
Spontan Qia menoleh ke belakang saat dirinya merasa ada yang melempar sesuatu pada tubuhnya. Spontan Adam pura-pura melihat ke arah bukunya yang berada di atas meja.
Qia melihat bola kertas yang baru saja mengenai bagian tubuhnya terjatuh di lantai. Sekilas ia memperhatikan mahasiswanya. Tidak ada yang mencurigakan karena para mahasiswa tampak sedang serius mengikuti materi darinya.
Tapi, Qia tidak akan membiarkan kejadian ini terulang lagi, karena ia tahu pasti ada salah satu mahasiswanya yang sengaja melemparkan bulatan kertas itu ke arahnya. Qia mengambil bola kertas itu dan berkata di depan kelas. Karena menurutnya itu adalah sesuatu yang tidak sopan.
"Siapa yang sudah melempar bola kertas ini?" suara Qia seketika membuat semua mahasiswa memperhatikan dirinya yang sedang membawa bulatan kertas.
Fira melongo saat sang kakak membawa bola kertas yang sempat ia lemparkan kepada Adam. "Itu bukannya kertas yang aku lemparkan ke kepala Adam tadi? Kok bisa ada sama kakak?" pikir Fira.
Sementara itu, Adam tampak garuk-garuk kepala ketika bola kertas itu berada di tangan Qia. "Sialan, kenapa bisa kena Bu dosen sih!" Adam tampak gelisah.
"Siapa yang sudah melempar ini ke saya?"
Lagi-lagi Qia terus menanyakan kepada para mahasiswanya. Kali ini Qia bersikap tegas, karena Ia tahu apa yang dilakukan oleh mahasiswa yang sengaja melemparkan bulatan kertas itu memang dirasa kurang sopan.
"Siapa? Saya tanya siapa yang sudah melempar bola kertas ini? Kali ini saya serius, ya. Saya tidak suka ada mahasiswa saya yang melakukan hal seperti ini, siapapun diantara kalian yang tidak mau mengakuinya. Maka saya tidak akan memaafkannya!" ucap Qia dengan wajah seriusnya. Kali ini gadis itu dalam mode serius. Bukan Dosen Qia yang terlihat ramah dan lembut.
"Waduh, Bu dosen marah lagi. Gimana dong? Ngaku nggak, ya? Kalau nggak ngaku bisa-bisa semakin sulit untuk ngedeketin dia." Batin Adam.
Untuk beberapa saat, ruangan terlihat hening. Para mahasiswa tidak ada yang mengakuinya. "Oke, jika tidak ada yang mengaku, jangan salahkan saya jika hidup kalian kelak tidak akan bisa bahagia karena siapapun orangnya, dia belum bisa saya maafkan. Saya memang bisa asyik, bisa santai orangnya, tapi jika ada yang sengaja melakukan hal seperti ini, itu adalah hal yang sangat tidak saya sukai. Jika tidak ada yang mengaku tidak masalah, tapi Allah maha tahu. Ingat, ada Allah yang melihatnya."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Qia pun membuang bulatan kertas itu dan Ia kembali menerangkan materi kuliah. Meskipun dengan wajah yang sedikit kesal. Qia tetap berusaha untuk tenang. Hari pertama mengajar ternyata cukup menguji kesabaran, karena bagaimanapun juga mahasiswa yang ia ajar bukanlah anak SD, usia mahasiswa nya tidak jauh dari umur sang ibu dosen, meskipun usia Qia jauh lebih tua beberapa tahun.
Tiba-tiba saja, Adam berdiri dengan keberanian untuk meminta maaf Adam dan berkata, "Saya yang sudah melakukannya, Bu."
Seketika semua teman-temannya melihat ke arah pemuda itu, tak terkecuali Fira.
"Adam, ternyata dia? Jail banget ya nih anak!" pikir Fira.
Mendengar suara itu, Qia pun segera membalikkan badannya dan melihat Adam yang sedang berdiri. Setelah itu, Adam berjalan menuju ke tempat Qia berada.
Adam melangkahkan kakinya ke hadapan sang ibu dosen untuk meminta maaf. Qia masih terdiam dan hanya memperhatikan langkah kaki Adam yang sedang menuju ke arah dirinya.
Sesampainya di hadapan sang ibu dosen. Spontan Adam bertekuk lutut dan meminta maaf kepada Qia sambil mengatupkan kedua tangannya memohon ampun atas apa yang sudah ia lakukan.
"Halah preet nih anak, mulai deh rayuan gombalnya!" ucap Fira lirih.
Sementara itu Qia merasa tidak enak saat Adam melakukan hal seperti itu. "Jangan lakukan seperti itu, berdirilah!" titah Qia kepada Adam.
"Saya tidak akan berdiri sebelum ibu memaafkan saya!" balas Adam yang masih berada dalam posisi berlutut.
"Iya iya saya maafkan kamu, kamu tidak usah melakukan hal seperti ini, apa-apaan sih kamu. Tidak sepatutnya manusia berlutut di depan manusia!" seru Qia sambil mengangkat pundak Adam.
__ADS_1
Posisi Qia yang begitu dekat dengan Adam, membuat pemuda itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menatap wajah sang ibu dosen dari dekat.
"Aje gile nih cewek, seger banget mukanya anjay! Udah gitu wanginya Mashaallah, lembut bin kalem, hatiku mulai nggak aman nih, aw aw aw deg-degan euy!" batin Adam saat dirinya menatap wajah Qia secara dekat.
Qia sendiri tampak malu-malu dan memalingkan wajahnya. Setelah Adam berdiri, pemuda itu pun berterima kasih kepada sang Bu dosen.
"Terimakasih banyak Bu Qia sudah memaafkan saya, Bu Qia benar-benar wanita yang berhati malaikat, benar-benar calon bidadari hatiku!" ucapan Adam seketika membuat Qia membulatkan matanya ketika kata-kata terakhir Adam terdengar agak lain di telinga.
"Hah apa katamu?"
Spontan Adam terkesiap dan cengar-cengir karena Ia keceplosan mengatakan hal demikian.
"Hehehe apa, Bu? Saya ngomong apa tadi? Eh maksud saya tadi, Bu Qia ini memiliki hati bak bidadari karena telah sudi memaafkan kesalahan saya yang sangat memalukan itu, iya begitu maksud saya, Bu!" sahut Adam sambil tersenyum.
Qia pun ikut tersenyum dan mempersilahkan Adam untuk duduk kembali.
"Iya sama-sama, saya suka dengan keberanianmu meminta maaf, lain kali jangan ulangi lagi, sekarang silakan kembali ke tempat duduk!" ucap Qia.
"Siap, Bu dosen cantik!" jawaban spontan Adam memaksa Qia membulatkan matanya lagi.
"Ehee maaf Bu, nih mulut nggak bisa direm jika nih mata melihat sesuatu yang menakjubkan, Allah benar-benar maha pencipta yang sangat luar biasa, maha karyanya begitu indah tiada tandingannya, karena Dia telah menciptakan seorang makhluk secantik Anda. Tidak ada salahnya kan saya mengagumi ciptaan Allah yang cantik ini?" ucapan pemuda itu seketika membuat pipi Qia bersemu merah.
__ADS_1
Lain halnya dengan Fira yang melihat teman somplak nya itu sedang merayu. "Allah ya Karim, nih anak punya jurus banyak banget buat merayu. By the way kali ini tumben rayuannya dengan menyebut nama Allah, biasanya hei kamu cantik sekali, kamu seksi, kamu sangat mempesona, bikin aku mimisan deh, kamu itu bla bla bla sampai kenyang denger dia ngegombal. Hadeh sekarang di-update rayuan gombalnya, apa karena yang dirayu itu adalah Kakak?" pikir Fira.
...BERSAMBUNG ...