Fajar Untuk Laila

Fajar Untuk Laila
Apa dia marah


__ADS_3

"Jodoh? Iya, aku percaya itu. Maut, rejeki dan jodoh adalah rahasia Nya. Tapi, kita belum tentu berjodoh, mungkin cuma kebetulan saja. Apa hanya karena kita sama-sama bertemu di kota ini, lantas kamu menyimpulkan kalau kita berjodoh? Bagaimana dengan nasib Bulan? Aneh aja, kamu mengatakan kepadaku jika kamu sudah mendapatkan calon pengganti Mbak Ratna, terus kamu memintaku untuk menilai apakah Bulan itu cocok untuk kamu. Sekarang, tiba-tiba kamu menyatakan cinta kepadaku, ayolah Mas! Ini nggak lucu, aku tidak percaya." Ucap Laila sambil beranjak pergi untuk kembali ke kantor.


"Tunggu, Laila! Kamu mau kemana?" seru Fajar sambil ikut berdiri.


"Aku mau kembali ke kantor, lanjutkan saja makan siang mu bersama Bulan, aku tidak akan mengganggu kalian!"


Setelah mengatakan hal itu, Laila segera pergi meninggalkan Fajar yang terlihat kesal, betapa susahnya menaklukkan hati gadis itu, tidak semudah yang ia pikirkan.


"Kenapa susah sekali membuat hati Laila luluh, tidak semudah yang aku pikirkan, aku tidak boleh menyerah, aku harus berusaha untuk mendapatkannya," ucap Fajar dengan tatapannya yang tajam. Fajar segera menelpon asisten Joko untuk menghadang Laila pergi, agar gadis itu tetap kembali ke kantor bersama dirinya.


Laila berjalan menuju keluar restoran. Namun, tiba-tiba saja ia bertemu dengan asisten Joko.


"Loh Mbak Laila mau kemana?" tanya asisten Joko.


"Saya mau kembali ke kantor, Pak!" balas Laila sembari terus berjalan ke arah jalan raya.

__ADS_1


"Mbak Laila mau kemana?" tanya asisten Joko lagi.


"Ya cari taksi lah, Pak!" sahut Laila.


"Kenapa nggak bareng kita aja, nunggu taksi di sini cukup lama, Mbak! Keburu kering, mana udah hampir jam satu, Mbak Laila mau masuk terlambat, lagipula Pak Fajar sebentar lagi juga mau balik ke kantor, ada rapat mendadak dengan Pak Cheng," seru asisten Joko agar Laila tidak pergi sendiri.


"Bukannya Pak Fajar masih melanjutkan makan siang bersama si Bulan itu, ya udahlah ngapain juga saya ikut nimbrung," ucap Laila yang terlihat sedikit kesal.


Tiba-tiba saja Fajar datang dan sudah berdiri di belakang Laila.


"Sudah, jangan banyak bicara. Ayo masuk! Kamu sekretarisku, dan kamu harus selalu ada bersamaku, setelah ini kita ada rapat dengan klien, aku tidak mau terlambat gara-gara kamu," ucap Fajar yang kini terdengar begitu tegas. Sangat berbeda saat ia berkata kepada Laila di dalam restoran tadi.


Kali ini Fajar memang terlihat berbeda, tidak seperti tadi yang terlihat begitu humble. Fajar sengaja melakukan itu untuk membuat Laila penasaran.


Benar saja, sikap Fajar yang tiba-tiba berubah membuat Laila tanda tanya.

__ADS_1


"Kenapa Mas Fajar jadi pendiam gitu? Apa dia marah dengan kata-kataku?" pikir Laila yang juga mulai panik. Laila memang kesal kepada Fajar. Tapi, dia juga lebih kesal jika Fajar bersikap dingin.


Sesekali Laila melihat ke arah Fajar yang saat itu tampak sedang memakai kacamata hitam dengan pandangan lurus ke depan, terlihat wajah maskulinnya yang sangat tampan. Untuk sejenak, Laila tersenyum, bukan hanya wajahnya yang tampan. Fajar juga membuat Laila kagum dengan sosok pria yang sebenarnya ia sangat lembut memperlakukan seorang wanita. Terbukti saat Fajar membersihkan wajah Bulan tadi, dan itulah yang membuat Laila cemburu dan tidak suka Fajar melakukannya kepada wanita lain.


"Egois ngga sih aku ini? Ya Allah kenapa perasaanku menjadi tak karuan seperti ini. Benarkah Mas Fajar marah?"


Sesampainya di depan kantor, Fajar segera turun dari mobil. Begitu juga dengan Laila. Seperti biasa Fajar mempersilakan wanita untuk berjalan terlebih dahulu.


Laila berjalan di depan Fajar, sementara itu asisten Joko berjalan di belakang sang Bos. Merasa diikuti oleh Fajar, Laila berjalan sedikit gugup, hingga akhirnya ia tak sengaja tersandung saat menaiki tangga.


Spontan Fajar menahan tangan Laila agar gadis itu tidak terjatuh. Laila seketika berpegangan pada tubuh Fajar dan akhirnya mereka berdua saling menatap.


"Aduuh!"


'Deg'

__ADS_1


Tatapan mata mereka saling bertemu, Fajar yang saat itu masih menggunakan kacamata, ia pun membuka kacamata yang ia kenakan.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2