
Di sisi lain, Fajar akhirnya tiba di kediamannya. Hari mulai malam, apalagi mereka baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan dari Agung. Asisten Joko yang masih mengkhawatirkan kondisi tangan sang Bos, pria itu pun memutuskan untuk menghubungi dokter keluarga yang biasa merawat keluarga Fajar untuk segera datang ke rumah, karena pastinya Fajar akan menolak untuk pergi ke rumah sakit.
Fajar turun dari mobil bersama dengan Laila. Gadis itu masih terlihat canggung, sejenak Laila memperhatikan sekeliling, sungguh kediaman Fajar sangatlah megah, ia tidak menyangka jika Fajar tinggal di sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit. Selamat ini Laila tidak pernah tahu di mana Fajar tinggal, meskipun dulu mereka sempat menjadi saudara ipar.
Pantas saja Ratna berambisi mengejar-ngejar Fajar, Ratna tahu karena Fajar adalah pewaris tunggal keluarga kaya raya itu.
Fajar berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Laila yang berjalan di belakangnya, Laila tampak gugup, ia takut jika mamanya Fajar tidak suka kepadanya.
Pintu rumah terbuka dengan sendirinya, Fajar masuk ke dalam dan sejenak ia berhenti. Fajar menoleh ke belakang, dilihatnya Laila yang sedang berdiri dengan ekspresi wajah sang sangat canggung.
"Ayo masuk! Kita akan menemui Mama," seru Fajar sambil tersenyum.
"Aku takut, Mas!" sahut Laila.
"Takut? Kenapa kamu takut? Di rumah ini tidak ada hantunya, jadi nggak usah takut!" balas Fajar.
"Bukan itu, Mas! Aku takut jika Mama kamu tidak suka, karena aku adalah adiknya Mbak Ratna, aku khawatir Mama kamu mempermasalahkan hubungan kita, lebih baik aku pulang aja deh!" Laila sangat khawatir jika Mama Ida tidak menyukai kehadirannya. Karena bagaimanapun juga Laila adalah adik kandung dari Ratna, mantan menantunya.
"Sudah, kamu tenang saja, Mama tidak seperti itu, beliau pasti senang melihatmu di sini, percayalah!" Fajar menarik lengan Laila dan membawanya masuk ke dalam rumah megah itu.
Rupanya, Laila benar-benar gugup, ia pun terlihat panik dan terasa berat saat berjalan. Fajar pun menoleh ke belakang dan melihat ekspresi wajah Laila yang sedang meringis.
"Kamu kenapa?" tanya Fajar.
"A-aku kebelet pipis, Mas! Aku minta izin ke kamar kecil dulu, boleh?" pinta Laila memelas.
"Ya sudah, kamu ke kamar mandi dulu, nanti biar pelayan yang menemanimu. Pelayan!" ucap Fajar sembari memanggil salah seorang pelayan. Namun, siapa sangka pelayan yang dipanggil oleh Fajar adalah Bibi, mantan asisten rumah tangga Ratna.
__ADS_1
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu!" jawab Bibi dengan menundukkan kepalanya.
Tentu saja Laila dan Fajar sangat terkejut saat melihat kedatangan Bibi.
"Loh, Bibi ada di sini?" tanya Laila yang tidak menyangka bisa bertemu dengan Bibi. Sama halnya dengan Fajar. Fajar sangat mengenali sosok asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumah Ratna, ia pun juga terkejut ternyata Bibi bekerja di rumahnya.
"MasyaAllah Bibi, Bibi bekerja di rumah kami? Kenapa aku tidak tahu, apa mungkin karena aku terlalu sering pulang malam? Jadi aku tidak tahu kalau Bibi bekerja di sini," sahut Fajar yang juga tidak menyangkanya.
Begitu juga dengan Bibi, wanita paruh baya itu juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Laila dan Fajar. Bibi baru bekerja beberapa hari di rumah Fajar. Tugas Bibi adalah memasak, sehingga ia tidak tahu menahun jika majikannya adalah mamanya Fajar.
Fajar berangkat pagi sekali sebelum Bibi datang, Fajar sering sarapan di kantor, tugasnya yang banyak memaksa Fajar sering makan pagi di kantor, dan pulang sangat malam, sehingga Fajar tidak sempat melihat asisten rumah tangga yang baru bekerja di rumahnya. Karena Fajar mempercayakan masalah itu kepada sang Mama.
"Ya Allah Mbak Laila, Pak Fajar. Bibi sangat senang sekali bisa bertemu kalian berdua di sini, dan saya tidak menyangka jika Bibi bekerja di rumah Pak Fajar, ya Allah! Kalian berdua memang ditakdirkan berjodoh. Ternyata selama ini saya sudah bertemu dengan orang baik, Nyonya Ida memang wanita yang baik, pantas saja Pak Fajar memiliki hati yang penyabar dan penyayang. Bibi sudah bilang kan! Mbak Laila pasti akan mendapatkan jodoh di kota ini, MasyaAllah Bibi girang banget, dan jodoh Mbak Laila bukanlah orang jauh," ucap Bibi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa Bibi bisa berkata seperti itu? Bibi sangat yakin sekali jika aku dan Mas Fajar berjodoh!" sahut Laila, seolah Bibi sangat yakin jika Laila pasti berjodoh dengan Fajar. Spontan Bibi terhenyak dan menatap mereka berdua secara bergantian.
Spontan Laila merangkul Bibi dan berkata, "Bibi jangan sedih, jika Bibi sedih Laila juga ikut sedih. Bibi sudah Laila anggap seperti Mama Laila."
Fajar pun mendekati Bibi dan berkata kepada wanita itu, "Bibi tidak perlu khawatir, apa yang dikatakan oleh Bibi itu benar. Aku akan menikahi Laila secepatnya, tidak perlu lama untuk menghalalkan gadis shalihah ini." Ucapan Fajar spontan membuat Bibi menangis terharu. Wanita itu memeluk Laila dan ikut bahagia.
"Alhamdulillah ya, Allah! Allah itu maha adil untuk kalian berdua, Bibi hanya bisa berdoa semoga Mbak Laila dan Pak Fajar dijauhkan dari segala marabahaya dan cinta kalian bisa abadi dalam keridhaan Nya," ucap wanita itu sembari menitikkan air matanya.
"Aamiin Allahhumma Aamiin!" sahut keduanya secara bersamaan. Asisten Joko pun ikut terharu menyaksikan akhirnya sang Bos menemukan cinta sejatinya.
Di saat yang bersamaan, datang Mama Ida yang seketika mengejutkan mereka semua.
"Ada apa ini, Fajar!" seru Mama Ida yang belum mengetahui jika Laila ada di ruangan itu. Karena Laila tertutup oleh badan Fajar sehingga Mama Ida tidak tahu jika Laila, calon menantu idamannya berada di sana.
__ADS_1
Fajar menoleh ke arah sang Mama, begitu juga dengan Laila yang langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Mama!" seru Fajar saat melihat ekspresi wajah sang Mama yang terlihat diam tanpa makna.
"Ya Allah! Itu Mamanya Mas Fajar? Aku takut sekali, bagaimana kalau Mamanya Mas Fajar marah melihatku di sini?" Laila membatin sembari menatap wajah Mama dengan gugup.
Mama Ida melihat wajah seorang gadis yang selama ini sangat ia impikan untuk menjadi menantunya, sejak dulu Mama Ida lebih menyukai Laila daripada Ratna. Entah kenapa Mama Ida seperti itu, ia merasa jika Laila pasti akan menjadi istri yang baik untuk putranya.
Mama Ida mulai melangkahkan kakinya, Laila semakin deg-degan dan mulai tak tenang, sementara itu Bibi berusaha untuk menenangkan Laila agar bersikap tenang.
"Mbak Laila tidak usah tegang, Nyonya Ida dia tuh baiiiikkk banget! Pasti Mbak Laila bakalan jadi mantu kesayangannya," bisik Bibi pada telinga Laila.
"Laila cuma gugup aja, Bi! Takut kalau nantinya beliau masih teringat akan apa yang dilakukan oleh Mbak Ratna kepada Mas Fajar," balas Laila.
Fajar menghampiri sang Mama dan berniat untuk mengatakannya kepada Mama Ida.
"Mama ...!" seru Fajar kepada sang Mama.
"Minggir!" balas Mama Ida sembari menepis tangan sang anak yang hendak memperkenalkannya dengan Laila. Sontak Fajar bingung dengan sikap Mamanya, bukankah itu adalah hal yang sangat dinantikannya selama ini, yaitu membawa Laila sebagai menantunya.
"Kenapa Mama jadi aneh banget?" batin Fajar sembari memperhatikan ekspresi wajah sang Mama.
Setibanya di depan Laila, Mama Ida masih bersikap dingin dengan melihat Laila dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tentu saja Laila sangat takut karena ekspresi wajah Mama Ida layaknya guru BP yang sedang melihat anak didiknya melakukan pelanggaran. Ia pun berusaha untuk mengulurkan tangan guna mencium tangan sang calon mertua.
Tapi, tanpa hujan tanpa angin, belum sempat Laila mencium tangan Mama Ida. Mama Ida langsung memeluk Laila dengan bahagia, dengan terucap dari bibir Mama Ida, "Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Nak! Bukan hanya dalam foto saja, ternyata kamu lebih cantik dari aslinya."
Melihat pemandangan itu, ekspresi wajah tegang Fajar langsung mencair bak lelehan es batu yang terkena panas.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...