Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Aku cinta kamu, Laila.


__ADS_3

Seketika asisten Joko dan Bulan menoleh ke arah Laila dengan terkejut. Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari meja itu agar Fajar dan Laila bisa berbicara berdua saja.


"Em ... permisi, Pak. Saya mau ke sana sebentar, ngabarin istri kalau nanti pulang mau minta dibelikan apa," seru asisten Joko sambil beranjak berdiri dan pergi. Fajar pun menganggukkan kepalanya.


Begitu juga sebaliknya, Bulan juga berpura-pura pergi ke toilet untuk cuci muka. "Saya juga permisi dulu, Mas! Saya mau ke toilet, mau cuci muka biar wajahku nggak kena virus setelah kamu sembur, Papay!" sahut Bulan sembari beranjak pergi ke kamar mandi.


Fajar pun menganggukkan kepalanya. Kini, tinggal mereka berdua pada satu meja. Laila tampak diam saja saat dirinya hanya berdua dengan Fajar. Posisi keduanya yang saling berhadapan membuat Laila semakin gugup dan salah tingkah, meskipun ia tidak melihat ke arah Fajar, tapi gesture tubuhnya tidak bisa dielakkan lagi jika ia sangat malu ketika berhadapan dengan mantan kakak iparnya itu. Sementara itu, Fajar terlihat serius dan ia pun mulai bersuara.


"Kenapa kamu gugup seperti itu? Kita tidak sedang interview kok!" seru Fajar membuka suara.


"Aku, gugup? Siapa bilang, aku nggak gugup kok," balas Laila menampik.

__ADS_1


"Nggak gugup, tapi kenapa kamu tidak berani menatapku?" sahut Fajar menggoda.


"Emm ... bukannya dua orang yang bukan mahram dilarang memandang terlalu dekat, ya! Takutnya ada syaitan yang menggoda, lagipula Mas Fajar sudah memiliki Bulan. Jadi, aku tidak mungkin terlalu dekat dengan kamu," ucap Laila sembari terus menundukkan wajahnya.


Fajar tertawa kecil, "Jadi, misalnya aku tidak ada Bulan, kamu mau aku dekati?" pertanyaan Fajar tentu saja membuat Laila terpaksa menatap mata sang mantan kakak ipar.


"Apa maksudmu, Mas? Bukankah kalian ada cemistri, si Bulan sepertinya juga sangat mencintaimu, aku doakan semoga kalian berdua bahagia dan kamu bisa melupakan Mbak Ratna dengan segera," ucap Laila sembari tersenyum paksa.


"Karena hanya ada satu gadis yang bisa membuatku lupa dengan Ratna, dan itu bukan Bulan," ungkap Fajar sembari tersenyum.


"Kalau bukan Bulan kenapa kamu beri harapan untuknya, dan untuk apa kamu memintaku untuk menilai apa dan bagaimana si Bulan. Daripada buang-buang waktu lebih baik kamu tidak usah ajak aku datang ke sini, lagipula juga bukan urusanku kamu menikah dengan Bulan, Bintang, Meteor atau Komet sekalian aku tidak perduli," jawab Laila yang terlihat sekali jika gadis itu sedang cemburu.

__ADS_1


Hingga akhirnya Laila dikejutkan dengan sebuah kalimat yang keluar dari mulut Fajar yang tiba-tiba membuat Laila melongo.


"Aku cinta kamu, Laila. Maukah kamu menikah denganku?" kata-kata itu benar-benar tulus terucap dari bibir seorang Fajar. Tanpa basa-basi lagi ia langsung menyatakan cintanya kepada Laila, ia tidak ingin menunggu lama-lama lagi untuk mu memendam perasaannya kepada gadis itu.


'Deg'


"Apa maksudmu, Mas? Kamu bercanda lagi, ya?" ucap Laila sembari tersenyum paksa.


"Apa aku kelihatan seperti bercanda? Kamu tahu Laila! Disaat kamu pergi dan memblokir nomorku, disaat itu juga aku sangat bersedih, apakah aku akan kehilanganmu, aku memang kecewa dengan Ratna, aku membencinya, aku tidak menyangka jika dia bisa securang itu. Tapi, apakah aku patut membenci adiknya juga? Tidak Laila. Justru, semakin aku menjauh darimu semakin aku teringat akan dirimu. Pada akhirnya, Allah mempertemukan kita lagi di tempat yang sama, itu artinya Allah sudah mengatur semuanya. Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Apa kamu percaya itu? Tidakkah kamu merasa seperti itu?"


Fajar berkata dengan penuh kelembutan, pria yang awalnya membuat Laila kesal karena ulahnya yang sudah membawa Bulan. Kini, perlahan Laila bisa memahami tentang dirinya dan juga Fajar.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2