
Dokter pun tiba di kediaman Fajar, sang asisten segera mempersilahkan sang dokter untuk menemui sang Bos di kamarnya. Sementara itu, Fajar tidak habis pikir, bagaimana bisa Mama dan asistennya kompak untuk mempercepat pernikahan mereka.
"Ini benar-benar di luar prediksi BMKG, di luar nurul, aku herman sama Pak Joko dan Mama, bisa-bisanya mereka memaksaku untuk menikah dengan Laila sekarang, mana nggak ada persiapan, belum beli cincin, belum pergi nyalon, apalagi aku belum si kribo. Khawatir Laila ketakutan dan lari terbirit-birit, aduh!" ucap Fajar sambil memijit pelipisnya.
Hingga akhirnya, datang asisten Joko dengan dokter keluarga yang sudah dipanggil oleh asisten Joko.
Dokter Hasan, datang untuk mengobati luka di telapak tangan Fajar. Pria paruh baya itu melihat Fajar yang kelihatan panik.
"Selamat malam Pak Fajar!"
"Selamat malam, Dok. Silakan duduk!" Fajar pun berbaring di atas ranjang tidurnya dengan sang dokter yang mulai memeriksa luka di tangannya.
Untuk sejenak, dokter meraba tangan Fajar yang terasa sedingin es, seolah pria itu tampak sedang gugup.
"Hmm ... luka Pak Fajar cukup serius, sayatan ini cukup lebar dan dalam. Tapi, saya lihat sudah menutup dengan baik lukanya, darahnya pun sudah berhenti. Ini sebuah keajaiban, luka ini biasanya cukup lama sembuhnya, tapi ini seperti magic, cepat sekali keringnya, untuk saat ini usahakan jangan dikenakan air dulu, takutnya lukanya ikut basah dan proses pemulihannya menjadi lama, pak Fajar bisa mengganti wudlu dengan tayammum karena kondisi darurat, nanti setelah luka itu benar-benar kering, pak Fajar bisa berwudhu seperti biasa, apa Pak Fajar sebelumnya memberikan sesuatu?" tanya sang dokter yang sudah memeriksa kondisi luka Fajar yang mulai mengering.
__ADS_1
Fajar pun mengulas senyum di bibirnya, ia kemudian menjelaskan jika Laila sudah membalut luka itu dengan sapu tangan miliknya.
"Laila? Siapa Laila?" tanya dokter yang masih belum tahu siapa sosok Laila.
Pertanyaan dokter langsung di jawab oleh asisten Joko. "Laila itu sekretaris Pak Fajar, Dok! Tapi sekarang dia akan menjadi Nyonya Fajar. Setelah ini Dokter jangan pulang dulu ya, karena Pak Fajar dan Mbak Laila mau menikah, Dok!"
Dokter Hasan hanya melongo dan terkejut, pria itu pun tampak masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh asisten Joko.
"Menikah? Pak Fajar menikah?" sahut sang dokter bingung. Ia menatap wajah Fajar dan Asisten Joko secara bergantian.
"Haduh Dokter! Dokter bingung, kan? Tidak usah terkejut seperti itu, Dok! Saya yang lebih terkejut. Ini gara-gara Pak Joko dan Mama yang kebelet pingin nikahin saya dan Laila. Padahal kami butuh persiapan," jawab Fajar.
"Kenapa bisa seperti itu, Pak? Apa Pak Fajar sudah menghamili gadis itu? Kok tiba-tiba saja minta segera menikah!" ucapan Dokter Hasan seketika membuat asisten Joko tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Fajar menepuk jidatnya mendengar ucapan dari dokter Hasan.
"Astaghfirullah, Dokter! Mana mungkin saya melakukan hal sekeji itu. Caranya saja saya tidak tahu, kok bisa-bisanya dokter bilang saya menghamili Laila. Fitnah itu fitnah. Apa wajah saya terlihat mesum sehingga dokter mengira seperti itu?" sahut Fajar yang langsung membuat dokter Hasan meminta maaf.
__ADS_1
"Astaghfirullah aladzim, maaf Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu, saya cuma bercanda. Lupakan! Saya heran saja, kok bisa secepat itu Pak Fajar menikah, padahal selama ini yang saya tahu Pak Fajar belum memiliki calon istri setelah berpisah dengan Bu Ratna," ucap sang dokter sembari menuliskan resep obat untuk Fajar.
Fajar pun tersenyum. "Tidak apa-apa, Dok! Santai saja, saya hanya gugup karena malam ini pastinya saya nggak tidur sendirian, Dok! Aduh, apa dokter punya resep obat supaya bisa menghilangkan perasaan gugup? Saya benar-benar grogi, Dok!"
Mendengar pengakuan dari Fajar, dokter pun langsung menulisnya resep obat tambahan untuk Fajar. "Waduh Pak Fajar ini ada-ada saja, mana ada obat grogi, Pak! Tapi saya akan memberikan resep obat lainnya. Nah, silakan tebus obat ini secepatnya Pak Joko, supaya Pak Fajar segera bisa beroperasi dengan baik, mengingat luka di telapak tangannya itu butuh waktu yang cukup lama untuk kering. Resep obat ini terbilang cukup mahal karena dia akan mempercepat proses penyembuhan pada luka, sehingga Pak Fajar tidak menunggu lama-lama lagi untuk membasahi luka itu, karena tentunya saat mandi Pak Fajar harus ikut membasahi bekas bekas luka itu," ucapan sang dokter membuat Fajar mengernyitkan dahinya.
"Siap, Dok! Saya pasti akan segera menebusnya untuk Pak Fajar. Waahh dokter benar-benar perhatian kepada pak Fajar, tahu aja dokter kalau mereka bakalan jadi pengantin baru," asisten Joko tampaknya mengerti apa maksud sang dokter, lain halnya dengan Fajar yang masih bingung.
"Obat macam apa itu, Dok? Apa hubungannya dengan mandi dan luka kering? Aneh-aneh saja nih dokter, ditanya obat anti grogi malah dikasih resep obat luka kering," sahut Fajar yang masih belum faham maksud sang dokter.
Asisten Joko pun menjelaskan kepada sang Bos apa yang sebenarnya dokter maksudkan.
"Aduh pak Fajar, saya aja udah faham maksud dokter Hasan. Dokter ingin supaya luka di tangan Bapak itu cepat mengering, biar pak Fajar segera bisa mandi besar dan tidak menunda-nunda terlalu lama untuk malam pertama pengantin Anda, begitu! Masa Pak Fajar nggak pingin belah semangka, kata dokter kan lukanya jangan terkena air dulu. Nanti setelah minum obat itu luka Pak Fajar bakalan bertambah kering dan aman terkena air, kalau Pak Fajar masih ingin menundanya ya nggak apa-apa terserah Anda!" bisik asisten Joko yang akhirnya Fajar mengerti.
"Oh begitu, ya! Ya sudah ngapain Pak Joko di sini, udah beli sana, biar lukanya cepat sembuh!" ucap Fajar yang pada akhirnya membuat Pak Joko menghela nafas panjang. Sementara itu dokter Hasan hanya bisa tertawa kecil mendengar ucapan dari Fajar.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...