Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Kamu lebih berhak atas diriku


__ADS_3

"Terima kasih banyak, Mas!" ucap Laila kepada sang suami.


"Iya, sekarang berbaringlah dengan tenang, aku akan mencoba membantumu untuk menghilangkan rasa sakit di pergelangan kakimu,"


Fajar tampak mengambil minyak zaitun untuk membantu sang istri membenarkan posisi otot pergelangan kakinya yang terkilir. Pria itu melepaskan pecinya dan duduk di samping Laila sambil memegang kaki Laila yang terkilir.


Untuk sejenak, Laila melarang Fajar untuk menyentuh kakinya. Karena ia malu dan tidak ingin Fajar repot-repot untuk memijitnya.


"Tidak usah, Mas! Biar aku sendiri yang melakukannya, aku nggak enak sama kamu." Laila menahan tangan Fajar sambil menutupi kaki mulusnya dengan gamis miliknya.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang serius. Lagipula aku tidak akan macam-macam, cuma pegang kaki doang, takut amat sih kamu!" sahut Fajar sembari membuka ujung gamis istrinya yang menutupi kedua kaki Laila.


Antara malu dan rasa sakit yang masih mendera pada pergelangan kaki Laila. Laila terpaksa membiarkan sang suami untuk mengobati kakinya. Perlahan, Fajar mengoleskan minyak zaitun itu pada pergelangan kaki Laila, Fajar mencoba mengurut kaki sang istri dengan hati-hati.


"Aww ... hati-hati, Mas!" pekik Laila saat Fajar mulai memijit pergelangan kaki itu.


"Jangan khawatir! Kamu tenang saja. Tidak akan sakit lagi. Aku sudah terbiasa melakukan ini, aku sendiri sering terkilir, dan aku sendiri yang pijitin. Kadang aku suka heran, bagaimana bisa aku melakukan hal seperti ini? Mungkin jika aku jadi tukang pijit, laris manis dan banyak pelanggannya," ucap Fajar yang diiringi tawa Laila.


"Tukang pijit? Ya Allah Mas nggak bisa bayangin kamu jadi tukang pijit," sahut Laila sambil tertawa kecil. Fajar pun ikut tertawa. Hampir sekitar lima belas menit Fajar mengobati kaki istrinya.

__ADS_1


"Bagaimana, apa sekarang masih sakit?" tanya Fajar.


Ajaib, Laila pun tidak merasakan sakit lagi. Ternyata sang suami pandai dalam dunia urut otot, seorang direktur menjadi tukang urut? Wah mungkin baru kali ini ada yang seperti itu.


"Alhamdulillah sekarang udah nggak sakit lagi, terima kasih banyak, Mas!" balas Laila sembari menarik kakinya agar Fajar melepaskannya.


"Em ya sudah, sekarang kamu coba berdiri dan berjalan pelan-pelan!" titah Fajar sambil mengulurkan tangannya kepada sang istri. Laila menatap telapak tangan Fajar yang masih berbalut kain kasa. Untuk sejenak, Laila merasa bersalah karena sudah membuat tangan suaminya terluka gara-gara melindungi dirinya dari Agung.


"Tanganmu masih sakit, Mas?" tanya Laila. Fajar menggelengkan kepalanya.


"Aku minta maaf, karena aku kamu harus mendapatkan luka ini, itu semua salahku!"


"Aku sangat malu padamu, Mas. Aku benci sekali dengan apa yang dilakukan oleh Mas Agung. Dia sudah berani sekali mengambil jilbabku, aku benci sekali dengannya, pokoknya aku benci, aku benci kepada siapapun yang berani sekali melepaskan jilbabku!" Laila terlihat emosi, ada air mata yang menetes dari sudut matanya mengingat kejadian yang pernah menimpanya.


"Sudahlah, aku mengerti perasaanmu. Aku sangat salut denganmu, Laila. Kamu begitu menjaga jati dirimu sebagai seorang muslimah, dari sekian banyak wanita, baru kali ini aku sangat kagum dengan pendirianmu, kamu tidak mudah tergoda dengan tipuan dunia. Banyak di luaran sana wanita dengan fashion yang menggoda, mereka berhijab tapi masih memperlihatkan lekuk tubuhnya, bajunya ketat kesana-kemari, bola basketnya nonjol, ya meskipun mereka berhijab kok aku malah risih ya lihatnya. Mending ngga pakai hijablah kalau seperti itu." Ungkap Fajar sembari mempraktekkan bagaimana bola basket yang menonjol itu.


Spontan Laila tertawa saat Fajar memegang dadanya dengan membentuk bulatan besar. Seolah memberi tahu bagaimana bola basket wanita yang menonjol itu.


"Astaghfirullah, Mas. Kamu tuh ada-ada saja. Masa sampai segitunya sih!" ucap Laila yang tak berhenti tertawa.

__ADS_1


"Emang seperti itu, kan! Lihat aja tuh di sekitar kita, banyak banget wanita berjilbab tapi tidak seperti berjilbab. Kalau menurutku sih lebih baik tidak usah pakai jilbab sekalian, nanggung! Beda dengan kamu, Laila. Kamu tuh perfect, nggak tahu kenapa vibes kamu itu bikin mata adem dan nggak bosan untuk melihatnya, kamu masih terlihat anggun meskipun kamu menutupi tubuhmu dengan sempurna, tidak ketat dan tidak menonjolkan lekuk tubuh. Aku malah lebih penasaran dengan yang seperti itu, pasti di dalamnya tersimpan keindahan yang lebih sempurna, karena terjaga dengan baik dan tentunya tidak ada mata jahat yang melihatnya, itulah kenapa Agung selalu mengejar-ngejar dirimu. Karena pria itu masih penasaran denganmu, Laila!"


Mendengar pengakuan dari Fajar, Laila tertunduk malu, kemudian gadis itu tiba-tiba berucap, "Lantas, bagaimana dengan kamu, Mas?"


Fajar seketika terkejut dan menatap wajah sang istri. "Em ... aku? Tentu saja aku juga sangat penasaran, tapi aku bukan tipe pemaksa seperti pria itu," jawaban Fajar sontak membuat Laila memegang tangan sang suami. Tentu saja Fajar terkejut ketika Laila memegang tangannya.


"Laila!!"


Laila tersenyum kemudian mencium tangan sang suami, setelah itu ia duduk lebih dekat dengan Fajar yang saat itu terpaku melihat apa yang dilakukan oleh istrinya. Fajar masih terdiam dan hanya memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh sang istri.


Fajar memberanikan diri untuk bertanya kepada Laila, karena jantungnya semakin berdebar kencang ketika Laila mendekat kepadanya. "Ada apa?"


"Aku memang sangat menjaga jilbabku, Mas! Bahkan aku rela mati agar jilbabku tidak terlepas dari raga ini. Semua itu aku lakukan karena ini adalah perintah Allah, aku takut diazab kelak jika aku dengan begitu mudahnya mempertontonkan aurat ini.Tapi sekarang, kamu lebih berhak atas diriku, semua yang sudah kututup selama ini, kamulah yang berhak mengetahuinya. Jilbab ini hanya suamiku yang berhak membukanya."


Ucapan Laila tentu saja membuat Fajar terharu, sungguh Allah sudah memberinya seorang bidadari surga, lepas dari bidadari dunia seperti Ratna. Kini Fajar mendapatkan sosok wanita yang lebih segalanya dari Ratna. Wanita shalihah yang menjaga kesuciannya sebagai seorang muslimah.


"Kamu mengizinkan aku membuka jilbabmu?"


"Kenapa tidak? Apa perlu aku sendiri yang membukanya di hadapanmu, Mas?" jawaban Laila seperti air es yang menyiram hati, begitu dingin dan membuat Fajar tersipu-sipu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2