Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Bisik-bisik


__ADS_3

Baik Fajar maupun pak Joko tampak saling menatap. Ternyata Amir lebih memilih Fira.


Pak Joko segera menghampiri putranya dan berkata. "Kamu yakin pilih dia!"


"Inshallah, Yah. Amir sangat yakin!" jawab pemuda itu sambil menganggukkan kepalanya.


Qia pun sangat gembira. Ia pun membisikkan sesuatu pada telinga sang adik. "Akhirnya, selamat ya adikku! Kali ini kamu akan menikah lebih dulu! Ternyata bukan aku yang ditunjuk oleh Amir. Tapi kamu!"


"Aduh kok bisa jadi gini sih!" balas Fira.


"Udah terima aja. Mungkin kamu memang berjodoh sama dia. Bukannya Amir itu sesuai dengan spesifik cowok idaman kamu. Dia lebih dewasa, katanya kamu nggak suka cowok pecicilan. Kamu sendiri sudah pecicilan. Tuh Amir orangnya pendiam dan penuh misteri. Enak kan nggak usah susah-susah cari jodoh lagi. Pasti Abi bakalan setuju," ucap Qia menggoda adiknya.


"Dipikir-pikir iya juga sih! Tapi enggak ah ... aku nggak mau nikah dulu sebelum kakak nikah duluan. Jadi, Kakak harus nikah terlebih dahulu, ya! Baru aku yang nyusul nikah." sahut Fira.


"Loh kok gitu! Kakak nggak apa-apa kamu nikah duluan! Toh Jodoh kamu udah ada di depan mata. Sedangkan kakak, emangnya kakak mau nikah sama siapa? Kakak nggak mau nikah dulu."


Bisik-bisik kedua gadis itu menggoda Laila untuk mendekati kedua putrinya. Laila berjalan pelan di belakang Fira dan Qia.

__ADS_1


Setelah berada di belakang kedua putrinya. Laila pun mulai memasang telinga untuk mendengar apa yang sedang dirumpikan oleh kedua gadis itu.


"Idihh kakak jangan pura-pura deh. Tuh gimana dengan Adam, dia tuh sebenarnya suka sama kakak. Beneran deh, aku nggak bohong. Aku tahu betul bagaimana Adam. Dia diam-diam naksir sama Kakak. Dan aku rasa Kakak juga suka kan sama dia? Ngaku aja deh hayo!"


"Apa sih Fira! Godain banget sih!" Qia terlihat malu-malu.


"Ihh beneran, ngapain aku bohong. Kemarin aja pas di makam. Adam kelihatan girang banget ketemu kakak. Eh pas giliran Abi bilang jika Kakak mau dijodohin, tuh anak langsung keder dan gondok gitu deh kayaknya. Fira yakin banget jika Adam tuh suka sama kakak!"


Tiba-tiba saja terdengar suara deheman seseorang di belakang mereka. Dan benar saja Fira dan Qia membalikkan badannya dan melihat sang Ummi yang sedang berdiri di belakang mereka.


"Ummi!"


Tanpa berkata apapun. Laila tersenyum dan setelah itu ia berjalan ke arah sang suami yang sedang berbicara dengan pak Joko dan Amir.


"Ummi mau kemana?" tanya Qia terkejut.


"Nggak tahu. Apa jangan-jangan Ummi mendengarkan percakapan kita?" sahut Fira.

__ADS_1


"Entahlah, aduh gawat bisa-bisa Ummi bilang sama Abi, kamu sih pakai membicarakan Adam segala!" ucap Qia yang khawatir jika Fajar akan marah.


Sementara itu, Laila segera memanggil suaminya dan berbicara tentang apa yang baru saja Ia dengar dari kedua putrinya.


"Ada yang ingin aku katakan, Mas!" seru Laila kepada sang suami.


Fajar segera meminta izin kepada Pak Joko untuk berbicara sebentar dengan istrinya.


"Ada apa?" tanya Fajar serius.


"Ada satu hal yang harus kamu ketahui!"


Laila segera mengatakan semuanya kepada Fajar. Tentu saja Fajar terlihat begitu terkejut, pria itu mengerutkan keningnya sambil mendengarkan kata-kata sang istri.


Sedangkan di sudut sana. Fira dan Qia terlihat harap-harap cemas. Takut saja jika Abi mereka marah. Karena Fajar terlihat sangat serius mendengarkan ucapan Ummi mereka.


Di sela-sela Qia dan Fira memperhatikan kedua orang tuanya bicara. Tiba-tiba saja mereka melihat kedatangan sebuah keluarga yang baru saja masuk ke dalam restoran yang sama.

__ADS_1


"Loh ... itukan Adam dan ustadz Agung?" seru Fira sambil menunjuk ke arah Adam dan kedua orang tuanya yang sedang memilih tempat duduk.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2