertawa kecil mendengar ucapan dari Laila. Akhirnya, Fajar mempersilakan Laila untuk duduk.
"Sudah-sudah, aku cuma bercanda, lagipula rasa sakit itu sudah hilang saat aku melihatmu di sini, sekarang aku sudah tidak sakit lagi, terima kasih banyak Laila, duduklah!" titah Fajar sambil dirinya juga ikut duduk di kursi miliknya.
Laila pun duduk di kursi dan menghadap ke arah Fajar yang juga sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Kalau boleh tahu Mas Fajar sakit apa? Kok aneh gitu?" tanya Laila sambil berpikir.
"Kamu mau tahu banget apa mau tahu aja!" sahut Fajar menggoda.
"Ya sudah kalau tidak mau ngasih tahu, Laila nggak akan bertanya lagi. Em ngomong-ngomong Mas Fajar kok ada di sini? Laila nggak tahu kalau Mas Fajar itu direktur di perusahaan ini," ucap Laila.
"Iya, sejak aku memutuskan untuk bercerai dengan Ratna, aku pindah ke luar kota, apalagi aku diangkat sebagai pengganti direktur di perusahaan ini, mau tidak mau aku harus pindah ke kota ini bersama Mama, dan aku nggak nyangka bisa ketemu kamu sama kamu lagi. Ngomong-ngomong kemarin aku telepon kamu, kenapa direject?"
Laila terlihat gugup saat Fajar bertanya tentang ia yang mereject panggilan dari Fajar.
"Em ... oh itu kamu yang telepon, iya maaf Mas, nomor kamu nggak sengaja kehapus, aku pikir telepon nyasar atau teman yang mau hutang duwit jadinya nggak aku angkat, maaf banget, Mas!" ucap Laila sedikit berbohong.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1